JawaPos.com — Saham Meta Platforms merosot sekitar 10 persen setelah perusahaan mengeluarkan proyeksi pendapatan yang mengecewakan, sementara belanja AI dan biaya operasional terus meningkat.
Kondisi itu memperkuat keraguan investor apakah strategi agresif Mark Zuckerberg di bidang kecerdasan buatan (AI) mampu memberikan pengembalian yang sepadan dengan besarnya investasi.
Keraguan investor tersebut muncul di tengah membengkaknya beban investasi AI. Meta memperkirakan pendapatan kuartal berjalan sebesar 61 miliar dolar AS hingga 64 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.102 triliun hingga Rp1.158 triliun (dengan kurs Rp18.090 per dolar AS), sedikit di bawah ekspektasi Wall Street sebesar 63,1 miliar dolar AS.
Baca Juga: Simak, Jadwal Waktu Shalat Bagi Wilayah Banjar Besok Sabtu, 1 Agustus 2026
Sementara itu, laporan keuangan kuartal II mencatat biaya dan pengeluaran naik 55 persen menjadi 42 miliar dolar AS, sehingga arus kas bebas anjlok 91 persen menjadi 784 juta dolar AS karena belanja infrastruktur AI yang terus meningkat.
Dilansir dari Financial Times, Jumat (31/7/2026), Kepala Eksekutif Meta Mark Zuckerberg menegaskan investasi AI tetap menjadi prioritas. “Kami berada pada titik ketika investasi kami di AI mempercepat setiap bagian utama bisnis inti kami,” ujarnya kepada analis. Dia mengatakan kemajuan AI telah meningkatkan sistem periklanan dan rekomendasi konten di berbagai platform Meta.
Zuckerberg juga memaparkan visi Meta membangun AI agent, yakni asisten digital berupa agen AI yang dapat menjalankan berbagai tugas secara mandiri, mulai dari membantu mengelola kesehatan, keuangan pribadi, hingga tujuan karier. Menurutnya, “Agen pribadi bagi konsumen akan menjadi fondasi gelombang produk dan sumber pendapatan kami berikutnya dalam beberapa bulan dan tahun mendatang,” serta merupakan “pasar yang sangat penting dan sangat besar.”
Selain untuk konsumen, Meta mengembangkan AI bagi dunia usaha, termasuk agen untuk pemrograman, layanan pelanggan, hingga konsep business-in-a-box yang membantu pelaku usaha memulai dan mengelola bisnis.
Zuckerberg juga mengungkapkan Meta menerima banyak penawaran untuk menyewakan kapasitas komputasi pusat datanya dengan harga premium, bahkan perusahaan tengah menjajaki kesepakatan penyewaan infrastruktur AI kepada Anthropic yang nilainya diperkirakan mencapai 10 miliar dolar AS.
Untuk menopang strategi tersebut, Meta mempersempit proyeksi belanja modal tahunannya menjadi 130 miliar dolar AS hingga 145 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.352 triliun hingga Rp2.623 triliun.
Belanja modal kuartal II mencapai sekitar 31 miliar dolar AS, sementara proyeksi total pengeluaran dinaikkan menjadi 165 miliar dolar AS hingga 169 miliar dolar AS setelah perusahaan membukukan beban hukum sebesar 2,4 miliar dolar AS.
Meski demikian, besarnya investasi belum sepenuhnya meyakinkan pasar. Direktur Riset Forrester Mike Proulx menilai, “Meta percaya infrastruktur AI kini merupakan aset strategis, tetapi tagihannya datang lebih cepat daripada hasilnya.
Hampir seluruh kas yang dihasilkan kuartal ini habis untuk belanja infrastruktur AI. Investor kini harus memutuskan apakah berbagai inisiatif AI Meta merupakan diversifikasi atau justru pengalihan fokus perusahaan.”
Tekanan terhadap Meta juga dipengaruhi ketatnya persaingan AI setelah model Llama tertinggal dari OpenAI, Anthropic, dan Google.
Sebagai respons, Zuckerberg membentuk tim AI baru yang dipimpin pendiri Scale AI, Alexandr Wang, merekrut talenta AI, serta mengembangkan model generasi berikutnya sambil menguji skema monetisasi seperti layanan berlangganan untuk fitur AI yang lebih canggih.
Di tengah investasi tersebut, laba bersih Meta turun 14 persen menjadi 15,8 miliar dolar AS akibat beban hukum dan pesangon setelah pemangkasan sekitar 10 persen tenaga kerja.
Perusahaan juga masih menghadapi tuntutan dan pengawasan terkait keselamatan remaja di berbagai negara. Kondisi itu menunjukkan bahwa tantangan terbesar Meta saat ini bukan lagi membangun teknologi AI, melainkan membuktikan kepada pasar bahwa investasi raksasa tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.