JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyoroti kondisi ekonomi Iran di tengah tekanan sanksi, tetapi Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf justru membalik serangan tersebut.
Teheran membalas AS dengan menyinggung persoalan kelaparan, kemiskinan, dan biaya hidup di Amerika Serikat sembari memelesetkan slogan terkenal Trump menjadi 'Make America Hungry Again'.
Balasan itu muncul setelah Trump membagikan potongan pernyataan Ghalibaf yang membahas kondisi ekonomi Iran. Trump menggunakan pernyataan tersebut untuk menggambarkan Iran sebagai negara yang berada dalam tekanan berat akibat kebijakan ekonomi dan sanksi Amerika Serikat.
Namun, Ghalibaf tidak tinggal diam. Ia memilih menyerang balik dengan mengangkat persoalan ekonomi yang juga dihadapi masyarakat Amerika.
Dalam unggahan di media sosial, Ghalibaf mengubah slogan kampanye Trump, 'Make America Great Again', menjadi 'Make America Hungry Again'.
Ia juga membagikan gambar yang menyebut sekitar 47 juta orang di Amerika Serikat menghadapi masalah kelaparan. Klaim tersebut turut menyebut sekitar 16 juta anak-anak Amerika terdampak kemiskinan dan krisis biaya hidup.
Ghalibaf menekankan bahwa Trump tidak akan mampu menutupi apa yang disebutnya sebagai kekalahan, hanya dengan menyampaikan klaim yang tidak benar.
Serangan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana Teheran berusaha mengubah arah narasi. Ketika Washington menyoroti tekanan ekonomi terhadap Iran, Iran justru mengingatkan bahwa Amerika Serikat sendiri menghadapi persoalan kemiskinan dan tingginya biaya hidup.
Polemik bermula ketika Trump membagikan potongan video pernyataan Ghalibaf dalam pertemuan dengan pengusaha Iran dan Irak.
Dalam potongan tersebut, Ghalibaf mengatakan, 'Kami lapar dan kami tidak memiliki kemampuan untuk melawan'.
Kalimat itu kemudian menjadi dasar narasi bahwa Iran sedang menghadapi kondisi kelaparan dan tidak mampu bertahan di tengah tekanan Amerika Serikat.
Namun, media Iran memberikan konteks berbeda mengenai pernyataan tersebut. Ghalibaf disebut tidak sedang mengatakan bahwa rakyat Iran saat ini berada dalam kondisi kelaparan.
Pernyataannya lebih diarahkan pada pentingnya memperkuat perekonomian Iran agar negara tersebut memiliki daya tahan menghadapi tekanan dari luar.
Menurut Ghalibaf, kekuatan ekonomi dan keamanan harus dijaga secara bersamaan. Ia juga menilai Amerika Serikat telah gagal secara militer dan kini menggunakan perang psikologis serta tekanan ekonomi untuk menghadapi Iran.
Iran Bantah Ekonominya Tak Mampu Bertahan
Pemerintah Iran juga berusaha menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak membuat negaranya kehilangan kemampuan untuk bertahan.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, mengatakan Iran tetap dapat menjalin hubungan ekonomi dengan negara lain.
"Kita dapat dengan mudah menjalin hubungan ekonomi dengan negara-negara. Tidak ada kekhawatiran mengenai situasi ekonomi," kata Mohebbi, menurut penyiar negara Iran IRIB.
Pernyataan itu menjadi bagian dari pesan Teheran bahwa sanksi ekonomi Amerika Serikat tidak otomatis membuat Iran terisolasi atau kehilangan kemampuan untuk menjalankan aktivitas ekonominya.
Bagi Iran, persoalan ekonomi kini juga menjadi bagian dari pertarungan narasi. Teheran berusaha menunjukkan bahwa dampak tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan Iran, tetapi Amerika Serikat juga memiliki persoalan domestik yang dapat dipersoalkan.
Perseteruan tersebut tidak berhenti pada perang narasi ekonomi. Mohebbi mengatakan kemampuan rudal Iran masih tetap terjaga.
Ia memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur Iran akan dibalas dengan serangan berat terhadap titik-titik strategis energi dan kepentingan vital Amerika Serikat.
Ia juga mengatakan produksi rudal Iran masih berlangsung. Menurut Mohebbi, rencana Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Teheran justru merupakan 'implicit admission' atau pengakuan tersirat atas kegagalan Washington di medan militer.
"Pencapaian terpenting dari perang ini adalah mentransfer kerentanan ke infrastruktur vital musuh dan pusat-pusat afiliasinya," ujarnya.
Mohebbi juga memperingatkan Amerika Serikat agar mempertimbangkan konsekuensi jika ancaman terhadap infrastruktur Iran benar-benar dilaksanakan.