JawaPos.com - Israel meningkatkan operasi keamanan besar-besaran di Tepi Barat dengan menangkap lebih dari 130 warga Palestina setelah bentrokan mematikan yang menewaskan dua warga Israel dan empat warga Palestina.
Insiden tersebut memicu gelombang serangan balasan oleh para pemukim Israel terhadap sejumlah desa Palestina, memperburuk ketegangan di wilayah yang diduduki itu.
Militer Israel menyebut penangkapan massal dilakukan dalam operasi kontra-terorisme yang digelar sepanjang akhir pekan. Penggerebekan menyasar sejumlah desa di sekitar Kota Nablus, wilayah yang menjadi pusat bentrokan akhir pekan lalu.
Baca Juga: Alam Sutera Kian Strategis, Jadi Pusat Logistik Korporat dan Basis Operasional Perusahaan
Di saat yang sama, warga Palestina melaporkan meningkatnya aksi kekerasan oleh kelompok pemukim Israel. Sejumlah rumah, kendaraan, lahan pertanian, hingga sebuah masjid yang masih dalam tahap pembangunan menjadi sasaran pembakaran dan perusakan.
Peristiwa ini menjadi bentrokan paling mematikan di Tepi Barat sepanjang tahun dan dikhawatirkan memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Pemukim Israel Lakukan Serangan Balasan
Setelah insiden penembakan pada Jumat, sejumlah pemukim Israel tetap bertahan di lokasi kejadian di pinggiran Desa Tell, selatan Nablus.
Seorang pemukim yang diyakini berasal dari komunitas Havat Gilad bahkan mengancam tim media ABC yang berada di lokasi.
"Tinggalkan area dengan cepat sebelum kami menembakmu," katanya.
Serangan balasan juga terjadi di desa-desa sekitar, termasuk Sarra. Warga menyebut para pemukim menggunakan buldoser untuk menghancurkan kebun zaitun, sementara rumah dan kendaraan dibakar.
Salah satu korban, Ahmad Rawhi Abdallah Turabi, mengatakan warga desa tidak memiliki persenjataan untuk melawan.
"Kami tidak bersenjata. Kami tidak punya senjata, hanya batu [dan] tongkat," lanjutnya.
Turabi menegaskan mereka hanya mempertahankan tanah yang telah lama mereka tempati.
"Mereka menyerang kami, mereka mencuri tanah. Kami berada di tanah kami. Dia adalah seorang pemukim dan ingin memiliki tanah yang bukan miliknya," ucap Turabi.
Masjid Dibom Molotov dan Dicoret Grafiti
Kekerasan juga menyasar Desa Qusra di tenggara Nablus. Sebuah masjid yang masih dibangun dilempari bom molotov hingga mengalami kerusakan.
Di dinding bangunan itu muncul grafiti bertuliskan 'balas dendam', 'Masjid tidak mengancam kita', dan 'Israel akan ditegakkan dengan darah'.
Wali Kota Qusra, Abdel Azim Wadi, mengecam aksi tersebut dan menilai kekerasan pemukim semakin meningkat.
"Kekerasan para pemukim tidak pernah berhenti, tetapi sekarang menjadi lebih agresif karena dukungan IDF dan pemerintah Israel," katanya.
Keluarga Korban Tolak Tinggalkan Tanah Mereka
Di Desa Tell, warga masih berduka atas tewasnya empat anggota keluarga Ramadan dalam bentrokan Jumat lalu.
Imran Ramadan, putra salah satu korban Ahmad Ali Ibrahim Ramadan, menegaskan keluarganya tidak akan meninggalkan kampung halaman mereka.
"Semua yang diinginkan [para pemukim] adalah mengusir kami dari negara kami," katanya.
"Suatu kehormatan bagi kami untuk mati di sini dan dimakamkan di sini. Kami tidak akan meninggalkan tanah ini."
Baca Juga: Dugaan TPPU Febrie Adriansyah Dinilai Perlu Dikembangkan, Penyidik Diminta Telusuri Aset Kripto
Ia juga membantah tuduhan bahwa warga Palestina adalah pelaku teror.
"Pesan saya adalah kami bukan teroris. Mereka mengirimkan teror mereka kepada kami," tegasnya.
Hingga kini, kronologi bentrokan masih diperdebatkan.
Kelompok pemukim dari Havat Gilad mengklaim mereka sedang melakukan pendakian di sekitar Desa Tell ketika diserang warga Palestina.
Sebaliknya, warga Palestina mengatakan mereka menghadapi kelompok pemukim bersenjata yang datang dengan dukungan militer Israel sehingga mereka berusaha melindungi desa.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang warga Palestina bergulat dengan salah satu warga Israel bersenjata, merebut senapannya, lalu melepaskan tembakan.
Rekaman lain dari sudut berbeda menunjukkan tentara Israel kemudian membalas dengan tembakan.
Menurut otoritas setempat, bentrokan tersebut menewaskan dua warga Israel dan empat warga Palestina. Sejumlah warga Palestina lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit di Nablus.