JawaPos.com - Rumah tradisional Jepang berusia lebih dari 100 tahun di pedesaan Shimane kini menjadi tempat warga berkumpul, minum matcha, memasak makanan musiman, dan berbincang tanpa memandang latar belakang.
Rumah itu dibuka oleh Fatih Ymran, insinyur IT asal Maroko, bersama istrinya, Nanami, warga Jepang yang memeluk Islam sebelum menikah. Mereka ingin menjadikan rumah tersebut sebagai tempat siapa pun bisa merasa diterima seperti di rumah sendiri.
Pasangan itu tinggal di distrik Hakuta, Kota Yasugi, Prefektur Shimane, Jepang barat. Rumah mereka memiliki pintu masuk dengan lantai tanah dan tungku tradisional yang berada di bagian lantai rumah.
Bangunan tersebut berada tidak jauh dari jalan yang dipenuhi rumah-rumah tua dan bekas toko dari zaman Edo. Perkebunan teh juga membentang di perbukitan di sekitarnya.
Fatih, 33, dan Nanami, 35, bertemu pada 2016 ketika Fatih menjadi mahasiswa internasional di sebuah universitas di Kobe, sementara Nanami bekerja di pemerintahan Kota Kobe. Ketertarikan mereka terhadap budaya tradisional Jepang kemudian mendekatkan keduanya.
Nanami pertama kali menjalani Ramadan pada 2018. Pengalaman menjalankan puasa selama sebulan itu membuat pandangannya tentang makanan berubah.
"Saya menyadari bahwa meluangkan waktu untuk menghargai setiap makanan bisa memperkaya hidup," kata Nanami. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya kemudian memeluk Islam.
Fatih dan Nanami menikah pada 2020. Mereka kemudian pindah ke Yasugi meski sebelumnya tidak memiliki hubungan dengan daerah tersebut karena tertarik dengan lingkungan alamnya.
Pada 2023, mereka membeli rumah tradisional yang kini menjadi tempat tinggal mereka bersama putra berusia dua tahun, Sami.
Kehidupan keluarga tersebut juga diwarnai perpaduan budaya Jepang dan Maroko. Salah satu momen yang mereka ingat adalah ketika Sami menonton film animasi "My Neighbor Totoro" dalam bahasa Jepang dan Arab.
Seiring rumah mereka dibuka untuk masyarakat, hubungan pasangan itu dengan warga sekitar pun semakin luas.
Pengunjung datang untuk menikmati matcha yang disiapkan Fatih dan Nanami. Mereka juga membuat makanan musiman dengan membungkus ketan menggunakan daun bambu sebelum merebusnya.
"Ini tempat di mana Anda bisa mulai berbicara dengan seseorang yang baru saja Anda temui," kata warga setempat, Sachiko Omichi.
Pasangan tersebut juga menerima warga asing yang tinggal di Shimane, termasuk dari Arab Saudi dan Bangladesh. Mereka bahkan menginap selama beberapa hari di rumah itu dan menjalani aktivitas sehari-hari bersama keluarga.
Fatih yang bekerja jarak jauh untuk sebuah perusahaan berbasis di Tokyo juga sering menerima tamu ketika sedang duduk di depan komputer.
"Di kampung halaman saya di Maroko, tetangga biasa mampir. Nabi mengajarkan kita untuk peduli bahkan kepada tetangga ketujuh," ujar Fatih.
Dalam beberapa tahun terakhir, laporan mengenai diskriminasi dan pelecehan daring terhadap umat Muslim muncul di sejumlah wilayah Jepang. Namun, pengalaman pasangan ini di tengah masyarakat pedesaan justru berbeda.
Nanami mengatakan mereka tidak pernah diperlakukan berbeda oleh warga sekitar karena penampilan maupun keyakinan mereka.
"Orang-orang di sini melihat kami sebagai diri kami sendiri. Saya kira itulah arti sebenarnya dari hidup berdampingan dalam masyarakat multikultural, yakni saling menghormati tanpa harus membicarakan keberagaman," katanya.
Seperti dilansir Kyodo, Rabu (19/8), rumah yang awalnya menjadi tempat tinggal pasangan tersebut kini berkembang menjadi ruang sederhana untuk mempertemukan warga lokal, keluarga mereka, dan orang-orang dari berbagai negara.