JawaPos.com - Persediaan rudal pertahanan utama milik Amerika Serikat dilaporkan kian menyusut tajam setelah konflik dengan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kemampuan Washington menghadapi potensi eskalasi perang berikutnya, sekaligus menjaga komitmen pertahanan bagi sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Laporan CNN pada Selasa (4/8) mengungkap, berdasarkan sumber yang mengetahui hasil penilaian inventaris terbaru, militer AS telah menghabiskan hampir 80 persen stok rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan sekitar 50 persen persediaan rudal Patriot sejak perang dengan Iran dimulai.
Menipisnya cadangan tersebut disebut menjadi perhatian serius di lingkungan Pentagon. Sejumlah komandan senior AS, menurut laporan itu, secara tertutup menggambarkan stok amunisi strategis negeri tersebut berada pada level yang sangat rendah.
Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran yang sebelumnya telah muncul mengenai ketersediaan rudal Patriot, yang selama ini menjadi tulang punggung sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya.
Berdasarkan estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebelum konflik pecah Amerika Serikat diperkirakan memiliki sekitar 2.200 rudal Patriot varian terbaru dan 452 rudal THAAD. Angka itu menjadi acuan untuk mengukur besarnya penyusutan persediaan setelah operasi militer berlangsung.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Washington. Negara-negara Teluk yang mengoperasikan sistem pertahanan udara buatan AS dikabarkan mulai menyampaikan kekhawatiran bahwa berkurangnya stok rudal tersebut dapat mengurangi kemampuan mereka menghadapi ancaman rudal balistik maupun serangan pesawat nirawak (drone) Iran, terutama jika Teheran melancarkan aksi balasan terhadap operasi militer Amerika Serikat.
CNN juga melaporkan bahwa kondisi persediaan rudal menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan Presiden Donald Trump saat memutuskan membatalkan rencana serangan lanjutan terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Keputusan itu disebut diambil setelah sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk memperingatkan bahwa infrastruktur energi mereka berpotensi menjadi sasaran serangan balasan Iran apabila konflik kembali meningkat.
Meski demikian, pemerintah AS membantah anggapan bahwa kemampuan militernya melemah akibat berkurangnya stok rudal.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan militer AS masih memiliki kapasitas yang memadai untuk menjalankan setiap operasi yang diperintahkan presiden.
"Militer AS tetap memiliki kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan setiap operasi sesuai keputusan presiden," kata Sean Parnell.
Senada dengan itu, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan kepada CNN bahwa Amerika Serikat masih memiliki persediaan amunisi dan rudal yang lebih dari cukup untuk memenuhi tujuan Presiden Trump.
Selain THAAD dan Patriot, laporan tersebut menyebut stok sejumlah senjata strategis lain juga ikut terkuras. Persediaan Army Tactical Missile System (ATACMS), Precision Strike Missile (PrSM), dan rudal jelajah Tomahawk dilaporkan mengalami penurunan signifikan.
Baca Juga: Qatar Ungkap Negosiasi AS-Iran Masuk Tahap Maju, Draf Kesepakatan Terus Dipertukarkan
Di sisi lain, laju produksi dinilai belum mampu menutup kebutuhan. Pentagon disebut hanya menerima sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot baru setiap bulan.
Para analis bahkan memperkirakan diperlukan sedikitnya tiga tahun bagi Amerika Serikat untuk mengembalikan persediaan rudal THAAD ke tingkat sebelum perang, sehingga isu ketahanan logistik militer diperkirakan akan tetap menjadi perhatian utama di tengah meningkatnya tensi keamanan global.