← Beranda
Iran Bantah Klaim Trump Soal Negosiasi Dimulai Senin, Tegaskan Tak Ada Pembicaraan dengan AS
Rian AlfiantoSelasa, 4 Agustus 2026 | 04.06 WIB
Ilustrasi Angkatan Bersenjata Inggris klaim siaga penuh hadapi ancaman Iran. (Gulf News)

 

JawaPos.com - Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim perundingan baru untuk mengakhiri konflik akan dimulai pada Senin (3/8).

Teheran menegaskan hingga kini tidak ada negosiasi yang berlangsung maupun rencana pembicaraan langsung dengan Washington, meski Trump mengaku telah menunda serangan militer besar karena meyakini kesepakatan sudah di depan mata.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, klaim Trump tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Menurut dia, Iran saat ini tidak sedang berunding dengan Amerika Serikat.

Baca Juga: Robot Humanoid Bersiap Masuk Ladang, Babak Baru Otomatisasi Pertanian Global Mulai Diuji

Baghaei menjelaskan, pembicaraan yang tengah dilakukan Teheran adalah dengan Oman, bukan Washington. Negosiasi itu bertujuan mencari jalan keluar untuk menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.

"Iran sedang bernegosiasi dengan Oman untuk mencapai pemahaman mengenai langkah-langkah yang dapat menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz," kata Baghaei dikutip dari BBC.

Trump Sebut Perundingan Dimulai Senin

Sehari sebelumnya, Trump menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran semakin dekat. Dalam pernyataannya kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One, dia mengatakan, proses negosiasi akan dimulai pada Senin sore waktu setempat.

Baca Juga: Fenomena Gerhana Matahari Total pada Agustus 2026 Siap Menghiasi Langit Spanyol, Islandia dan Greenl

"Kami berbicara dengan mereka dalam bentuk negosiasi. Ini dimulai besok sore," ujar Trump.

Trump juga mengklaim Iran mengetahui rencana serangan besar yang telah disiapkan Amerika Serikat. Menurut dia, operasi militer itu akhirnya dibatalkan setelah adanya permintaan dari Iran dan sejumlah sekutu Washington di Timur Tengah.

Sebelumnya, melalui platform Truth Social, Trump mengaku telah diminta Iran serta para mitra Amerika Serikat di kawasan untuk menunda serangan militer karena parameter kesepakatan disebut telah disepakati.

Saat berbicara di Air Force One, Trump mengatakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar turut mendorong Washington agar tidak melancarkan serangan pada akhir pekan lalu.

"Kami semua siap untuk pergi. Alasan mereka bertanya adalah karena mereka berpikir ada kesepakatan. Ada kesepakatan tentang Hormuz, dan akan ada kesepakatan tentang nuklir," lanjut dia.

Meski demikian, Trump tidak mengungkap lokasi perundingan yang diklaim akan berlangsung maupun siapa saja pihak yang akan hadir dalam pembicaraan tersebut.

Baca Juga: Tiongkok Kembangkan Strategi Nuklir untuk Pertahanan dari Ancaman Asteroid

Iran dan AS Masih Berseberangan

Pernyataan yang saling bertolak belakang dari Washington dan Teheran kembali menunjukkan belum adanya kesepahaman mengenai jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik.

Sebelumnya, sejumlah putaran dialog antara Iran dan Amerika Serikat memang pernah berlangsung melalui mediator. Namun hingga kini kedua negara belum mencapai kesepakatan final, sementara ketegangan di kawasan masih diwarnai aksi saling serang dan ancaman eskalasi militer.

Di sisi lain, Trump tetap menyatakan terbuka terhadap solusi diplomatik. Namun ia enggan menetapkan tenggat waktu tercapainya kesepakatan dengan Iran. "Kita lihat saja bagaimana keadaannya. Kita siap untuk pergi kapan saja kita mau... Aku tidak ingin membunuh orang," ujar Trump.

Baca Juga: Israel Tolak Kesepakatan AS dengan Hamas, Serangan ke Gaza Berlanjut

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah