← Beranda
Trump Bantah AS Kekurangan Amunisi usai Putuskan Hentikan Sementara Serangan ke Iran
Rian Alfianto• Senin, 27 Juli 2026 | 22.00 WIB
Ilustrasi mimik wajah marah Donald Trump. (CNN)

 

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah spekulasi bahwa keputusan menghentikan sementara serangan terhadap Iran dipicu oleh menipisnya stok amunisi militer AS.

Trump menegaskan negaranya masih memiliki persediaan senjata dalam jumlah jauh lebih besar dibanding negara lain dan tidak mengalami kekurangan amunisi.

Bantahan itu muncul setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa penghentian operasi militer dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran sejumlah pejabat AS terhadap kondisi persediaan amunisi setelah 13 hari berturut-turut melancarkan serangan ke Iran.

Menurut laporan yang mengutip pejabat-pejabat yang mengetahui pembahasan internal pemerintah AS, Trump pada akhir pekan memutuskan untuk tidak memperpanjang serangan, meski militer sebelumnya telah menyiapkan rencana ofensif besar yang diperkirakan bisa berlangsung hingga dua pekan.

Namun, Trump menepis anggapan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan kemampuan persenjataan AS.

"Kita memiliki amunisi jauh lebih banyak daripada siapa pun di dunia, dan jauh lebih banyak daripada yang kita butuhkan," kata Trump kepada The Wall Street Journal.

Pernyataan itu menegaskan bahwa penghentian sementara operasi militer bukan disebabkan oleh keterbatasan stok amunisi. Meski demikian, para pejabat yang dikutip media tersebut mengatakan opsi serangan terhadap Iran masih tetap terbuka karena situasi di kawasan Timur Tengah dinilai terus berubah.

 

Pejabat Militer AS Khawatir Persediaan Amunisi Menyusut

Meski Trump membantah adanya masalah, sejumlah pejabat pertahanan AS disebut mengakui bahwa stok amunisi menjadi perhatian.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine, menurut para pejabat yang dikutip The Wall Street Journal, menilai berkurangnya persediaan amunisi dapat meningkatkan risiko apabila Washington kembali melancarkan serangan ke Iran.

Namun, kondisi itu tidak dianggap cukup untuk menggagalkan operasi militer.

Pandangan serupa juga disampaikan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper.

Ia disebut meyakini militer AS tetap mampu menjalankan operasi jika serangan dilanjutkan karena target utama adalah kemampuan peluncuran rudal Iran, yang diperkirakan akan mengalami kerusakan signifikan apabila diserang.

Dalam laporan yang sama, Gedung Putih menyatakan informasi mengenai jumlah pasti persediaan amunisi merupakan bagian dari keamanan nasional sehingga tidak dapat dipublikasikan.

Meski demikian, The Wall Street Journal mengutip laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada April lalu yang memperingatkan bahwa menyusutnya stok amunisi dapat menjadi risiko jangka pendek apabila AS harus menghadapi konflik global yang lebih besar.

Laporan tersebut menyebut perang melawan kekuatan militer besar seperti Tiongkok berpotensi menghabiskan amunisi dengan laju yang jauh lebih cepat dibanding konflik yang sedang berlangsung saat ini.

Perbedaan pandangan antara Trump dan sejumlah pejabat pertahanan itu menunjukkan bahwa isu kesiapan stok amunisi AS masih menjadi bahan perdebatan di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda dengan Iran.

EDITOR: Estu Suryowati