JawaPos.com - Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan menjadi bandara tersibuk di dunia untuk penumpang internasional pada paruh pertama 2026.
Lonjakan tersebut tidak hanya didorong meningkatnya kunjungan ke Korea Selatan, tetapi juga perubahan jalur penerbangan akibat konflik AS-Iran yang mengganggu sejumlah hub penerbangan di Timur Tengah.
Data sementara Airports Council International (ACI), organisasi perdagangan global untuk bandara, menunjukkan Incheon melayani 38,39 juta penumpang internasional sepanjang Januari-Juni 2026.
Baca Juga: Bentrokan di USS Abraham Lincoln: 7 Prajurit Dilaporkan Tewas di Tengah Perang dengan Iran
Jumlah tersebut menempatkan Incheon di posisi pertama, mengungguli Bandara Heathrow di Inggris yang mencatat 37,79 juta penumpang internasional. Bandara Changi Singapura berada di posisi ketiga dengan 34,53 juta penumpang.
Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi Incheon karena untuk pertama kalinya bandara tersebut memimpin peringkat penumpang internasional dunia sejak mulai beroperasi pada 2001.
Baca Juga: Iran-AS Tak Capai Kesepakatan, Selat Hormuz Tetap Jadi Taruhan
Konflik Iran Mengubah Peta Penerbangan
Melansir via Guardian, salah satu faktor yang ikut mengangkat posisi Incheon adalah terganggunya lalu lintas udara di Timur Tengah akibat konflik AS-Iran.
Kondisi tersebut melemahkan peran sejumlah hub penerbangan besar di kawasan Timur Tengah, termasuk Dubai. Sebagian lalu lintas penumpang transit kemudian dialihkan ke jalur alternatif melalui Asia Timur.
Incheon International Airport Corporation (IIAC), seperti dikutip kantor berita Yonhap, menyebut gangguan penerbangan di Timur Tengah turut berkontribusi terhadap peningkatan lalu lintas di Incheon.
Dampaknya cukup signifikan. Lalu lintas penumpang internasional Incheon meningkat 6,3 persen secara tahunan pada paruh pertama 2026.
Namun, konflik bukan satu-satunya alasan. Jumlah wisatawan asing yang datang ke Korea Selatan juga terus meningkat dan ikut mendorong pertumbuhan penumpang.
Adapun proporsi penumpang asing di Incheon mencapai 39,3 persen dari seluruh penumpang pada enam bulan pertama 2026. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan proporsi sepanjang 2025 yang berada di level 35,2 persen.
Bahkan, pada kuartal kedua 2026, porsinya menembus 44,4 persen, menjadi rekor baru.
IIAC mengaitkan peningkatan tersebut terutama dengan bertambahnya jumlah wisatawan dari Tiongkok dan Jepang.
Dengan demikian, posisi Incheon sebagai bandara internasional tersibuk bukan sekadar efek pengalihan penerbangan akibat konflik di Timur Tengah. Bandara tersebut juga sedang menikmati peningkatan permintaan perjalanan ke Korea Selatan.
Baca Juga: Masoud Pezeshkian Pastikan Pemimpin Tertinggi Iran Sehat, Ini yang Dibahas
Heathrow Tetap Sibuk, Tapi Tertekan Konflik Timur Tengah
Di posisi kedua, Heathrow mencatat total 40 juta penumpang dalam enam bulan pertama 2026 jika penumpang domestik dan internasional digabungkan. Angka tersebut menjadi rekor semester pertama bagi bandara yang berada di London barat itu.
Lalu lintas Heathrow menuju kawasan Asia-Pasifik meningkat 7,9 persen. Namun, kapasitas penerbangan menuju Timur Tengah dilaporkan turun 16,5 persen akibat konflik di kawasan tersebut.
Perubahan itu menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat berdampak langsung pada jaringan penerbangan global. Ketika rute dan kapasitas penerbangan di satu kawasan terganggu, arus penumpang dapat berpindah ke hub lain yang menawarkan jalur alternatif.
Persaingan bandara besar Eropa juga berubah. Pada Juli 2026, Istanbul bahkan menyalip Heathrow sebagai bandara tersibuk di Eropa berdasarkan jumlah penumpang keseluruhan.
Heathrow mencatat 7,9 juta penumpang pada Juli, sedangkan Istanbul mencapai 8,15 juta.
Sementara itu, kenaikan Incheon ke posisi teratas juga tidak lepas dari ekspansi kapasitas dan semakin luasnya jaringan penerbangan.
Saat ini, Incheon melayani 101 maskapai yang menghubungkan Korea Selatan dengan 183 kota, termasuk 158 destinasi penumpang internasional.
Ekspansi empat tahap yang selesai pada akhir 2024 juga meningkatkan kapasitas tahunan bandara menjadi 106 juta penumpang.
Kapasitas tersebut memberi ruang bagi Incheon untuk menangani pertumbuhan perjalanan internasional sekaligus menerima limpahan lalu lintas ketika jalur penerbangan di kawasan lain mengalami gangguan.
Artinya, perubahan peringkat bandara dunia pada 2026 tidak hanya mencerminkan jumlah wisatawan, tetapi juga menunjukkan bagaimana kapasitas, konektivitas, dan kondisi geopolitik semakin menentukan peta penerbangan global.
Dominasi Korea Selatan dalam penerbangan internasional juga melengkapi kekuatan negara tersebut di sektor penerbangan domestik.
Rute Bandara Gimpo-Seoul menuju Pulau Jeju tercatat sebagai rute penerbangan tersibuk di dunia.
Data penyedia informasi penerbangan OAG menunjukkan rute tersebut memiliki 14,4 juta kursi penerbangan terjadwal sepanjang 2025, lebih banyak dibandingkan rute penerbangan lainnya di dunia.
Dengan Incheon yang kini memimpin lalu lintas penumpang internasional dan Gimpo-Jeju yang menjadi rute udara tersibuk dunia, Korea Selatan semakin menonjol sebagai salah satu pusat transportasi udara utama di Asia.
Pencapaian tersebut sekaligus memperlihatkan dampak yang lebih luas dari konflik Iran terhadap industri penerbangan. Gangguan di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi maskapai dan bandara di kawasan konflik, tetapi juga dapat menggeser arus penumpang dan memperkuat posisi hub penerbangan di kawasan lain seperti Asia Timur.