JawaPos.com - Iran dengan tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Washington telah menguasai penuh Selat Hormuz.
Teheran menegaskan jalur strategis tersebut masih berada di bawah kendali dan pengelolaan Iran, bahkan kapal yang hendak melintas disebut harus mendapat izin dari pihak Iran.
Baca Juga: Perang Teluk Picu Bencana Ekologi, Tumpahan Minyak Cemari Iran dan Oman
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa perselisihan mengenai Selat Hormuz belum berakhir, meski sebelumnya terdapat kesepakatan untuk memulihkan kebebasan navigasi di kawasan Teluk.
Bagi dunia, sengketa ini penting karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi global.
Komandan organisasi paramiliter Basij, Hojjatoleslam Hossein Taeb, mengatakan Iran masih memiliki kendali atas jalur pelayaran tersebut.
Baca Juga: 45 Drone MQ-9 Reaper AS Hilang, Perang Iran Berhasil Tekan Kekuatan Trump
"Hari ini Anda melihat bahwa Selat Hormuz berada di bawah manajemen dan kendali Republik Islam, dan negara kita terus berada di jalurnya dalam keamanan penuh," kata Taeb dalam pernyataan yang dikutip kantor berita semi-resmi Iran, Fars, Kamis (13/8).
"Orang Amerika melihat kekuatan revolusi Islam," lanjutnya.
Baca Juga: Intelijen Temukan Ancaman Rudal Iran, Alasan yang Bikin Trump Terpaksa Ganti Pesawat
Pernyataan Taeb muncul sehari setelah Trump menyatakan melalui platform Truth Social bahwa Amerika Serikat telah memiliki 'total control' atas Selat Hormuz.
Klaim tersebut langsung dibantah oleh komando militer gabungan Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran, komando tersebut menegaskan tidak ada kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tanpa persetujuan Teheran.
"Klaim tak berdasar yang dibuat oleh Amerika Serikat mengenai perjalanan normal kapal melalui Selat Hormuz ... tidak lebih dari kebohongan dan kebohongan," demikian pernyataan komando tersebut.
Sikap Iran menunjukkan bahwa kendali atas Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik utama dalam konfrontasi Teheran dan Washington.
Iran tidak hanya membantah narasi Amerika Serikat, tetapi juga menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran tidak dapat diputuskan secara sepihak oleh Washington.
iBaca Juga: Menkeu AS Siapkan Sanksi Ekonomi yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya untuk Iran
Selain itu, pejabat politik senior militer Iran, Rasoul Sanaei-Rad, mengatakan Teheran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan sementara yang sebelumnya dibuat untuk mengakhiri perang.
Menurut Sanaei-Rad, pembukaan jalur tersebut bukan sesuatu yang dapat dilakukan Amerika Serikat secara sepihak.
Ia juga memperingatkan bahwa jika konflik kembali pecah, Iran akan merespons dengan kekuatan lebih besar.
"Dalam kemungkinan perang di masa depan, kita akan berdiri lebih teguh dan lebih ofensif," ujarnya seperti dikutip Fars.
Baca Juga: Sanggup Perang Hingga Berbulan-bulan! Iran Masih Punya 75 Persen Cadangan Rudal
Sikap tersebut mempertegas bahwa isu Selat Hormuz tidak lagi sekadar persoalan lalu lintas kapal. Jalur ini telah menjadi alat tekanan strategis dalam konflik Iran-Amerika Serikat, terutama karena posisinya sangat penting bagi distribusi energi dunia.
Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintas melalui Selat Hormuz.
Sejak perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, Teheran pada praktiknya memblokade selat tersebut.
Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade laut terhadap pelayaran dan pelabuhan Iran, sembari menyatakan akan melindungi kebebasan navigasi kapal yang bergerak menuju atau berasal dari pelabuhan non-Iran.
Perselisihan terbaru ini berawal dari kesepakatan sementara yang dicapai Iran dan Amerika Serikat pada Juni.
Kesepakatan tersebut memperpanjang gencatan senjata yang mulai berlaku pada April dan menyerukan pemulihan cepat kebebasan navigasi di kawasan Teluk.
Namun, kesepakatan itu kemudian runtuh beberapa pekan setelah Iran kembali melakukan serangan terbatas terhadap kapal-kapal yang menurut Teheran melanggar ketentuan kesepakatan.
Amerika Serikat merespons dengan kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah selatan Iran. Washington mengatakan operasi tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan Teheran menyerang kapal-kapal yang melintas di Teluk.
Dengan kondisi tersebut, Selat Hormuz kembali menjadi titik tekanan dalam perang yang belum sepenuhnya mereda. Iran disebut ingin memperpanjang konflik.
Michael Stephens, senior associate fellow di Royal United Services Institute (RUSI), menilai Iran kini memiliki ruang lebih besar untuk memperpanjang konflik karena tekanan ekonomi yang dihadapi tidak lagi dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan pemerintahannya.