← Beranda
Gempa 7,4 Magnitudo Guncang Kolombia, 111 Orang Tewas dan Ribuan Bangunan Rusak
Rian AlfiantoSelasa, 11 Agustus 2026 | 14.58 WIB
Ilustrasi gempa. (Antara)

JawaPos.com - Gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin (10/8) waktu setempat dan menewaskan sedikitnya 111 orang.

Gempa terkuat yang tercatat di negara itu pada abad ke-21 tersebut juga menyebabkan puluhan bangunan runtuh, ribuan bangunan rusak, serta memicu operasi pencarian korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan.

Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengatakan sedikitnya 87 orang mengalami luka-luka, sementara sekitar 1.600 bangunan terdampak gempa. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 61 bangunan dilaporkan hancur total.

Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas Hadapi Sidang Pembacaan Dakwaan Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

Pemerintah Kolombia kemudian menetapkan status darurat untuk mempercepat penyaluran bantuan dan pendanaan pemulihan di wilayah yang terdampak.

"Kami tidak akan meninggalkan orang sendirian. Mereka ada di hati kita dan kita akan cenderung kepada orang-orang dengan tekad penuh kita," kata Abelardo de la Espriella dilansir dari AP News.

Dilaporkan bahwa guncangan paling parah terasa di sejumlah kota di bagian barat Kolombia, termasuk Cali, Pereira, Quibdo, dan Manizales.

Getarannya bahkan dirasakan hingga negara tetangga, Ekuador dan Panama.
Di Cali, kota terbesar ketiga di Kolombia, warga dan tim penyelamat menyisir reruntuhan bangunan untuk mencari korban yang kemungkinan masih hidup.

Potongan beton dan puing bangunan dipindahkan secara bergantian oleh barisan panjang relawan. Di tengah proses pencarian itu, sejumlah warga masih menunggu kabar mengenai anggota keluarga mereka.

Data pemerintah daerah menunjukkan sedikitnya 40 orang meninggal dunia di wilayah Risaralda, tempat Kota Pereira berada. Sebanyak 27 korban lainnya tercatat di Valle del Cauca, wilayah yang mencakup Cali. Tiga dari korban di wilayah tersebut merupakan anak-anak.

Sementara itu, sembilan orang dilaporkan meninggal di Choco, dua di Caldas, dan seorang warga berusia 73 tahun tewas di Antioquia. Lokasi kematian 32 korban lainnya belum segera diketahui.

Selain korban jiwa dan kerusakan bangunan, gempa tersebut memunculkan persoalan lain: banyak warga belum mengetahui keberadaan anggota keluarganya.

Pada Senin sore, basis data orang hilang mulai dipenuhi laporan dari keluarga korban. Salah satu basis data mencatat lebih dari 2.000 orang yang dilaporkan hilang, terutama dari Cali dan Pereira, dan jumlah tersebut terus bertambah.

Foto-foto orang yang dicari keluarga menunjukkan besarnya dampak gempa. Salah satunya menampilkan seorang ibu muda bersama bayinya di Pereira. Foto lainnya memperlihatkan seorang perempuan berusia 80 tahun di Cali yang belum diketahui keberadaannya setelah bangunan tempat tinggalnya runtuh.

Situasi tersebut membuat operasi pencarian dan penyelamatan menjadi semakin mendesak, terutama di kawasan yang bangunannya mengalami kerusakan parah.

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), pusat gempa berada di sekitar San Jose del Palmar, sebuah komunitas berpenduduk sekitar 4.800 orang di wilayah Choco.

Lokasi tersebut berada sekitar 400 kilometer sebelah barat Bogota, ibu kota Kolombia.

Choco merupakan salah satu wilayah termiskin di Kolombia. Kawasan ini juga didominasi hutan lebat dan memiliki akses transportasi yang terbatas. Sejumlah daerah hanya dapat dijangkau menggunakan perahu atau pesawat.

Kondisi geografis tersebut berpotensi menyulitkan petugas untuk mengetahui secara cepat jumlah korban dan tingkat kerusakan di seluruh wilayah terdampak.

Gempa Terkuat di Kolombia pada Abad ke-21

Layanan Geologi Kolombia menyebut gempa yang terjadi pada Senin sebagai gempa bumi terkuat yang tercatat di negara tersebut sepanjang abad ke-21. Setelah gempa utama, sejumlah gempa susulan juga terjadi sehingga membuat warga dan petugas penyelamat harus tetap berhati-hati ketika memasuki bangunan yang rusak.

Wilayah di sekitar episentrum berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, zona aktivitas tektonik yang mengelilingi Samudra Pasifik dan menjadi lokasi terjadinya sebagian besar gempa bumi dunia.

Wilayah Pasifik Kolombia, termasuk Choco, dikenal memiliki aktivitas seismik yang tinggi. Kombinasi kondisi tektonik dan akses geografis yang sulit membuat penanganan bencana di kawasan tersebut menjadi tantangan tersendiri.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah