JawaPos.com - Perang di kawasan Teluk mulai memicu dampak lingkungan serius setelah tumpahan minyak mencemari pesisir Iran dan Oman.
Di Iran, residu minyak mencapai Pulau Qeshm dan kawasan hutan bakau Hara, sementara di Oman tumpahan dari kapal tanker pengangkut minyak Rusia telah meluas hingga ribuan kilometer persegi dan mencapai garis pantai.
Dua insiden tersebut menjadi salah satu dampak lingkungan paling nyata dari meningkatnya konflik di kawasan Teluk.
Selain mengancam ekosistem laut, pencemaran ini juga membuka persoalan baru mengenai siapa yang harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan bagaimana pemulihannya dilakukan.
Di Iran, lapisan minyak berwarna gelap mulai terlihat di sejumlah pesisir Pulau Qeshm sejak awal pekan ini. Residu tersebut dilaporkan menyebar dari Pantai Soza hingga kawasan Shib Deraz dan hutan bakau Hara di dekat Desa Naqasheh.
Melansir Euronews, pejabat lingkungan Iran mengatakan sebagian besar tumpahan telah dibersihkan hingga Rabu (12/8) malam. Namun, pemantauan terhadap kawasan terdampak masih terus dilakukan untuk memastikan tidak terjadi penyebaran kembali.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut bukti awal mengarah kepada sebuah kapal kargo asing sebagai sumber pencemaran. Teheran juga menuntut kompensasi dari pihak yang dianggap bertanggung jawab.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan persoalan lingkungan harus menjadi bagian dari pembahasan mengenai masa depan Selat Hormuz.
"Memulihkan ekosistem laut Selat Hormuz, Teluk Persia dan Laut Oman, dan mencegah polusi lebih lanjut, harus menjadi bagian dari pengaturan manajemen masa depan untuk Selat Hormuz," kata Baghaei.
Menurutnya, semua pihak yang memperoleh keuntungan dari aktivitas pelayaran komersial di jalur tersebut memiliki kewajiban untuk ikut menangani kerusakan lingkungan.
"Semua pihak yang mendapat manfaat dari pelayaran komersial di jalur air ini memiliki tanggung jawab hukum dan moral untuk mengatasi kerusakan lingkungan," tambahnya.
Baghaei juga menggambarkan insiden tersebut sebagai salah satu contoh dari persoalan pencemaran yang menurut Iran telah berlangsung selama puluhan tahun.
Ia bahkan mengklaim kerusakan yang ditimbulkan terhadap kawasan pesisir Iran mencapai nilai sangat besar.
"Kerusakan triliunan dolar di wilayah pesisir Iran," tambah Baghaei.
Baghaei kemudian mempertanyakan pihak yang seharusnya menanggung kerugian tersebut, mulai dari negara-negara pengguna energi kawasan hingga perusahaan asuransi pelayaran dan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
"Siapa yang bertanggung jawab untuk mengkompensasi kerugian dan kerusakan ini: negara-negara yang mengonsumsi energi ekspor murah di kawasan ini, perusahaan asuransi pelayaran, atau pihak agresor dan mitra mereka," tanya Baghaei.
Sementara itu, layanan pemantauan maritim TankerTrackers menyebut citra satelit menunjukkan tumpahan minyak di sekitar Qeshm kemungkinan berasal dari Minoan Pioneer.
Kapal berbendera Liberia dan dikelola perusahaan Yunani tersebut terkena proyektil pada 3 Agustus, sekitar 20 mil laut sebelah timur laut Khasab, Provinsi Musandam, Oman.
Serangan itu memicu kebakaran dan menyebabkan sistem mesin kapal mengalami mati total. Satu awak kapal juga dilaporkan hilang.
Sejumlah perusahaan keamanan maritim mengaitkan serangan tersebut dengan pasukan Iran berdasarkan pola serangan sebelumnya di kawasan. Namun, Iran belum mengonfirmasi ataupun membantah keterlibatannya.
