JawaPos.com - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan Amerika Serikat (AS) akan menerima 'pelajaran yang tak terlupakan' dari Teheran dan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.
Pernyataan keras itu muncul di tengah memanasnya perang Iran-AS-Israel sekaligus runtuhnya nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang sebelumnya dimediasi Qatar dan Pakistan.
Dalam pernyataan tertulis yang dibacakan di televisi pemerintah Iran pada Sabtu, Khamenei menuduh Washington berulang kali melanggar kesepakatan yang ditandatangani bulan lalu. Menurutnya, tindakan tersebut membuktikan bahwa komitmen Presiden AS Donald Trump tidak lagi dapat dipercaya.
Baca Juga: Apple Maps Bakal Hadirkan Iklan, Fokus Promosikan Bisnis Lokal dan Tempat Wisata
"Pelanggaran berulang terhadap kesepakatan oleh Setan Besar kembali membuktikan kepada semua orang bahwa tanda tangan Presiden Amerika kini sama sekali tidak bernilai dan tidak sah. Perundungan, hegemoni, dan kebiadaban adalah bagian yang tak terpisahkan dari doktrin Amerika," demikian isi pernyataan tersebut.
Khamenei juga menegaskan Iran tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan yang terus meningkat dari Washington.
"Kini ketika musuh Amerika berusaha memicu perang dan menanggung biaya yang lebih besar serta penghinaan lebih lanjut, mereka harus mengetahui bahwa bangsa Iran dan Front Perlawanan memiliki pelajaran yang tak terlupakan bagi mereka," lanjut pernyataan itu.
Iran Sebut AS Ungkap Wajah Sebenarnya
Dalam pernyataannya, Khamenei menilai tindakan militer AS belakangan ini semakin memperlihatkan karakter Washington yang sesungguhnya.
Ia menyebut Amerika telah menunjukkan 'wajah aslinya' dengan memperlihatkan sifat 'penuh tipu daya, tidak rasional, tidak dapat dipercaya, dan jahat'.
Khamenei kemudian mengajak rakyat Iran tetap bersatu di belakang kepemimpinan negara serta terus waspada selama konflik masih berlangsung.
Ia juga meminta masyarakat tetap aktif mendukung upaya pemerintah dalam mempertahankan keamanan nasional di tengah perang yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Serangan Terus Meningkat, Infrastruktur Sipil Jadi Sasaran
Ketegangan meningkat setelah AS memperluas serangannya terhadap Iran pada pekan ini. Serangan tersebut dilaporkan menyasar sejumlah infrastruktur sipil, termasuk jembatan, jalur kereta api, hingga fasilitas desalinasi air.
Sebagai balasan, Teheran mengklaim berhasil menyerang infrastruktur sipil di Kuwait. Otoritas Kuwait bahkan mengimbau masyarakat menghemat penggunaan listrik menyusul gangguan yang terjadi.
Perang antara AS, Israel, dan Iran yang dimulai sejak Februari kini dipandang sebagai ancaman terhadap kelangsungan keamanan nasional Iran. Meski tekanan dari Washington terus meningkat, pemerintah Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan memenuhi tuntutan Amerika.
Di sisi lain, sejumlah negara di kawasan dilaporkan masih berupaya mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Ancaman Penutupan Jalur Bab al-Mandeb
Situasi juga berpotensi semakin memburuk setelah muncul laporan bahwa kelompok Houthi di Yaman tengah mempertimbangkan penutupan Selat Bab al-Mandeb sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.
Jika langkah tersebut benar-benar dilakukan, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden itu berpotensi mengganggu distribusi energi dunia, mendorong kenaikan inflasi global, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Donald Trump untuk menghentikan operasi militernya.
MoU yang dimediasi Qatar dan Pakistan pada bulan lalu sejatinya disusun untuk membuka jalan menuju penghentian perang secara permanen.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan upaya tersebut gagal. Baik Teheran maupun Washington kini sama-sama menyatakan kesepakatan tersebut sudah tidak lagi berlaku setelah saling menuduh pihak lawan melanggar isi perjanjian.