← Beranda
Fukushima Berjuang Lestarikan Jejak Bencana Nuklir 2011, Terkendala Akses dan Biaya
Dhimas GinanjarRabu, 22 Juli 2026 | 19.11 WIB
Foto yang diambil pada 3 Februari 2024 memperlihatkan barang-barang yang ditinggalkan di bekas Sekolah Dasar Kumamachi yang telah ditutup di Kota Okuma, Prefektur Fukushima, Jepang. (Kyodo)

JawaPos.com – Berbagai komunitas di Prefektur Fukushima terus berupaya melestarikan bangunan-bangunan yang rusak akibat gempa bumi, tsunami, dan kecelakaan nuklir pada 2011. Bangunan tersebut diharapkan menjadi pengingat bagi generasi mendatang mengenai besarnya dampak bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jepang.

Seperti dilansir Kyodo, Rabu (22/7), upaya pelestarian itu semakin berkembang meski masih menghadapi banyak kendala. Pembatasan akses ke lokasi dan tingginya biaya renovasi menjadi tantangan utama untuk membuka situs-situs tersebut bagi masyarakat luas.

Bencana berkekuatan magnitudo 9,0 mengguncang timur laut Jepang pada 11 Maret 2011. Gempa itu diikuti tsunami besar yang memicu kecelakaan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi dan menyebabkan puluhan ribu warga harus mengungsi.

Salah satu lokasi yang ingin dipertahankan adalah bekas Sekolah Dasar Kumamachi di Kota Okuma. Saat bencana terjadi, sekitar 330 siswa masih terdaftar di sekolah tersebut dan sebagian berada di dalam gedung.

Meski sekolah tidak diterjang tsunami, seluruh siswa harus dievakuasi setelah kecelakaan nuklir. Hingga kini, tas sekolah, buku, dan perlengkapan belajar masih dibiarkan berada di dalam ruang kelas seperti saat ditinggalkan.

Sekelompok warga setempat secara rutin mengadakan kegiatan untuk merawat bangunan beserta barang-barang yang tersisa. Mereka berharap kondisi sekolah tetap dipertahankan sebagai bukti nyata dampak bencana nuklir terhadap kehidupan masyarakat.

"Bencana nuklir menghancurkan fondasi kehidupan kami dan memecah komunitas. Melestarikan tempat ini dapat menunjukkan dampaknya," kata Shinya Ishikawa, 25, alumnus sekolah yang ditutup permanen pada Maret 2022.

Pemerintah Kota Okuma membentuk panel yang terdiri atas warga dan para ahli pada 4 Juni untuk membahas masa depan bangunan tersebut. Keputusan mengenai pelestarian sekolah ditargetkan selesai sebelum akhir tahun fiskal berjalan.

Namun, lokasi sekolah menjadi hambatan besar. Bangunan itu berada di dalam kawasan penyimpanan sementara tanah hasil proses dekontaminasi radiasi sekaligus termasuk zona yang sulit dihuni kembali, sehingga akses masyarakat sangat dibatasi.

Menurut jadwal pemerintah, pembuangan akhir tanah hasil dekontaminasi diperkirakan baru selesai sekitar 19 tahun lagi. Berbeda dengan situs warisan bencana di Prefektur Iwate dan Miyagi, pembukaan sekolah untuk umum membutuhkan koordinasi yang jauh lebih rumit.

Masalah lain adalah biaya. Pemerintah Kota Okuma memperkirakan sedikitnya diperlukan 1,8 miliar yen atau sekitar Rp 199,8 miliar (1 yen sekitar Rp 111) untuk merenovasi gedung sekolah yang telah berusia sekitar 60 tahun agar tetap dapat digunakan.

Sebelumnya, sekitar 2022 warga juga mengumpulkan tanda tangan untuk menyelamatkan perpustakaan kota yang menjadi simbol komunitas. Namun, pemerintah daerah tidak mampu mengalokasikan anggaran perbaikan sehingga bangunan tersebut akhirnya dibongkar pada 2024.

Di sisi lain, sejumlah bangunan milik pribadi berhasil dipertahankan dan dibuka untuk umum. Salah satunya adalah Tungku Matsunaga di Kota Namie, tempat produksi keramik tradisional Obori Soma Ware.

Pemilik generasi keempat, Takeshi Matsunaga, 38, memutuskan mempertahankan bangunan tersebut meski bagian dalamnya rusak akibat hewan liar seperti monyet dan babi hutan. Ia hanya melakukan perbaikan seminimal mungkin agar pengunjung dapat melihat kondisi asli setelah bencana.

"Saya tidak ingin bangunan ini dihancurkan sehingga seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun di sini," ujarnya.

Untuk membiayai perawatan, Matsunaga berencana memanfaatkan penggalangan dana (crowdfunding) dan berbagai sumber pendanaan lainnya.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup Jepang, hingga akhir April hampir 19.000 rumah dan fasilitas publik di 11 kota serta desa di Fukushima yang sempat berada di bawah perintah evakuasi telah dibongkar. Meski demikian, beberapa bangunan penting, termasuk Sekolah Dasar Ukedo di Namie yang mengalami kerusakan parah akibat tsunami, tetap dipertahankan sebagai pengingat salah satu bencana terbesar dalam sejarah Jepang.

EDITOR: Dhimas Ginanjar