JawaPos.com - Iran dilaporkan telah memetakan sejumlah target militer Amerika Serikat di Eropa sebagai opsi balasan jika Presiden Donald Trump kembali meningkatkan serangan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa eskalasi konflik yang semula berpusat di Timur Tengah berpotensi melebar ke wilayah Eropa.
Laporan Financial Times (FT), mengutip dua sumber yang mengetahui persiapan tersebut, menyebut pasukan Iran telah mengkaji kemungkinan menyerang aset-aset AS di Eropa bagian tenggara, termasuk Bulgaria.
Baca Juga: 17 Delegasi Nestle Asia Pasifik Belajar Pengelolaan Sampah Banyuwangi
Bulgaria menjadi perhatian karena pada bulan lalu mengizinkan pesawat pengisian bahan bakar militer AS menggunakan Pangkalan Udara Bezmer. Fasilitas tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari jaringan pendukung operasi militer Amerika di kawasan.
Siprus juga disebut masuk dalam daftar kemungkinan sasaran. Negara tersebut memiliki pangkalan udara Inggris yang sebelumnya terkena serangan drone pada Maret.
Dilansir via Iran International, salah satu sumber mengatakan Iran juga mempertimbangkan serangan terhadap kabel serat optik bawah laut di sekitar Selat Hormuz apabila konflik semakin memburuk.
Gangguan terhadap infrastruktur tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap komunikasi dan aktivitas ekonomi internasional.
Sumber yang sama menyebut Teheran tengah bersiap memperluas perang jika Trump benar-benar menjalankan ancaman untuk menyerang infrastruktur Iran. Sumber lainnya menegaskan Iran akan memberikan respons tanpa batas terhadap aksi militer AS.
Iran Ingin Kirim Pesan ke Eropa
Serangan terhadap pangkalan AS di Yordania bulan lalu disebut menjadi salah satu alasan Iran semakin percaya diri dengan kemampuan militernya. Serangan tersebut menewaskan tiga personel militer Amerika dan dinilai Teheran sebagai salah satu serangan jarak jauh paling akurat yang pernah dilakukan.
“Ini juga merupakan pesan kepada Eropa: mereka bisa menerima rudal, jadi mereka harus tahu di mana mereka harus berdiri dalam perang ini,” kata sumber pertama kepada FT.
Ia menambahkan, “Kesalahan yang sangat besar, seperti menyerang infrastruktur kami, dapat membuat perang melampaui kawasan dan mencapai Eropa.”
Meski demikian, Iran belum secara terbuka mengonfirmasi rencana serangan terhadap target-target di Eropa tersebut.
Sejumlah analis militer yang diwawancarai FT menilai Iran memang memiliki kemampuan untuk menyerang aset AS di Eropa selatan dan tenggara menggunakan rudal balistik jarak menengah. Namun, mereka mempertanyakan tingkat akurasi rudal serta jumlah persenjataan Iran yang mampu menjangkau sasaran lebih jauh.
Situasi semakin rumit setelah tenggat waktu 60 hari yang ditetapkan dalam memorandum AS-Iran pada Juni berakhir tanpa kesepakatan final. Perundingan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz juga masih menemui jalan buntu.
Trump awal pekan lalu mengatakan tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung maupun yang telah dijadwalkan dengan Iran. Ia juga menegaskan blokade laut AS terhadap Iran masih berlaku.
Seorang pejabat Gedung Putih kepada Semafor bahkan menilai unggahan Trump di Truth Social tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan dengan Teheran kemungkinan dihentikan untuk waktu yang belum ditentukan.
Pernyataan itu bertolak belakang dengan keterangan Jared Kushner sehari sebelumnya. Kushner mengatakan kontak dengan sejumlah bagian pemerintahan Iran berlangsung sangat intens dan menyebutnya sebagai percakapan yang sangat positif dan aktif.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga membantah klaim Trump mengenai adanya pembicaraan rahasia antara pejabat AS dan petinggi Garda Revolusi.
Perbedaan pernyataan tersebut memperlihatkan masih besarnya ketidakpastian mengenai kondisi sebenarnya di balik layar. Di ruang publik, Washington dan Teheran terlihat semakin konfrontatif, tetapi komunikasi tertentu disebut masih mungkin berlangsung melalui jalur berbeda.
Meski demikian, sejumlah analis dan mantan pejabat yang diwawancarai menyebut berakhirnya periode 60 hari tidak otomatis membuat Washington harus memilih antara melancarkan serangan besar atau mundur dari konflik.
Ada opsi ketiga yang mulai terbentuk, yakni mempertahankan kondisi konflik yang panjang dan sangat tidak stabil. Dalam skenario tersebut, AS dapat meningkatkan tekanan ekonomi, mempertahankan blokade serta menghindari kembali ke kampanye militer besar seperti pada fase awal konflik.
Namun, Washington tetap mempertahankan kemampuan dan opsi untuk melancarkan serangan baru jika diperlukan.
Bagi Iran, situasi tersebut justru membuka kemungkinan konflik berkembang secara bertahap. Dengan ancaman terhadap aset AS di Eropa dan infrastruktur strategis di sekitar Selat Hormuz, setiap serangan baru berisiko memicu respons berantai yang membawa perang keluar dari kawasan Timur Tengah.
Kenaikan posisi kelompok garis keras dalam struktur keamanan dan militer Iran turut memperkuat kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik baru. Salah satu sumber menggambarkan pesan politik dari Teheran secara sederhana.
“Pesannya adalah: ‘Jangan marah, karena saya lebih marah daripada kamu.’”
Perkembangan tersebut membuat Selat Hormuz, aset militer AS di Eropa, hingga jalur komunikasi bawah laut kini menjadi bagian dari risiko eskalasi yang harus diperhitungkan.
Jika ancaman serangan benar-benar diwujudkan, dampaknya bukan lagi hanya menyangkut Washington dan Teheran, tetapi berpotensi menyeret negara-negara Eropa dan jalur perdagangan global ke dalam konflik.