← Beranda
Netanyahu Sebut Inggris ‘Republik Islam’, Hubungan Dua Negara Makin Retak
Rian AlfiantoSabtu, 15 Agustus 2026 | 05.08 WIB
Perdana Menterj Israel Benjamin Netanyahu. (Jamaica Observer)

JawaPos.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Inggris sebagai 'Republik Islam Inggris'. Sindiran keras ini menandai semakin memburuknya hubungan antara dua negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sekutu dekat.

Pernyataan itu juga memicu kecaman dari kelompok Yahudi Inggris yang menilai ucapan Netanyahu berbahaya dan memecah belah.

Netanyahu melontarkan pernyataan tersebut dalam podcast Israel Melech Blitzer Haim yang tayang Kamis. Ia menyampaikan sindiran itu ketika mengkritik pemberitaan media Inggris mengenai Israel yang dinilainya jauh berbeda dibandingkan masa lalu.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Sebut Anggaran MBG dalam RAPBN 2027 Sekitar Rp 240 Triliun

Sebagai pembanding, Netanyahu menyebut penulis Inggris Randolph Churchill yang menurutnya pernah memberikan pemberitaan 'positif' mengenai Israel selama Perang Enam Hari pada 1967.

"Pergi temukan itu di Inggris hari ini, yang bisa kamu sebut sebagai Republik Islam Inggris," kata Netanyahu, menurut terjemahan pernyataannya yang dikutip media Israel.

Netanyahu kemudian kembali menggunakan istilah serupa dengan merujuk pada pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance pada 2022.

Saat itu, Vance pernah mengatakan Inggris berpotensi menjadi negara 'Islamis' pertama yang memiliki senjata nuklir.

"Seseorang mengatakan bahwa republik Islam pertama dengan senjata nuklir adalah Republik Islam Inggris," ucap Netanyahu.

Ia kemudian mengaitkan pernyataan tersebut dengan Iran, yang selama ini menjadi salah satu musuh utama Israel.

"Kami memastikan tidak akan ada lagi di sini, di Iran," tambahnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa sindiran Netanyahu terhadap Inggris tidak hanya berkaitan dengan pemberitaan media, tetapi juga mencerminkan perbedaan pandangan yang semakin tajam mengenai kebijakan Israel di Gaza dan pendekatan terhadap Iran.

Seperti sudah disinggung di atas, ucapan Netanyahu langsung menuai kritik dari kelompok Yahudi progresif di Inggris dan Irlandia.

Movement for Progressive Judaism menilai penggunaan istilah tersebut sebagai bentuk bahasa yang berbahaya di tengah meningkatnya ketegangan sosial.

"Pada saat antisemitisme, kebencian anti-Muslim, dan perpecahan sosial menyebabkan ketakutan nyata di seluruh negara kita, bahasa semacam ini berbahaya dan tidak bertanggung jawab," kata Rabbi Charley Baginsky dan Rabbi Josh Lev, dua pimpinan kelompok tersebut.

Keduanya juga menegaskan bahwa Netanyahu tidak mewakili komunitas Yahudi Inggris.

"Perdana Menteri Netanyahu tidak berbicara untuk orang Yahudi Inggris. Kata-katanya tidak mewakili kami," ujar mereka.

Gavin Barwell, mantan kepala staf Downing Street pada masa pemerintahan Perdana Menteri Theresa May, bahkan menyebut pernyataan Netanyahu sebagai “blatant Islamophobia”.

"Mari kita berharap semua orang sekarang akan berpura-pura bahwa beberapa orang masih berpegang teguh pada bahwa orang ini adalah teman Inggris," tulis Barwell dalam sebuah unggahan di X.

Sebagai informasi, perselisihan terbaru tersebut terjadi setelah hubungan Inggris-Israel mengalami kemunduran sejak Partai Labour kembali berkuasa di Inggris pada 2024.

Di bawah pemerintahan Labour sebelumnya yang dipimpin Keir Starmer, Inggris menghentikan sementara pembicaraan perdagangan bebas dengan Israel dan menangguhkan sejumlah lisensi ekspor senjata ke negara tersebut.

Inggris juga, bersama Prancis, menjatuhkan sanksi terhadap dua menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.

Perubahan sikap London semakin terlihat ketika Inggris bergabung dengan sejumlah negara sekutunya, termasuk Prancis dan Kanada, dalam mengakui Palestina sebagai negara pada tahun lalu.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah