← Beranda
Trump Murka Usai Stok Rudal AS Dilaporkan Menipis, Ancam Jebloskan Pembocor Informasi ke Penjara
Rian Alfianto• Jumat, 7 Agustus 2026 | 21.44 WIB
File yang disediakan oleh Angkatan Udara AS ini menunjukkan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) Angkatan Darat AS di Fort Bliss, Texas, pada 23 Februari 2019. (Sersan Cory D. Payne/AP).

 

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memburu para pembocor informasi (leakers) setelah sejumlah media melaporkan bahwa stok amunisi strategis Negeri Paman Sam menyusut drastis selama perang AS dan Israel melawan Iran.

Laporan tersebut memicu kekhawatiran mengenai kesiapan militer AS jika konflik kembali meningkat. Meski demikian, Trump menegaskan negaranya masih memiliki persediaan amunisi dalam jumlah besar dan menilai laporan tersebut sebagai informasi yang menyesatkan.

"AS memiliki persediaan 'amunisi' dalam jumlah sangat besar, terutama untuk jenis tertentu," tulis Trump melalui akun Truth Social, Kamis (6/8).

Ia menambahkan bahwa produksi senjata terus ditingkatkan dan pasokan baru terus dikirim sesuai kebutuhan.

Baca Juga: PBB Dorong Revisi UU Pemilu Akomodasi Aspirasi Partai Non-Parlemen

"Jumlah besar sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Kontraktor pertahanan juga sedang membangun jumlah pabrik dan fasilitas produksi terbesar dalam sejarah negara kita," ujar Trump.

Tak hanya membantah laporan itu, Trump juga mengancam pihak yang membocorkan informasi internal pemerintah.

"Para pembocor pernyataan yang bersifat pengkhianatan ini sedang diburu. Hukuman penjara jangka panjang akan diupayakan!" tegasnya.

Pernyataan Trump muncul setelah Reuters, CBS News, dan CNN menerbitkan laporan yang menggambarkan kondisi persediaan amunisi AS lebih mengkhawatirkan dibanding sebelumnya.

Reuters dan CBS melaporkan militer AS hampir menghabiskan stok Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM) yang menjadi senjata serangan jarak jauh andalan.

Sejumlah analis menilai kondisi tersebut dapat memaksa militer AS mengandalkan serangan udara atau operasi jarak dekat yang dinilai lebih berisiko apabila konflik dengan Iran kembali memanas.

Sementara itu, laporan CNN menyebut stok rudal pencegat Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) juga mengalami penurunan signifikan.

Menurut sumber CNN, sekitar 80 persen rudal THAAD yang dimiliki sebelum perang telah digunakan, sedangkan sekitar setengah stok rudal Patriot juga telah terkuras. Kondisi itu disebut berada pada level yang berbahaya.

Para pakar pertahanan menilai tidak ada alternatif jangka pendek yang dapat menggantikan kedua sistem pertahanan udara tersebut. Bahkan dengan tambahan pendanaan sekalipun, pemulihan stok diperkirakan membutuhkan waktu sedikitnya tiga tahun.

Baca Juga: Penyakit Almarhum Yurizal Peserta BPJS yang Menunggu 8 Jam: Tak Bisa Digabung dengan Pasien Lain

Di tengah mencuatnya laporan tersebut, Trump juga membantah kabar adanya perselisihan dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Sebelumnya, The Washington Post melaporkan Trump sempat menegur Hegseth dalam rapat kabinet di Camp David karena dinilai memberikan informasi yang tidak akurat terkait kondisi stok amunisi.

Menurut laporan itu, Trump mempertanyakan klaim Hegseth yang sebelumnya menyebut persoalan kekurangan amunisi telah teratasi.

Media tersebut juga menyebut Hegseth menyalahkan Wakil Menteri Pertahanan Stephen Feinberg atas menipisnya stok senjata sekaligus kegagalan memperbarui informasi kepada presiden.

Namun Trump membantah laporan tersebut. Ia menyebut pemberitaan itu sebagai berita palsu dan bahkan menyebutnya sebagai tindakan pengkhianatan, sembari memuji kepemimpinan Hegseth selama perang.

"Saya sangat puas dengan kepemimpinan Pete Hegseth di Pentagon," kata Trump.

Trump juga menegaskan operasi militer AS, termasuk di Venezuela serta perang melawan Iran, menurutnya masih "berjalan dengan sangat baik".

Terpisah, Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga membantah laporan CNN mengenai menipisnya stok rudal pertahanan udara.

Ia menyebut informasi tersebut tidak benar, meski tidak memberikan penjelasan rinci maupun data yang membantah angka-angka yang dilaporkan media tersebut.

Hingga kini, pemerintah AS juga belum menjelaskan lebih lanjut klaim Trump bahwa negaranya menerima kiriman persenjataan dari luar negeri. Saat ini, lisensi produksi rudal pencegat Patriot hanya dimiliki Jepang dan Jerman, sedangkan rudal THAAD belum diproduksi oleh negara lain.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan