JawaPos.com - Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan berskala besar terhadap Iran, disebut bukan semata-mata pertimbangan politik atau diplomatik.
Salah satu faktor yang ikut memengaruhi keputtusan itu adalah semakin menipisnya persediaan amunisi strategis militer AS.
Laporan terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap perang melawan Iran telah menguras stok rudal pertahanan udara dan senjata serang jarak jauh milik Amerika Serikat.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran Pentagon, karena persenjataan yang sama juga akan dibutuhkan jika sewaktu-waktu terjadi konflik dengan Tiongkok, Rusia, maupun Korea Utara.
Baca Juga: Iran Eksekusi Mati 2 Mata-mata Israel, Diduga Bantu Mossad
Berikut enam fakta yang menjelaskan mengapa stok amunisi Amerika Serikat menipis dan menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan pemerintahan Trump.
1. Perang melawan Iran menguras stok rudal strategis AS
Perang melawan Iran menjadi penyebab paling nyata berkurangnya persediaan amunisi Amerika Serikat.
Menurut analisis CSIS, militer AS telah menggunakan sekitar separuh stok awal rudal Patriot, THAAD, dan Precision Strike Missile (PrSM).
Selain itu, sekitar sepertiga persediaan rudal jelajah Tomahawk, JASSM, serta rudal SM-2, SM-3, dan SM-6 juga telah digunakan selama operasi militer.
Meski jumlah tersebut dinilai masih cukup untuk menghadapi konflik dengan Iran, CSIS mengingatkan ancaman sebenarnya muncul apabila Amerika harus menghadapi perang lain dalam waktu berdekatan. Terutama melawan Tiongkok di kawasan Indo Pasifik.
Baca Juga: Donald Trump Makin Terdesak, Kehabisan Opsi Hadapi Iran yang Tak Kunjung Takluk
Lembaga itu juga menilai operasi militer terhadap Iran memperparah persoalan stok amunisi yang sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak beberapa tahun terakhir.
2. Strategi militer pasca-Perang Dingin Bikin stok amunisi menyusut
CSIS menjelaskan berakhirnya Perang Dingin mengubah strategi pertahanan Amerika Serikat.
Ancaman perang besar melawan Uni Soviet berganti menjadi skenario konflik regional berskala terbatas, seperti Irak dan Korea Utara.
Perubahan strategi tersebut membuat kebutuhan amunisi berkurang drastis sehingga pengadaan senjata terus dipangkas selama bertahun-tahun.
Setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 serta meningkatnya ketegangan dengan Tiongkok, kebutuhan membangun kembali cadangan amunisi dalam jumlah besar menjadi semakin mendesak.
Baca Juga: Iran Bantah Klaim Trump Soal Negosiasi Dimulai Senin, Tegaskan Tak Ada Pembicaraan dengan AS
3. Industri pertahanan AS tak dirancang untuk produksi besar dalam waktu singkat
Persoalan berikutnya berasal dari industri pertahanan Amerika sendiri. Sejak 1990-an, pemerintah AS mendorong konsolidasi perusahaan pertahanan agar lebih efisien saat masa damai.
Dampaknya, jumlah kontraktor utama industri pertahanan menyusut drastis dari 51 perusahaan menjadi hanya lima perusahaan besar.
Model produksi tersebut memang efisien ketika tidak ada perang besar, tetapi membuat kapasitas produksi tambahan atau surge capacity sangat terbatas ketika Pentagon membutuhkan peningkatan produksi secara cepat.
Akibatnya, proses mengisi kembali stok rudal yang telah habis diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
4. Pengadaan amunisi kalah prioritas dengan pesawat dan kapal perang
CSIS juga menyoroti proses penyusunan anggaran pertahanan Pentagon.
Dalam praktiknya, pengadaan amunisi sering kalah prioritas dibanding pembelian platform utama seperti pesawat tempur, kapal perang, maupun kendaraan lapis baja.
Baca Juga: 3 Fakta Respons Kedubes Iran usai Pidato Prabowo soal Nuklir, Tegaskan Programnya Hanya untuk Tujuan
Alasannya, platform militer dapat digunakan hingga puluhan tahun dan lebih mudah menunjukkan kekuatan militer kepada lawan.
Sebaliknya, amunisi hanya disimpan di gudang hingga digunakan saat perang atau kedaluarsa.
Akibatnya, pembelian rudal dan amunisi kerap menjadi pos anggaran yang dikurangi demi membiayai kebutuhan lain.
5. Berbagai operasi militer AS beberapa tahun terakhir habiskan stok senjata
Bukan hanya perang melawan Iran yang menguras stok senjata Amerika. Dalam beberapa tahun terakhir, AS juga menghabiskan banyak rudal.
Baik saat menghadapi kelompok Houthi di Yaman, merespons serangan Iran terhadap Israel, hingga operasi militer terhadap ISIS dan Venezuela.
Baca Juga: Iran Akan Gunakan Segala Cara untuk Pertahankan Hak Nasional dan Keamanan Negaranya
Pada masa pemerintahan Joe Biden, ratusan rudal pencegat SM-2, SM-3, dan SM-6 digunakan dalam operasi di Timur Tengah.
Sementara pada pemerintahan Trump, pasukan AS dilaporkan menembakkan sekitar 150 rudal THAAD selama perang 12 hari melawan Iran.
Selain itu, sedikitnya 135 rudal Tomahawk digunakan dalam operasi melawan Houthi, disusul puluhan rudal lainnya dalam berbagai operasi militer sepanjang 2025 dan 2026.
6. Bantuan militer ke Ukraina bukan penyebab utama, tetapi tetap berdampak
Pemerintahan AS beberapa kali menyebut bantuan senjata ke Ukraina sebagai penyebab berkurangnya stok amunisi nasional.
Namun CSIS menilai kontribusinya relatif kecil terhadap persenjataan yang dibutuhkan dalam perang melawan Iran.
Baca Juga: Trump Batalkan Rencana Serangan Besar-besaran ke Iran, Ini Alasannya!
Mayoritas bantuan untuk Ukraina berupa kendaraan tempur, tank, artileri, hingga amunisi darat yang tidak banyak digunakan dalam konflik dengan Iran.
Meski demikian, terdapat beberapa jenis senjata yang memang memengaruhi persediaan AS.
Seperti sekitar 600 rudal Patriot, sejumlah rudal ATACMS, rudal antiradar HARM, serta sebagian besar rudal Stinger yang telah dikirim ke Ukraina.
CSIS mencatat pemerintahan Trump juga sempat mempertimbangkan pengiriman rudal Tomahawk dan JASSM-ER yang memiliki jangkauan lebih jauh ke Ukraina, tetapi hingga kini langkah tersebut belum direalisasikan.
Stok cukup untuk Iran, tapi picu kekhawatiran hadapi Tiongkok
Secara keseluruhan, CSIS menegaskan stok amunisi Amerika Serikat saat ini masih memadai untuk menghadapi skenario konflik yang realistis dengan Iran.
Baca Juga: Iran Kecam AS yang Pakai Isu Selat Hormuz sebagai Dalih Serangan
Namun persoalan utamanya adalah kesiapan jika Washington harus menghadapi perang besar lain dalam waktu yang hampir bersamaan, khususnya melawan Tiongkok di Indo-Pasifik.
Kondisi inilah yang disebut menjadi salah satu pertimbangan penting di balik keputusan pemerintahan Trump untuk menghindari operasi militer yang lebih besar terhadap Iran, dan fokus menjaga cadangan amunisi strategis bagi potensi konflik di masa depan.