← Beranda
Siswa Asing Butuh Bahasa Jepang Tembus 84.759, Pemerintah Jepang Siapkan Program Dasar
Dhimas GinanjarSabtu, 8 Agustus 2026 | 17.37 WIB
Ilustrasi sekolah SD di Jepang. (Japan Gov)

JawaPos.com - Pemerintah Jepang akan memperkuat dukungan pembelajaran bahasa Jepang dasar bagi anak-anak asing yang baru tiba di negara tersebut. Kebijakan itu disiapkan seiring jumlah siswa yang membutuhkan pelatihan bahasa Jepang terus meningkat dan mencapai rekor tertinggi.

Seperti dilansir Kyodo, Sabtu (8/8), laporan panel ahli Kementerian Pendidikan Jepang yang disusun pada Juni merekomendasikan pemerintah pusat mengambil "peran utama" dalam meningkatkan standar pendidikan bagi anak warga negara asing di seluruh Jepang.

Salah satu langkah yang didorong adalah pembuatan model program bahasa Jepang dasar sebelum anak-anak mengikuti pembelajaran reguler di sekolah, lengkap dengan pedoman pengajarannya.

Jumlah siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas negeri yang membutuhkan pelatihan bahasa Jepang hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Per Mei 2025, jumlahnya mencapai rekor 84.759 siswa, sebagian besar merupakan warga negara asing.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang mengakui sejumlah upaya sudah dilakukan, termasuk menyediakan kurikulum bahasa Jepang khusus dan menambah jumlah guru. Namun, pertumbuhan jumlah siswa asing dinilai berlangsung terlalu cepat untuk diimbangi.

Program bahasa Jepang dasar tersebut juga diharapkan membantu anak-anak asing memahami budaya Jepang dan beradaptasi dengan kehidupan sekolah.

Yokohama menjadi salah satu kota yang telah menjalankan program serupa. Kota pelabuhan dekat Tokyo itu memiliki sekitar 4.600 siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama negeri yang membutuhkan pembelajaran bahasa Jepang per Mei 2025.

Salah satu fasilitasnya, Himawari di Distrik Naka, telah beroperasi sejak 2017. Fasilitas tersebut menyediakan program selama 12 hari untuk siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang dibagi berdasarkan tiga kelompok usia.

Selama sekitar satu bulan, siswa mengikuti kelas bahasa tiga kali sepekan pada pagi hingga sekitar tengah hari, sembari tetap bersekolah di sekolah reguler.

Materi tidak hanya mencakup bahasa Jepang. Siswa juga diperkenalkan dengan kebiasaan di sekolah Jepang, seperti kegiatan membersihkan ruang kelas yang mungkin belum mereka kenal.

Himawari juga menjadi tempat bagi orang tua untuk berkonsultasi ketika mengantar atau menjemput anak mereka.

Seorang remaja asal Tiongkok yang tiba di Jepang pada April lalu mengaku ingin segera menikmati kehidupan sekolahnya. "Saya ingin berteman di sekolah dan bergabung dengan klub basket," katanya.

Kepala Himawari Masumi Kanazawa mengatakan program tersebut bertujuan membantu anak-anak menguasai kemampuan bahasa Jepang minimum yang mereka perlukan sebelum melanjutkan proses pembelajaran di sekolah reguler.

Panel kementerian juga merekomendasikan pedoman pengajaran program dasar tersebut memasukkan pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan generatif.

Guru yang menyusun rencana pembelajaran khusus bagi siswa asing juga didorong mempertimbangkan lebih banyak informasi, seperti riwayat pendidikan sebelumnya serta tujuan siswa dan orang tua. Namun, format yang digunakan diminta tetap sederhana agar tidak menambah beban kerja guru.

Untuk membantu siswa asing yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi atau mencari pekerjaan, panel juga meminta pemerintah pusat memublikasikan dokumen multibahasa yang disediakan pemerintah daerah untuk siswa dan orang tua. Informasi mengenai status izin tinggal yang disediakan Kementerian Kehakiman juga diharapkan tersedia secara lebih mudah.

EDITOR: Dhimas Ginanjar