JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) dilaporkan memperluas tekanan militer di sekitar Iran dengan menyerang kapal berbendera Panama yang sedang menuju pelabuhan Iran. Sementara kelompok Houthi yang didukung Teheran menyerang kapal di Selat Bab el-Mandeb hingga menewaskan tiga awak. Hal ini menyebabkan situasi di selat Hormuz kembali panas.
Padahal, di tengah eskalasi tersebut, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz baru saja menunjukkan tanda-tanda kemajuan.
Serangan AS dan Houthi berlangsung ketika Pakistan dan Qatar mengisyaratkan adanya perkembangan dalam upaya mediasi. Pakistan bahkan menggelar pertemuan tingkat tinggi di Teheran, sedangkan Qatar menyebut pembicaraan antara Iran dan Oman telah memasuki tahap lanjut.
Baca Juga: Koperasi Didorong Masuk Bisnis CPO, Kemenkop Targetkan 40 Pabrik dalam 2 Tahun
Situasi ini membuat jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk tetap berada dalam tekanan. Iran masih menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sepenuhnya sebelum tuntutannya dipenuhi, meski pembicaraan mengenai pengaturan lalu lintas kapal terus berlangsung.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan sebuah helikopter Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal Hellfire ke kapal Vela Nova yang berbendera Panama.
Serangan dilakukan setelah awak kapal disebut mengabaikan peringatan berulang dan tetap melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Iran.
Rudal tersebut kemudian melumpuhkan sistem kemudi kapal. Dilansir via Iran International, CENTCOM menegaskan blokade maritim yang diberlakukan Washington masih berjalan. Hingga Selasa (11/8), pasukan AS disebut telah mengalihkan 55 kapal komersial, melumpuhkan tiga kapal, dan menaiki dua kapal lainnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Washington tidak mengendurkan tekanan terhadap aktivitas pelayaran yang dianggap berkaitan dengan Iran, meskipun jalur diplomasi mulai bergerak.
Di sisi lain, ancaman terhadap pelayaran tidak hanya datang dari operasi AS.
Sebuah kapal kargo geladak diserang kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb pada Selasa. Tiga awak kapal tewas dalam serangan tersebut, menurut laporan Reuters yang mengutip sumber penjaga pantai Yaman dan pejabat militer pemerintah.
Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap perdagangan dan pengiriman energi global, terutama ketika Selat Hormuz juga masih berada dalam situasi genting.
Sementara itu, laporan Asharq Al-Awsat pada hari yang sama, yang mengutip sumber keamanan Yaman, menyebut perwira Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ikut mengawasi peningkatan operasi militer Houthi di Yaman.
Menurut laporan itu, utusan Iran untuk kelompok tersebut, Ali Mohammad Rezaei, secara langsung mengawasi sebuah ruang operasi yang menangani urusan militer dan keamanan di wilayah yang dikuasai Houthi.
Di tengah meningkatnya ketegangan di laut, jalur diplomasi justru memperlihatkan perkembangan.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di Teheran. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Islamabad menengahi ketegangan antara Iran dan AS.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif secara terpisah mengatakan sinyal yang muncul dalam beberapa hari terakhir menunjukkan Washington dan Teheran mungkin sudah mendekati kesepakatan tertentu.
Menurut Asif, kedua pihak tampaknya menuju 'semacam pengaturan'. Qatar juga menyampaikan perkembangan serupa. Doha mengatakan pembicaraan Iran dan Oman telah memasuki tahap lanjut, memberikan secercah harapan bahwa persoalan pelayaran di kawasan tersebut dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi.
Namun, kemajuan pembicaraan belum berarti Selat Hormuz akan segera kembali normal. Sementara itu, Teheran masih mempertahankan posisi keras mengenai Selat Hormuz.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan kesepakatan dengan Oman mengenai jalur transit kapal tidak secara otomatis berarti selat tersebut akan dibuka kembali.
Menurutnya, Hormuz tetap ditutup selama Washington belum mengubah perilakunya dan menerima persyaratan Iran. Pengaturan transit dengan Oman, kata dia, merupakan persoalan terpisah dari keputusan Iran mengenai penutupan selat secara lebih luas.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Mohammad Mokhber, juga menegaskan posisi tersebut.
"Selat itu tidak akan dibuka kembali sampai kondisi Iran terpenuhi," katanya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pembicaraan diplomatik masih menghadapi persoalan mendasar. Kemajuan negosiasi belum cukup untuk memastikan lalu lintas kapal di Hormuz kembali sepenuhnya normal.
Tekanan terhadap kapal komersial juga belum berhenti. Joint Maritime Information Center melaporkan serangan, percobaan serangan, dan aksi intimidasi yang dikaitkan dengan IRGC masih berlangsung di sekitar Selat Hormuz.
Aktivitas tersebut mencakup penerbangan pesawat nirawak (UAV), pemanggilan kapal melalui komunikasi, hingga pengawasan yang diarahkan terhadap kapal-kapal dagang.
Situasi ini membuat perusahaan pelayaran masih menghadapi risiko ketika melewati salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebi bahkan memperingatkan bahwa jaringan energi, pembangkit listrik, dan infrastruktur yang terhubung dengan internet global dapat menjadi sasaran apabila Iran kembali merasa terancam.