← Beranda
AS dan Arab Saudi Gempur Milisi Pro-Iran di Irak, 20 Orang Tewas!
Rian Alfianto• Kamis, 30 Juli 2026 | 21.04 WIB
Militer AS dan Arab Saudi lancarkan serangan udara ke Iraq. (Reuters)

 

 

JawaPos.com - Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan gabungan terhadap basis-basis milisi yang didukung Iran di Irak. Sedikitnya 20 anggota kelompok tersebut dilaporkan tewas, sementara puluhan lainnya terluka.

Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Iran menembakkan rudal ke arah pasukan AS di Timur Tengah, memicu kekhawatiran bahwa konflik kawasan kembali memasuki fase yang lebih berbahaya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Washington akan memberikan respons keras terhadap serangan Iran. Saat ditanya mengenai serangan rudal Iran ke pangkalan AS di Yordania, Trump mengatakan, "They're going to get a beating" atau "Mereka akan dihajar keras."

Konflik terbaru ini juga memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Harga minyak dunia pun langsung melonjak di tengah meningkatnya ketegangan.

 

AS Klaim Serang Milisi Pro-Iran yang Ancam Pasukan dan Infrastruktur Saudi

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan gabungan bersama Arab Saudi menyasar sejumlah lokasi logistik dan gudang senjata milik kelompok yang disebut sebagai milisi pro-Iran di Irak timur.

Menurut CENTCOM, kelompok tersebut merupakan 'teroris yang bersekutu dengan Iran' dan mendapat arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk menyerang pasukan AS serta infrastruktur energi Arab Saudi.

Militer AS menyebut operasi itu dilakukan sebagai balasan atas lebih dari 30 serangan drone yang diarahkan IRGC dalam 72 jam terakhir.

"IRGC dan proksi terorisnya harus menghentikan serangan ini untuk menghindari respons militer AS lebih lanjut," demikian pernyataan CENTCOM.

CENTCOM juga mengklaim seluruh serangan drone tersebut gagal mencapai sasaran.

 

Arab Saudi Sebut Bertindak Demi Membela Diri

Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengungkapkan milisi yang didukung Iran telah meluncurkan drone dari wilayah Irak menuju fasilitas minyak di kawasan Timur dan Riyadh pada Senin dan Selasa.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan negaranya melakukan serangan berdasarkan hak untuk membela diri.

"Kerajaan Arab Saudi menegaskan kembali bahwa mereka tidak mencari eskalasi tetapi akan menanggapi dengan tegas setiap agresi yang ditujukan terhadapnya," ujar Turki al-Maliki mengutip BBC.

Arab Saudi menegaskan tidak menginginkan eskalasi konflik, tetapi akan merespons secara tegas setiap serangan yang mengancam wilayahnya.

 

PMF Sebut 20 Anggotanya Tewas

Sementara itu, Popular Mobilisation Forces (PMF), organisasi paramiliter Irak yang didominasi kelompok Syiah pro-Iran, mengonfirmasi sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka akibat serangan gabungan AS dan Arab Saudi.

Serangan dilaporkan menghantam markas PMF di sejumlah provinsi, termasuk Baghdad, Wasit, Nineveh, Basra, Kirkuk, Karbala, dan Diyala.

Seorang pejabat yang dikutip AFP menyebut serangan di Nineveh dan Diyala menjadi yang paling mematikan.

PMF mengecam operasi militer tersebut dan menyebutnya sebagai 'serangan teroris yang berkhianat', sekaligus 'eskalasi yang sangat serius dan pelanggaran terhadap kedaulatan Irak'.

Presiden Irak juga mengutuk pemboman terhadap markas PMF. Pemerintah Irak menyebut serangan itu sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan negara.

Namun, Trump mengklaim operasi militer tersebut telah dikoordinasikan dengan pemerintah Irak.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras serangan tersebut. Teheran menyebut aksi AS sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan menuduh Washington bersama Israel berupaya memperluas perang di Timur Tengah.

Iran juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat beserta sekutunya akan bertanggung jawab atas segala konsekuensi berbahaya yang muncul akibat eskalasi tersebut.

 

Iran Sebelumnya Serang Pangkalan AS dan Kapal Tanker

Sebelum serangan balasan dilakukan, IRGC mengklaim telah meluncurkan rudal ke pangkalan udara AS serta pusat komando militer di Yordania sebagai respons atas apa yang disebut sebagai agresi Amerika.

Iran juga mengaku menyerang tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz karena dianggap mengabaikan peringatan dan melintasi jalur yang disebut tidak aman.

Baca Juga: Donald Trump Ngamuk, Iran Kirim 'Serangan Kejutan' ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ancam Balas Lebih Keras

Meski demikian, CENTCOM menyatakan seluruh rudal Iran berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan kerusakan. (*)

 

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan