JawaPos.com - Iran menilai rencana Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ekonomi paling berat terhadap Teheran tidak akan berhasil, dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghci menyebut Washington berulang kali menggunakan tekanan ekonomi namun gagal memaksa Iran menyerah.
Hal tersebut disampaikan Araghchi melalui unggahan di akun X-nya. Araghci menilai rencana sanksi baru Washington hanya akan mengulang pola tekanan yang sebelumnya dianggap gagal.
Pernyataan itu disampaikan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington tengah menyiapkan sanksi paling berat yang pernah dijatuhkan terhadap Iran.
Kebijakan tersebut disebut ditujukan untuk melumpuhkan perekonomian Iran, membatasi perdagangan luar negeri, sekaligus menekan para pemimpinnya agar mengakhiri perang tanpa perlu memperluas operasi militer AS.
Bessent mengatakan rincian paket sanksi tersebut akan diumumkan pada Senin. Ia menggambarkannya sebagai sanksi paling keras dalam sejarah.
Namun, bagi Araghci, ancaman tersebut bukan sesuatu yang baru.
Araghci mengingatkan bahwa Washington telah menggunakan berbagai bentuk tekanan terhadap Iran selama bertahun-tahun. Menurutnya, istilah yang digunakan Amerika Serikat memang berubah, tetapi tujuan dan hasilnya tetap sama.
"14 tahun yang lalu: 'Sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah.' Gagal," kata Araghchi.
8 tahun yang lalu: 'Tekanan maksimum.' Gagal. 5 bulan yang lalu: 'Penyerahan tanpa syarat.' Gagal.bToday: 'Operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah ada.' Pasti akan gagal. Kita sudah pernah menonton film ini sebelumnya. Banteng yang sama. Para pengganggu yang berbeda," lanjut Araghci.
Jika diterjemahkan secara garis besar, Araghci menilai Amerika Serikat telah berulang kali menyebut sanksinya sebagai yang paling menghancurkan, tetapi tekanan tersebut belum berhasil mencapai tujuan politik Washington terhadap Iran.
Araghci Ungkit Era Obama dan Biden
Untuk memperkuat argumennya, Araghci juga mengunggah tangkapan layar pernyataan mantan Presiden AS Barack Obama pada 12 Oktober 2012.
Dalam unggahan tersebut, Obama mengutip Wakil Presiden AS saat itu, Joe Biden, yang menggambarkan sanksi terhadap Iran sebagai "sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah sanksi."
Araghci menggunakan pernyataan lama tersebut sebagai pembanding dengan ancaman sanksi terbaru dari pemerintahan AS.
Pesannya jelas: Iran melihat kebijakan tekanan ekonomi Washington bukan sebagai strategi baru, melainkan bagian dari pola panjang yang sudah mereka hadapi.
Di sisi lain, Washington tampaknya ingin meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui jalur ekonomi.
Bessent mengatakan paket sanksi terbaru akan diarahkan untuk mempersempit ruang gerak ekonomi Iran. Langkah tersebut mencakup upaya membatasi perdagangan luar negeri dan meningkatkan tekanan terhadap kepemimpinan Iran.
Kebijakan itu juga menjadi bagian dari upaya AS mendorong Iran mengakhiri perang tanpa memperluas keterlibatan militer Amerika Serikat.
Rincian mengenai sektor, perusahaan, transaksi, atau jaringan perdagangan yang akan menjadi sasaran baru akan menjadi perhatian utama ketika pemerintah AS mengumumkannya.
Perlu diketahui juga, perseteruan mengenai sanksi Iran tidak hanya berdampak pada hubungan Washington dan Teheran. Jika sanksi baru benar-benar mengganggu perdagangan dan ekspor Iran secara signifikan, dampaknya berpotensi menjalar ke pasar energi dan perdagangan internasional.
Iran merupakan salah satu pemain penting di pasar minyak dunia. Karena itu, setiap kebijakan yang menghambat ekspor energi Iran berpotensi memengaruhi pasokan, harga minyak, biaya transportasi, hingga tekanan inflasi di berbagai negara.
Pada saat yang sama, keberhasilan sanksi juga akan bergantung pada kemampuan Iran mempertahankan jalur perdagangan dan menemukan pasar alternatif.
Dengan ancaman terbaru Washington dan penolakan keras dari Teheran, perang tekanan ekonomi antara kedua negara pun kembali memasuki babak baru. Bagi Araghci, nama kebijakannya boleh berubah, tetapi hasil akhirnya diyakini akan tetap sama: gagal memaksa Iran menyerah.