← Beranda
Lebih dari 100 Tewas, Tambang Emas di Republik Afrika Tengah Runtuh dan Mengubur Para Penambang
Mellyna Putri DiniarJumat, 21 Agustus 2026 | 04.11 WIB
Tangkapan layar dari video terverifikasi memperlihatkan detik-detik runtuhnya tambang emas di Republik Afrika Tengah yang menewaskan lebih dari 100 orang (The Guardian)

 

JawaPos.com - Lebih dari 100 orang tewas setelah sebuah tambang emas rakyat di Zamboye, Republik Afrika Tengah (CAR), runtuh akibat longsor. Jumlah korban diperkirakan masih bertambah karena tim penyelamat terus mencari korban yang tertimbun di bawah material tanah.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (20/8/2026), longsor terjadi pada Selasa sore di Desa Zamboye, sekitar 50 kilometer dari Kota Baboua, wilayah barat CAR yang berada dekat perbatasan dengan Kamerun. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan material tanah dan pasir meluncur menimpa sekelompok orang yang diduga merupakan para penambang.

Pernyataan jaksa setempat menyebut banyak orang masih terperangkap setelah material longsoran menimbun lokasi tambang. Gervais Ganagoroh, relawan Palang Merah yang terlibat dalam operasi penanganan bencana, mengatakan kepada Associated Press bahwa lebih dari 100 jenazah telah ditemukan. Jumlah tersebut juga dikonfirmasi pejabat senior asosiasi pertambangan setempat kepada Reuters.

Baca Juga: Tambang Emas Runtuh di Afrika Tengah, Lebih dari 100 Orang Tewas

Penyebab runtuhnya tambang masih dikaitkan dengan kondisi struktur bawah tanah. Jaksa kedua dari Baboua mengatakan insiden tersebut diduga terjadi akibat "runtuhnya beberapa terowongan bawah tanah tempat para penambang bekerja."

Seorang penambang bernama Cedric Mbango menggambarkan situasi tersebut sebagai bencana. "Tanah sepenuhnya runtuh dan mengubur orang-orang," ujarnya kepada AFP.

Tim penyelamat kini berpacu menemukan korban yang mungkin masih hidup sekaligus mengevakuasi jenazah. Para penambang diyakini berasal dari CAR dan Kamerun. Pemerintah wilayah Timur Kamerun menyatakan sedikitnya tiga warga negaranya telah teridentifikasi sebagai korban.

Gubernur wilayah tersebut, Grégoire Mvongo, mengatakan pihaknya "bekerja sama erat dengan rekan-rekan kami di Afrika Tengah untuk menangani dampak tragedi ini."

Bertrand Be Yangué dari Dewan Pemuda Zamboye mengatakan peluang menemukan korban dalam keadaan hidup semakin kecil. "Menemukan mereka hidup-hidup akan menjadi sebuah keajaiban," katanya.

Ia menyebut masyarakat "sedih dan patah hati" melihat para lelaki dan perempuan muda tewas setelah datang ke tambang untuk menyelamatkan keluarga mereka dari kesulitan ekonomi.

Baca Juga: Sekjen CAF Mundur di Tengah Kontroversi Final Piala Afrika dan Krisis Kepercayaan

Operasi pencarian menggunakan alat berat, termasuk traktor. Namun, Corbeau News memperingatkan penggunaan mesin tersebut berpotensi membahayakan korban yang masih hidup di bawah timbunan. Jumlah orang yang berada di dalam tambang saat runtuh juga belum diketahui secara pasti.

Tambang rakyat skala kecil marak di berbagai wilayah Afrika meski aktivitas tersebut kerap beroperasi di luar aturan. Tingginya pengangguran mendorong banyak orang mencari penghasilan di tambang yang ditinggalkan atau tidak lagi digunakan.

Lemahnya standar keselamatan membuat kecelakaan berulang terjadi. Di CAR saja, sedikitnya 40 orang dilaporkan tewas dalam sejumlah insiden pertambangan sepanjang tahun ini.

EDITOR: Candra Mega Sari