← Beranda
Menlu Iran Ungkap Detik-detik Selamat dari Serangan AS-Israel yang Tewaskan Khamenei, Akui Ada Kebocoran Intelijen
Rian AlfiantoKamis, 23 Juli 2026 | 05.38 WIB
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghci. (AP).

JawaPos.com - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkap untuk pertama kalinya detik-detik dirinya selamat dari serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang pada Februari lalu.

Dalam kesaksiannya, Araghchi mengakui Israel dan AS memiliki informasi intelijen yang sangat akurat mengenai lokasi para petinggi Iran sehingga mampu melancarkan serangan yang menghantam pusat kepemimpinan negara.

Dalam wawancara dengan jurnalis Iran Javad Mogouyi yang dipublikasikan secara daring pada Minggu, Araghchi mengatakan dirinya berhasil keluar dari reruntuhan gedung setelah terkena ledakan dan sejak itu terus berpindah-pindah menggunakan mobil di Teheran demi menghindari serangan lanjutan.

Ia menilai keberhasilan serangan tersebut menunjukkan adanya celah serius dalam sistem keamanan Iran.

"Yang terpenting menurut saya adalah Israel mengetahui adanya pertemuan-pertemuan itu. Ini mungkin menunjukkan adanya celah keamanan yang kemungkinan masih ada. Hal itu harus diperbaiki," kata Araghchi mengutip Guardian.

Selamat Setelah Tertimbun Reruntuhan

Araghchi menceritakan, saat serangan dimulai ia sedang melapor kepada Wakil Kepala Staf Ali Asghar Hijazi ketika tiga ledakan besar mengguncang kompleks kepemimpinan Iran hanya dalam hitungan detik.

Menurutnya, ledakan ketiga menghantam langsung bagian gedung tempat kantor Hijazi berada hingga menghancurkan sebagian besar bangunan.

"Ledakan ketiga hampir tepat di samping gedung kami. Bagian tempat kantor Tuan Hijazi berada terkena langsung, dan sisi kiri bangunan hancur total," ujarnya.

Sekretaris Hijazi dilaporkan tewas seketika. Sementara Araghchi dan Hijazi selamat meski tertimbun puing-puing bangunan.

"Kami berada di sisi lain gedung. Setelah ledakan, langit-langit, dinding, semuanya runtuh menimpa kami. Saya menggenggam tangan Tuan Hijazi dan kami merangkak melewati balok-balok dan puing-puing sambil mendengar teriakan minta tolong. Air mengalir dari langit-langit. Semuanya hancur. Akhirnya kami berhasil keluar dan melihat berbagai bagian kompleks telah menjadi sasaran serangan," tuturnya.

Mobil dinas Araghchi ikut hancur akibat serangan sehingga ia harus menumpang kendaraan seorang warga untuk menuju Kementerian Luar Negeri.

"Selama tiga hari kami benar-benar terputus dari semuanya sambil mencari tahu siapa yang masih hidup dan siapa yang gugur. Musuh mengira mereka bisa melumpuhkan kami dengan menyerang kepemimpinan, tetapi mereka gagal," katanya.

Iran Akui AS-Israel Mengetahui Lokasi Petinggi Negara

Dalam wawancara itu, Araghchi mengonfirmasi bahwa intelijen AS dan Israel mengetahui lokasi berkumpulnya para pejabat senior Iran pada hari serangan.

Saat itu, sejumlah rapat penting sedang berlangsung di Kementerian Intelijen, Dewan Strategis Kebijakan Luar Negeri, dan Dewan Pertahanan, sehingga serangan dapat diarahkan ke pusat-pusat pengambilan keputusan.

Pengakuan tersebut menjadi salah satu pernyataan paling terbuka dari pejabat tinggi Iran mengenai kemungkinan adanya kebocoran informasi di dalam negeri.

Araghchi juga mengungkapkan dirinya sejak awal tidak terlalu yakin perundingan nuklir dengan AS akan membuahkan hasil. Namun, menurutnya, Iran tetap harus menempuh jalur diplomasi meski peluang keberhasilannya hanya sekitar 10 persen.

"Tidak seorang pun nantinya bisa mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahan kami," ucapnya.

Ia mengklaim Iran sempat mengajukan proposal terkait program nuklir dalam putaran terakhir perundingan di Jenewa.

Namun sehari kemudian, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi memberi tahu bahwa sikap Washington mendadak berubah menjadi jauh lebih agresif. Tak lama setelah itu, serangan gabungan AS dan Israel dimulai.

Iran Siapkan Rencana Tutup Selat Hormuz

Araghchi mengungkapkan Iran sebenarnya telah menyiapkan skenario darurat apabila pemimpin tertinggi menjadi sasaran pembunuhan.

Rencana tersebut diberi nama sandi 'Code 110', merujuk pada pasal dalam konstitusi Iran mengenai kewenangan pemimpin tertinggi. Salah satu langkah yang telah dipersiapkan adalah penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia.

Ia juga menegaskan Iran telah memperingatkan negara-negara tetangganya bahwa setiap serangan terhadap fasilitas nuklir atau energi Iran akan dibalas dengan menyerang target-target di kawasan.

"Jika Israel menyerang fasilitas nuklir kami, kami akan menyerang milik mereka. Rudal kami tidak dapat menjangkau Amerika, jadi kami akan menyerang pangkalan mereka yang sayangnya berada di negara-negara Anda. Jika mereka menyerang fasilitas minyak kami, kami akan memastikan tidak ada seorang pun di kawasan ini yang bisa menjual minyak," kata Araghchi.

Klaim Kapabilitas Rudal Iran Meningkat

Araghchi juga menyebut Iran telah meningkatkan kemampuan militernya setelah kampanye pengeboman Israel selama 12 hari pada 2025.

Menurutnya, waktu yang dibutuhkan untuk mengaktifkan kembali pangkalan rudal setelah diserang kini berkurang drastis, dari sebelumnya sekitar 10 hingga 15 jam menjadi hanya 35 hingga 40 menit.

Menutup wawancara, Araghchi menegaskan sikap Iran terhadap perang maupun diplomasi.

"Kami tidak akan berperang kecuali biaya untuk tidak berperang lebih besar daripada biaya untuk berperang."

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra