JawaPos.com - Seorang tentara Amerika Serikat (AS) tewas saat menjalankan misi pemusnahan amunisi yang belum meledak dari drone Iran yang berhasil dijatuhkan di Irak utara. Insiden yang terjadi dalam proses peledakan terkendali itu menunjukkan ancaman drone Iran tidak berhenti meski telah dilumpuhkan.
Kematian tersebut menambah jumlah personel militer AS yang gugur sejak perang dengan Iran pecah menjadi 17 orang. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) dalam pernyataannya pada Minggu (19/7) mengatakan insiden terjadi pada 18 Juli.
Seorang prajurit lainnya mengalami luka ringan saat proses peledakan terkendali terhadap amunisi yang belum meledak dari drone Iran. CENTCOM tidak mengungkap identitas kedua personel tersebut.
Baca Juga: KPK Amankan 19 Orang dalam OTT Bupati Lombok Barat, 7 Pihak Dibawa ke Jakarta
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran. Sehari sebelumnya, dua tentara AS dilaporkan tewas akibat serangan Iran di Yordania, sementara satu prajurit lainnya sempat dinyatakan hilang.
CENTCOM kemudian mengungkap telah menemukan jasad yang belum teridentifikasi di lokasi serangan dan kini masih menjalani proses pemeriksaan untuk memastikan identitasnya.
Drone Shahed Tetap Mematikan Meski Sudah Dijatuhkan
Kematian tentara AS di Irak menjadi gambaran bahwa drone bunuh diri Shahed milik Iran tetap berbahaya bahkan setelah berhasil ditembak jatuh. Amunisi yang tidak meledak masih berpotensi menimbulkan ledakan saat proses evakuasi maupun pemusnahan.
Sejumlah laporan menyebut drone Shahed dapat diproduksi dengan biaya sekitar 30.000 dolar AS per unit. Harga produksinya yang relatif murah memungkinkan Iran menggunakannya dalam jumlah besar, sementara rudal pencegat yang dipakai AS untuk menghancurkan drone tersebut dapat bernilai jutaan dolar AS per unit dan tidak selalu berhasil mengenai sasaran.
Serangan AS dan Iran Terus Berbalas
Pengumuman CENTCOM itu muncul ketika militer AS kembali melancarkan serangan ke Iran untuk malam kedelapan berturut-turut. Sebagai balasan, Teheran menembakkan rudal dan drone yang menargetkan aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Mengutip Al-Jazeera, eskalasi terbaru ini terjadi setelah gencatan senjata sementara yang disepakati sekitar sebulan lalu runtuh akibat memanasnya perebutan kendali di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.
Media Iran melaporkan militer AS menyerang wilayah dekat Kota Sirik di Iran selatan dan kawasan Shadegan yang berada tidak jauh dari perbatasan Irak. Ledakan juga dilaporkan terdengar di Kota Abadan, Iran barat daya.
Di sisi lain, Organisasi Energi Atom Iran mengecam serangan AS terhadap lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Darkhovin. Kantor berita Mehr melaporkan kecaman tersebut, sementara Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan sedang menyelidiki laporan serangan itu dan mencatat bahwa fasilitas tersebut masih berada pada tahap awal pembangunan.
Iran Serang Balik Pangkalan AS
Sebagai respons atas serangan terbaru, televisi pemerintah Iran melaporkan pasukannya melancarkan serangan drone ke aset militer AS di Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.
Pemerintah Kuwait menyatakan fasilitas desalinasi air kembali menjadi sasaran serangan untuk hari kedua berturut-turut. Serangan itu memicu kebakaran dan disebut sebagai serangan langsung terhadap infrastruktur sipil yang vital.
Sementara itu, Bahrain menyebut sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat serangan Iran. Sirene juga berbunyi di Yordania setelah militer negara tersebut mengaku menembak jatuh tiga rudal Iran.
Pemerintah Yordania kemudian memanggil kuasa usaha Iran untuk menyampaikan protes atas rangkaian serangan tersebut. Hingga kini, perang antara AS dan Iran telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon.
Konflik juga memicu gangguan pasokan energi global serta meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dan inflasi dunia.