JawaPos.com - Iran dan Amerika Serikat belum menemukan titik temu untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk. Kebuntuan negosiasi membuat pembukaan kembali Selat Hormuz semakin jauh dari kepastian.
Kondisi ini berpotensi terus menekan jalur perdagangan energi global dan menjaga harga minyak tetap bergejolak.
Seorang sumber senior Iran mengatakan bahwa tidak ada kemajuan dalam pembicaraan yang dimediasi pihak ketiga untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni sekaligus menetapkan batas waktu pelaksanaan komitmen kedua negara.
Baca Juga: BGN Tutup Permanen 504 Dapur MBG Karena Tak Penuhi Standar SLHS
"Salah satu isu yang sedang dibahas melalui mediator adalah AS kembali ke perjanjian sementara dan menentukan kerangka waktu untuk melaksanakan komitmen tersebut. Sama sekali tidak ada kemajuan dalam masalah ini," kata sumber Iran tersebut kepada Reuters.
Kesepakatan Juni Kembali Jadi Titik Sengketa
Kesepakatan sementara pada Juni sebelumnya memuat deklarasi mengenai "Penghentian operasi militer secara segera dan permanen di semua lini". Namun, kesepakatan itu tidak bertahan lama.
Presiden AS Donald Trump pada 7 Juli lalu menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir. Sepekan kemudian, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut kesepakatan itu ditangguhkan.
Perselisihan utama kini berkaitan dengan kewajiban masing-masing pihak. Washington menuduh Teheran gagal memenuhi kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu masuk menuju Teluk.
Iran justru menilai Amerika Serikat lebih dulu mengingkari komitmennya. Teheran menuntut pembukaan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Sumber Iran juga membantah laporan bahwa periode 60 hari dalam kesepakatan Juni akan diperpanjang.
"Tidak ada pembicaraan tentang perpanjangan karena, dari perspektif Iran, tidak ada periode yang dimulai dan oleh karena itu tidak ada yang perlu diperpanjang. Amerika Serikat melanggar perjanjian sementara 48 jam setelah tercapai dan menarik diri darinya beberapa hari setelahnya," ujarnya.
Kebuntuan diplomasi semakin rumit setelah Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap kepemimpinan Iran.
Trump mengatakan Amerika Serikat memiliki kontrol total atas Selat Hormuz. Pernyataan tersebut muncul setelah serangkaian insiden baru yang melibatkan kapal-kapal di kawasan tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump juga menyebut Iran sebagai negara yang hanya banyak bicara tanpa tindakan.
"Iran hanya bicara dan tidak bertindak, Bully of the Middle East No Longer," tulis Trump.
Namun, klaim Washington tersebut langsung dibantah otoritas Iran yang bertanggung jawab atas jalur pelayaran itu. Persian Gulf Strait Authority menyatakan Selat Hormuz masih diblokade dan tidak akan dibuka sampai persyaratan Iran dipenuhi.
Sebagai informasi, perselisihan mengenai Selat Hormuz bukan sekadar persoalan antara Iran dan Amerika Serikat. Jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Sebelum perang, sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati kawasan tersebut. Setiap gangguan berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya energi dan memicu tekanan baru terhadap pasar global.
Harga minyak Brent bahkan sempat mencapai sekitar USD 126 per barel sejak perang dimulai pada Februari, atau sekitar 75 persen lebih tinggi dibandingkan level sebelum konflik.
Pergerakan harga kemudian kembali bergejolak mengikuti perkembangan perang dan sinyal diplomasi. Pada Rabu, Brent diperdagangkan sekitar USD 88 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD 83 per barel.