JawaPos.com - Gempa di Prefektur Kumamoto, Jepang, memicu sekitar 174.000 pembatalan pemesanan hotel dan ryokan di enam prefektur lain di Kyushu. Banyak di antaranya berada di daerah yang tidak mengalami kerusakan besar akibat gempa.
Pembatalan tersebut terjadi setelah gempa berkekuatan 7,1 mengguncang Kumamoto pada 28 Juli. Selain gangguan transportasi, sejumlah pejabat pariwisata menilai pembatalan juga dipicu kekhawatiran wisatawan terhadap kondisi seluruh wilayah Kyushu.
Beberapa daerah bahkan mengalami pembatalan meski berada jauh dari pusat bencana. Kawasan Aso di Kumamoto, yang merupakan salah satu destinasi populer, juga mengalami lonjakan pembatalan.
Data yang dihimpun Kyodo menunjukkan Kagoshima mencatat pembatalan terbanyak di luar Kumamoto, yakni 111.749 pemesanan hingga 7 Agustus.
Angka tersebut sebagian dipengaruhi gangguan pada Jalan Tol Kyushu dan layanan kereta cepat Kyushu Shinkansen yang menghubungkan Kumamoto dan Kagoshima. Paket wisata yang biasanya mencakup kedua wilayah tersebut juga diduga ikut meningkatkan jumlah pembatalan di Kagoshima, meski kerusakan di wilayah itu relatif kecil.
Fukuoka berada di urutan berikutnya dengan sekitar 28.000 pembatalan hingga Senin. Setelah itu, Nagasaki mencatat 14.259 pembatalan hingga 7 Agustus, Miyazaki 11.357 hingga 10 Agustus, Oita 7.810 hingga 12 Agustus, dan Saga 1.820 hingga Selasa.
Di luar Kumamoto, nilai pemesanan yang dibatalkan mencapai sekitar JPY 670 juta (setara Rp74,37 miliar, kurs 1 JPY = Rp111). Angka tersebut belum mencakup Miyazaki dan Kagoshima karena kedua prefektur tidak menyediakan data nilai pembatalan.
Sementara itu, Kumamoto sendiri mencatat 146.470 pembatalan dengan nilai sekitar JPY 2,06 miliar (setara Rp228,66 miliar) hingga 6 Agustus.
Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar. Data tersebut dikumpulkan dari asosiasi hotel dan ryokan di masing-masing prefektur, tetapi beberapa asosiasi hanya memiliki data dari sekitar 20 hingga 30 persen anggotanya. Sebagian penginapan juga tidak tergabung dalam asosiasi.
Pejabat industri pariwisata di Oita dan Nagasaki mengatakan sebagian wisatawan tampaknya membatalkan perjalanan hanya karena kekhawatiran umum untuk berkunjung ke Kyushu, meski tujuan mereka tidak terdampak gempa.
Kondisi tersebut disebut sebagai "reputational damage", yakni kerugian yang muncul karena citra atau persepsi risiko terhadap suatu wilayah, bukan semata-mata akibat kerusakan fisik.
Pemerintah Jepang berencana membantu pemulihan sektor pariwisata dengan memberikan subsidi biaya penginapan dan paket tur di seluruh tujuh prefektur Kyushu. Program tersebut menjadi bagian dari paket bantuan yang ditargetkan selesai pada akhir Agustus.
Gempa berkekuatan 7,1 itu terjadi sekitar pukul 16.27 pada 28 Juli. Guncangan mencapai intensitas maksimum 5 kuat dalam skala seismik Jepang di sejumlah bagian Nagasaki dan Kagoshima, tetapi tidak menimbulkan kerusakan besar di kedua prefektur tersebut.
Meski demikian, beberapa ruas Jalan Tol Kyushu sempat ditutup selama lebih dari dua pekan. Layanan Kyushu Shinkansen juga masih terganggu di sejumlah bagian.
Seperti dilansir Kyodo, Jumat (21/8), gangguan transportasi dan kekhawatiran wisatawan membuat dampak ekonomi gempa meluas jauh melampaui wilayah yang mengalami kerusakan langsung.