JawaPos.com - Arab Saudi mulai mengubah cara membangun Neom, proyek kota futuristis yang menjadi salah satu simbol ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap minyak. Dana kekayaan negara, Public Investment Fund (PIF), kini menekan pengeluaran dan mengarahkan pengembangan Neom agar berlangsung bertahap serta lebih jelas menghasilkan keuntungan.
Perubahan tersebut menunjukkan pergeseran penting dalam strategi investasi Arab Saudi. Neom sebelumnya diposisikan sebagai pusat transformasi ekonomi, dengan proyek seperti The Line, kota linear sepanjang 112 mil atau sekitar 180 kilometer, hingga resor pegunungan Trojena yang dirancang menggunakan salju buatan. Namun, keterlambatan pembangunan, tingginya biaya, serta sulitnya memperoleh investasi asing membuat sebagian ambisi itu harus dikaji ulang.
Dilansir dari The Times, Kamis (20/8/2026), laporan tahunan PIF 2025 menyebut visi Neom belum ditinggalkan, tetapi pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kemampuan komersial.
PIF menyatakan, "Meskipun ambisi Neom tetap tidak berubah, termasuk kota industri Oxagon, kota kognitif The Line, destinasi pegunungan Trojena, Nature Region, destinasi pesisir mewah Magna, dan Islands of Neom, model pelaksanaannya telah berkembang menuju penerapan bertahap dan penentuan prioritas berdasarkan pertimbangan komersial untuk memastikan kemajuan yang terukur, tangguh, dan berkelanjutan secara finansial dari waktu ke waktu."
Baca Juga: Iran dan Proksi Diduga Siapkan Serangan ke Arab Saudi, Targetkan Fasilitas Energi hingga Bandara
Arah baru itu terlihat dari nasib The Line. Proyek yang dirancang sebagai gedung pencakar langit horizontal sepanjang 112 mil tersebut praktis ditinggalkan dalam skala awalnya, sementara banyak pekerja disebut telah meninggalkan lokasi selama setahun terakhir. Arab Saudi juga menarik diri sebagai tuan rumah Asian Winter Games 2029 yang semula dijadwalkan berlangsung di Trojena.
Di bawah CEO baru Neom, Aiman Al-Mudaifer, pengendalian biaya menjadi lebih ketat. Al-Mudaifer menggantikan Nadhmi Al-Nasr, yang diberhentikan pada 2024 setelah peluncuran Sindalah, resor yacht mewah di Neom, dinilai mahal tetapi hasilnya mengecewakan. Reuters sebelumnya melaporkan pergantian tersebut terjadi ketika sejumlah proyek Neom menghadapi pembengkakan biaya dan penundaan.
Pada saat yang sama, Neom tidak sepenuhnya dihentikan. Fokus investasi mulai bergeser ke bidang yang dinilai lebih produktif, terutama pusat data kecerdasan buatan (AI), logistik, dan energi bersih. Semafor melaporkan pada Mei bahwa pembangunan The Line ditahan hingga setelah 2030, sementara Oxagon dan infrastruktur untuk menarik perusahaan AI menjadi bagian yang lebih praktis dari rencana Neom.
Perubahan tersebut juga mencerminkan kebutuhan PIF menjaga kinerja investasinya. Dalam laporan 2025, total shareholder return PIF naik 5,8 persen. Pendapatan meningkat 9 persen menjadi USD 120 miliar atau sekitar Rp2.138,4 triliun, dengan laba bersih lebih dari dua kali lipat menjadi USD 17 miliar atau sekitar Rp302,9 triliun, berdasarkan kurs Rp17.820 per dolar AS. Sebanyak 76 persen aset kelolaan PIF ditempatkan pada investasi domestik, sedangkan investasi internasional menyumbang 20 persen dan treasury 4 persen.
Sebelumnya, The Line diperkirakan membutuhkan biaya sekitar USD 1 triliun atau Rp17.820 triliun, dengan separuh pembiayaan diharapkan berasal dari sektor swasta dan investor asing. Namun, minat investasi tersebut tidak berkembang sesuai harapan karena kelayakan proyek dan pengelolaannya dipertanyakan. Kritik di dalam negeri bahkan menyebut sebagian konsep Neom terlalu "fantastis" dan berisiko membuat Arab Saudi menjadi bahan olok-olok di mata investor asing.
Koreksi itu kini diperkuat oleh strategi PIF yang menempatkan keberlanjutan komersial sebagai syarat pembangunan. Dalam laporan tersebut, dana kekayaan negara itu menyatakan masa depan Neom akan "berfokus pada pelaksanaan bertahap, keberlanjutan komersial, dan pengembangan sektor-sektor prioritas, termasuk kecerdasan buatan, logistik, dan energi bersih."
Semafor juga mengutip pernyataan Neom bahwa proyek tersebut "sedang mengembangkan proyek-proyeknya sesuai dengan prioritas strategis, kesiapan pasar, dan dampak ekonomi yang berkelanjutan."
Pada akhirnya, perubahan Neom bukan sekadar pengurangan proyek, melainkan penyesuaian model pembangunan Arab Saudi. Mohammed bin Salman tetap mengejar ambisi menjadikan kerajaan yang selama ini identik dengan minyak sebagai pusat keuangan dan pariwisata yang mampu menyaingi Uni Emirat Arab.
Bedanya, setelah menghadapi biaya dan keterlambatan yang besar, Riyadh kini tampak lebih memilih mewujudkan bagian yang layak secara ekonomi terlebih dahulu daripada mempertahankan seluruh rancangan futuristis Neom sekaligus.
Baca Juga: Iran Sindir Pakta Pertahanan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan