← Beranda
Menlu Iran Ungkap Dugaan Kebocoran Intelijen di Jantung Kekuasaan, Serangan yang Tewaskan Khamenei Dinilai Sudah Diketahui Musuh
Rian AlfiantoSelasa, 21 Juli 2026 | 01.33 WIB
Menlu Iran Abbas Araghchi. (Al-Jazeera)

JawaPos.com - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkap dugaan adanya kebocoran intelijen di tingkat tertinggi pemerintahan setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat senior Iran.

Menurut Araghchi, akurasi serangan yang menghantam kompleks kepemimpinan di kawasan Pasteur, Teheran, menunjukkan bahwa pihak lawan kemungkinan mengetahui secara rinci lokasi dan waktu berlangsungnya rapat-rapat penting. Ia bahkan menilai celah keamanan tersebut kemungkinan masih ada hingga sekarang.

"Dalam hitungan detik, tiga serangan menghantam pusat komando di kawasan Pasteur yang menjadi lokasi kantor dan markas Pemimpin Tertinggi Iran," kata Araghchi dalam wawancara televisi bersama aktivis media konservatif Javad Moghayi.

Baca Juga: 9 Ciri Kepribadian Orang yang Hobi Mencoba Restoran Baru Menurut Psikologi

Araghchi menilai keberhasilan serangan tersebut tidak mungkin terjadi tanpa informasi yang sangat akurat.

"Hal yang paling penting, menurut saya, adalah bahwa mereka mengetahui adanya pertemuan-pertemuan itu. Kemungkinan besar ada kebocoran keamanan yang saat itu terjadi dan mungkin masih ada hingga sekarang," ujarnya.

Ia menegaskan persoalan yang dihadapi Iran bukan hanya soal infiltrasi jaringan intelijen.

"Terkadang juga menyangkut upaya memengaruhi arah proses pengambilan keputusan. Saya tidak ingin berbicara lebih jauh mengenai hal itu di depan publik," lanjutnya.

Baca Juga: Eropa dan Inggris Desak Israel Hentikan Penahanan Warga Palestina Tanpa Dakwaan, Lebih dari 9.000 Orang Masih Dipenjara

Serangan Terjadi Saat Rapat Penting Berlangsung

Araghchi menjelaskan bahwa pada pagi hari saat serangan terjadi, Ali Khamenei berada di kantornya seperti rutinitas harian. Pada waktu yang sama, Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri menggelar rapat mingguan, sementara Dewan Pertahanan dan Kementerian Intelijen juga sedang mengadakan pertemuan.

 

"Mereka tahu bahwa Pemimpin Tertinggi berada di kantor setiap pagi. Sejauh yang saya pahami, rapat pusat komando berlangsung di dua atau tiga gedung dari lokasi tersebut, dan mereka memilih momen itu dengan sangat tepat. Pertemuan Kementerian Intelijen juga sedang berlangsung pada saat yang sama," kata Araghchi.

Serangan itu menjadi salah satu operasi paling mematikan pada hari pertama perang AS-Israel melawan Iran. Selain Ali Khamenei, sejumlah tokoh politik dan petinggi militer Iran turut tewas.

Araghchi Akui Sudah Merasakan Situasi Perang

Baca Juga: Kemenhaj Umumkan Waiting List Haji 2027, Persiapan Jemaah Dimulai Lebih Awal

Araghchi juga mengungkap bahwa pada pagi 28 Februari ia telah memperingatkan Presiden Masoud Pezeshkian mengenai situasi yang semakin berbahaya.

"Saya mengatakan kepada Presiden Pezeshkian bahwa atmosfernya sudah seperti perang," ujarnya.

Tak lama setelah serangan Israel menghantam kompleks di Teheran, Araghchi bertemu dengan Ali Asghar Mir Hejazi, salah satu pembantu dekat Khamenei.

Ia juga menceritakan bahwa selama konflik berlangsung, dirinya bersama para pejabat Kementerian Luar Negeri tetap bekerja dari gedung kementerian meski ancaman serangan terus membayangi.

Baca Juga: Merasa Diserang Terkait Program MBG, Prabowo: Memberi Makan Anak dan Ibu Hamil Dianggap Pemborosan

"Selama perang 40 hari, saya, para wakil menteri, dan rekan-rekan saya tidak meninggalkan gedung Kementerian Luar Negeri. Tidak ada tempat yang benar-benar aman," katanya.

Pertemuan dengan Pemimpin Baru Sangat Terbatas

 

Dalam wawancara tersebut, Araghchi turut mengungkap bahwa ia belum pernah bertemu langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.

"Hanya segelintir orang yang telah bertemu dengannya," ujar Araghchi.

Ia menambahkan, beberapa hari setelah perang pecah dirinya sempat bertemu Presiden Pezeshkian, berkonsultasi dengan Ali Larijani lima hari kemudian, dan menggelar pertemuan resmi di lokasi yang aman pada hari keenam konflik.

Pernyataan Araghchi menjadi salah satu pengakuan paling terbuka dari pejabat tinggi Iran mengenai kemungkinan adanya kebocoran intelijen di lingkaran elite pemerintahan.

Jika dugaan tersebut terbukti, hal itu dapat menjadi tantangan serius bagi sistem keamanan nasional Iran di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS dan Israel.

 

EDITOR: Bintang Pradewo