TankerTrackers menyatakan tumpahan minyak kemudian terbawa arus melintasi Selat Hormuz menuju wilayah Iran.
Meski demikian, persoalan tanggung jawab hukum tidak sederhana. Aturan kompensasi internasional terkait pencemaran minyak memiliki pengecualian terhadap kerusakan yang disebabkan oleh perang atau permusuhan.
Selain itu, dampak tumpahan minyak menjadi lebih serius karena Qeshm bukan sekadar pulau terbesar di Teluk Persia, tetapi juga memiliki ekosistem pesisir yang penting.
Pulau tersebut memiliki luas sekitar 1.500 kilometer persegi. Di dalamnya terdapat hutan bakau Hara yang membentang sekitar 20.000 hektare dan menjadi tempat berkembang biak serta mencari makan bagi ikan, burung migrasi, dan mamalia laut.
Pesisir bagian selatan Qeshm juga merupakan lokasi bersarang penyu sisik atau hawksbill sea turtle. Spesies ini masuk kategori terancam punah kritis menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Artinya, tumpahan minyak yang terlihat relatif terbatas di permukaan dapat memiliki konsekuensi lebih panjang apabila mencemari kawasan bakau, pantai tempat bertelur, serta rantai makanan laut.
Tumpahan Minyak Jauh Lebih Luas di Oman
Sementara itu, sekitar 500 kilometer di tenggara Qeshm, Oman menghadapi persoalan yang jauh lebih besar.
Kapal tanker Caroline Bezengi yang mengangkut sekitar 1 juta barel minyak mentah Rusia telah mengalami kebocoran sejak kandas di Kepulauan Hallaniyat, lepas pantai Dhofar, pada Juni lalu.
Kapal tersebut berangkat dari pelabuhan Novorossiysk di Laut Hitam pada April. Pada 8 Juni, kapal mengalami ledakan ketika berada di lepas pantai Yaman.
Seluruh awak kapal berhasil dievakuasi tanpa cedera sebelum kapal akhirnya kandas di bebatuan dekat Jazirat Al Qibliyyah.
Sampai sekarang tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut.
Caroline Bezengi juga telah dikenai sanksi oleh Uni Eropa dan Inggris karena mengangkut minyak mentah Rusia. Pemilik terdaftar dan operator kapal tersebut sama-sama berbasis di Tiongkok.
Parahnya lagi, skala pencemaran di Oman meningkat dengan cepat. Pada 26 Juli, area tumpahan diperkirakan sekitar 45 kilometer persegi. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 150 kilometer persegi pada 2 Agustus.
Penilaian pemerintah Oman awal pekan lalu menyebut luas tumpahan telah mencapai sekitar 390 kilometer persegi. Namun, analisis citra satelit yang dilakukan Reuters pada Rabu memperkirakan wilayah terdampak sudah lebih dari 2.000 kilometer persegi.
Minyak bahkan telah mencapai daratan Oman. Di kawasan Ras Madrakah, pencemaran dilaporkan mengotori hingga 40 kilometer garis pantai.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengonfirmasi minyak telah mencapai pesisir. Perkembangan tersebut membuat persoalan ini tidak lagi sebatas kebocoran di laut.
Ketika minyak mencapai pantai, proses pembersihan menjadi jauh lebih rumit dan ancaman terhadap habitat pesisir meningkat.
Selain itu, kepulauan Hallaniyat yang berada di lepas pantai Dhofar memiliki nilai ekologis penting. Kawasan tersebut ditetapkan sebagai cagar alam oleh Sultan Oman Haitham bin Tarik pada tahun lalu.
Ekosistemnya menjadi habitat bagi paus bungkuk Laut Arab, burung kormoran Socotra, penyu laut yang terancam punah, serta terumbu karang.
Situasinya semakin sulit karena kawasan tersebut sedang memasuki musim monsun yang berlangsung dari Juni hingga September. Kondisi laut dan cuaca yang tidak menentu dapat mempersulit upaya pengendalian serta pembersihan tumpahan minyak.