JawaPos.com - Sejumlah pelaut di kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan mencoba melompat ke laut ketika masa penugasan memasuki bulan kesembilan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran serius keluarga prajurit terhadap kesehatan mental, keselamatan, dan kondisi kehidupan sekitar 5.000 pelaut serta Marinir di dalam kapal.
Kapal induk yang berbasis di San Diego itu berangkat pada 21 November untuk menjalani penugasan yang semula direncanakan berlangsung di kawasan Pasifik.
Namun, misi tersebut kemudian dialihkan ke Timur Tengah untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat terkait konflik dengan Iran.
Baca Juga: Usai Bencana Alam, Konflik Harimau Sumatera dengan Masyarakat Termasuk Kategori Sangat Tinggi
Penugasan yang awalnya diperkirakan berakhir pada Mei itu hingga kini belum memiliki tanggal kepulangan yang diumumkan secara terbuka. Perpanjangan misi tersebut menjadi salah satu sumber tekanan bagi awak kapal dan keluarga mereka.
Lebih dari 200 anggota keluarga prajurit menghadiri pertemuan dengan jajaran pimpinan Angkatan Laut AS di San Diego pekan lalu.
Mereka menyampaikan berbagai keluhan, mulai dari kelelahan fisik dan tekanan mental hingga persoalan makanan, pasokan air, fasilitas sanitasi, pengiriman surat serta paket, dan lamanya masa perpisahan dengan keluarga.
Acting Secretary of the Navy Hung Cao menghadiri salah satu pertemuan secara langsung. Sementara itu, sejumlah pejabat senior Angkatan Laut AS mengikuti pertemuan lain melalui konferensi virtual pada malam harinya.
Sejumlah keluarga menggambarkan kondisi awak kapal yang semakin kelelahan secara fisik maupun emosional. Salah satu pasangan prajurit bahkan mengatakan suaminya pernah mengirim pesan bahwa dirinya berharap tidak bangun pada hari berikutnya.
Kekhawatiran tersebut semakin serius setelah muncul laporan mengenai upaya pelaut untuk pergi ke laut dari kapal.
Annabelle Loma mengatakan kepada Military Times bahwa suaminya pernah mencoba melompat dari kapal dan kini ditempatkan dalam status medical hold. Menurut Loma, masa penugasan suaminya telah beberapa kali diperpanjang.
“Dia takut” kata Loma. Ia menambahkan bahwa suaminya takut karier militernya selama 13 tahun akan berakhir karena dirinya sudah mengalami kelelahan berat.
Dalam insiden lain yang dilaporkan keluarga, seorang pelaut yang sedang bertugas disebut melihat rekannya bersiap untuk melompat ke laut.
Pelaut tersebut kemudian menarik rekannya kembali ke dek dan mencegah kejadian yang lebih buruk. Istri pelaut itu mengatakan suaminya berhasil mengamankan rekannya sebelum terjatuh dari kapal.
Meski laporan mengenai beberapa percobaan tersebut telah muncul, Angkatan Laut AS belum mengungkapkan jumlah pasti pelaut yang dilaporkan mencoba melompat dari kapal atau melakukan tindakan menyakiti diri selama penugasan USS Abraham Lincoln.
Tidak adanya angka resmi membuat skala persoalan kesehatan mental di kapal tersebut belum dapat diketahui secara pasti.
Keluhan keluarga juga tidak berhenti pada kondisi psikologis para awak. Mereka mempertanyakan kondisi kehidupan sehari-hari di atas kapal setelah penugasan berlangsung jauh lebih lama dari rencana awal.
Beberapa keluarga mengeluhkan persoalan pasokan makanan dan air, toilet yang rusak, masalah fasilitas laundry, hingga keterlambatan surat serta paket perawatan dari keluarga.
Pejabat Angkatan Laut mengakui adanya sejumlah persoalan logistik dan masalah perpipaan di kapal. Mereka menyatakan berbagai upaya sedang dilakukan untuk memperbaikinya.
Para pejabat juga mengatakan awak USS Abraham Lincoln memiliki akses terhadap konselor, pendeta militer, tenaga medis, serta berbagai layanan dukungan kesehatan mental.
Namun, bagi keluarga, persoalannya tidak semata-mata soal ketersediaan layanan tersebut. Lamanya penugasan, ketidakpastian kepulangan, tekanan operasi militer, dan keterpisahan dari keluarga disebut menjadi beban yang terus menumpuk.
Vice Adm. Joseph Cahill mengakui besarnya tekanan yang dirasakan para pelaut dan keluarga mereka.