← Beranda
Pusat Data AI Mengincar Orbit, tetapi Risiko Panas, Radiasi, dan Sampah Antariksa Membayangi
Mellyna Putri DiniarKamis, 20 Agustus 2026 | 04.36 WIB
Ilustrasi infrastruktur pusat data yang menjadi bagian penting dalam perkembangan komputasi berbasis AI (Psypost)

 

JawaPos.com - Perlombaan membangun pusat data untuk memenuhi ledakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) mulai mendorong industri teknologi keluar dari batas infrastruktur Bumi. Fasilitas AI berskala besar dapat menggunakan listrik setara konsumsi sekitar 100.000 rumah, sementara permintaan listrik pusat data global diperkirakan meningkat dari 415 terawatt-jam pada 2024 menjadi sekitar 945 terawatt-jam pada 2030.

Tekanan tersebut berhadapan dengan keterbatasan jaringan listrik, kekurangan transformator, penolakan masyarakat terhadap pembangunan fasilitas baru, serta kebutuhan air untuk pendinginan. Orbit kemudian dilirik karena satelit pada lintasan tertentu dapat menerima sinar Matahari hampir terus-menerus dan membuang panas melalui radiator ke ruang angkasa, tanpa menara pendingin dan sistem pendingin konvensional.

Dilansir dari Space Daily, Rabu (19/8/2026), persoalannya bukan lagi apakah komputasi orbital memungkinkan secara fisika, melainkan apakah seluruh sistemnya dapat bekerja dan bertahan secara ekonomi. Panel surya, perangkat komputasi, radiator, pelindung radiasi, sistem komunikasi, serta wahana pengganti harus diluncurkan dan dioperasikan sebagai satu kesatuan.

Baca Juga: Nvidia Bahas Dukungan Rp 4.512 Triliun untuk OpenAI, Taruhan Infrastruktur AI Hadapi Gelombang Penolakan Pusat Data

Google menjadi salah satu perusahaan yang menguji gagasan tersebut melalui Project Suncatcher. Perusahaan mengusulkan konstelasi satelit bertenaga surya yang membawa cip TPU dan terhubung dengan komunikasi optik.

Rancangan awal menggunakan 81 satelit dalam formasi rapat sekitar 650 kilometer dari Bumi. Google dan Planet menargetkan peluncuran dua satelit prototipe pada awal 2027 untuk menguji perangkat keras di orbit.

Namun, keunggulan energi di orbit tidak berarti pendinginan menjadi mudah. Vakum tidak dapat membawa panas melalui konveksi sehingga panas dari cip harus dialirkan ke radiator dan dipancarkan sebagai radiasi inframerah.

Model Slava G. Turyshev untuk sistem 1 megawatt memperkirakan kebutuhan sekitar 5.640 meter persegi panel fotovoltaik dan 2.500 meter persegi radiator, bahkan sebelum seluruh perangkat wahana diperhitungkan.

Ariel Ekblaw dari Aurelia Institute menyoroti persoalan tersebut secara lebih keras. "Ruang angkasa tidak dingin seperti yang dibayangkan orang. Pada dasarnya, Anda memiliki gunung-gunung berapi kecil berupa server. Sangat sulit membuang panasnya," katanya kepada Axios. Dia memperkirakan tahap awal akan berupa eksperimen kecil, bukan kompleks pusat data raksasa.

Selain panas, radiasi dan komunikasi menjadi titik rawan lain. Google harus menguji ketahanan TPU terhadap radiasi, sementara satelit-satelitnya membutuhkan hubungan optik berkapasitas puluhan terabit per detik agar dapat membagi pekerjaan komputasi. Formasi yang rapat juga meningkatkan tuntutan pengendalian posisi dan memperbesar konsekuensi jika terjadi kegagalan atau tabrakan.

Risiko tersebut muncul ketika sejumlah pemain besar mulai membawa gagasan ini ke tahap nyata. Starcloud-1 telah membawa GPU Nvidia H100 ke orbit dan menjalankan Gemini serta melatih model bahasa kecil.

Nvidia kemudian memperluas bisnis perangkat keras untuk komputasi ruang angkasa, sementara SpaceX dan Blue Origin juga dikaitkan dengan pengembangan pusat data orbital.

Jeff Bezos bahkan memperkirakan pusat data berkapasitas gigawatt dapat dibangun di orbit dalam 10–20 tahun.

 "Kita akan mulai membangun pusat data raksasa berkapasitas gigawatt di ruang angkasa," kata Bezos dalam Italian Tech Week. Menurutnya, fasilitas tersebut akan memperoleh energi surya tanpa terhalang awan, hujan, atau cuaca.

Akan tetapi, biaya mengirim perangkat ke orbit masih menjadi penentu utama. Analisis Google memperkirakan biaya peluncuran ke orbit rendah Bumi harus turun hingga sekitar USD 200 per kilogram pada pertengahan 2030-an agar pusat data di orbit mulai memiliki biaya operasional yang dapat bersaing dengan pusat data di Bumi.

Karena itu, penggunaan awal yang lebih masuk akal kemungkinan berupa pemrosesan data satelit langsung di orbit.

Baca Juga: Rencana Pusat Data Antariksa Musk dan Bezos Diprotes, Kekhawatiran Bergeser dari AI ke Krisis Lingkungan Orbit

"Memproses citra mentah di dekat sensor memungkinkan kita mengekstrak dan mengirim informasi paling mendesak tanpa menunggu transfer berkas berukuran sangat besar," kata James Mason, salah satu pejabat di perusahaan teknologi antariksa Planet.

Dengan demikian, tantangan sebenarnya bukan menemukan listrik di orbit, melainkan membangun pusat data yang mampu bertahan menghadapi panas, radiasi, sampah antariksa, kegagalan jaringan, dan ongkos peluncuran.

EDITOR: Candra Mega Sari