JawaPos.com - Keiko Fujimori resmi ditetapkan sebagai Presiden Peru terpilih setelah memenangkan putaran kedua pemilihan presiden pada 7 Juni dengan selisih suara yang sangat tipis atas kandidat sayap kiri Roberto Sanchez.
Keiko Fujimori sendiri membuat sejarah dengan menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai presiden Peru.
Politikus 51 tahun itu dijadwalkan dilantik pada 28 Juli mendatang, menggantikan presiden sementara Jose Maria Balcazar.
Usai menerima surat mandat sebagai presiden dari otoritas pemilu di Lima, Fujimori langsung menyerukan persatuan nasional.
Ia mengajak seluruh kekuatan politik, lembaga negara, hingga serikat pekerja untuk mengakhiri polarisasi yang selama ini membelah Peru.
"Rekonsiliasi nasional tidak berarti melupakan perbedaan kita; itu berarti belajar untuk membangun apa yang menyatukan kita," kata Fujimori.
Ia menambahkan bahwa tidak ada pemerintahan yang mampu membawa Peru maju jika terus mempertahankan perpecahan politik.
"Tidak ada pemerintah yang bisa memajukan Peru jika terus memberi makan divisi," ujarnya.
Namun, seruan rekonsiliasi tersebut langsung mendapat penolakan dari rivalnya, Roberto Sanchez. Menurutnya, Fujimori seharusnya terlebih dahulu meminta maaf kepada rakyat Peru sebelum berbicara mengenai persatuan.
"Bagaimana kita akan mencium tangannya? Hal pertama yang harus dilakukan Fujimori adalah berlutut dan meminta pengampunan," kata Sanchez kepada para pendukungnya di Lima.
Bayang-bayang Warisan Alberto Fujimori
Terpilihnya Keiko Fujimori kembali menghidupkan perdebatan lama mengenai warisan politik ayahnya, mantan Presiden Alberto Fujimori. Sosok Alberto masih menjadi figur yang sangat kontroversial di Peru.
Alberto Fujimori memimpin Peru pada 1990 hingga 2000. Setelah lengser, ia diasingkan dan kemudian dipenjara atas kasus korupsi serta pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan dalam operasi pemberantasan kelompok yang dianggap teroris.
Latar belakang tersebut membuat sebagian masyarakat masih sulit menerima kepemimpinan Keiko Fujimori meski ia kini memenangkan pemilu secara sah.
Tantangan Berat Menanti Pemerintahan Baru
Mengutip France24, analis politik Eduardo Dargent menilai tantangan pertama Fujimori setelah dilantik adalah menjaga stabilitas pemerintahan dan memastikan agenda pemerintahannya dapat berjalan di tengah kondisi politik yang terbelah.
Menurut Dargent, Fujimori harus mampu 'ensure governability' sekaligus memenuhi janji kampanyenya untuk 'restore order' melalui penanganan kejahatan yang lebih tegas.
Tantangan itu tidak mudah karena kubu Fujimori tidak menguasai mayoritas kursi di Kongres Peru, sehingga berbagai kebijakan berpotensi menghadapi hambatan politik.
Janji Perang Melawan Kejahatan
Selama masa kampanye, Fujimori mengusung agenda keamanan yang menjadi perhatian utama publik Peru.
Ia berjanji mengerahkan militer untuk membantu menjaga keamanan, memperketat sistem pemasyarakatan, serta mengambil langkah keras menghadapi meningkatnya pemerasan dan kejahatan dengan kekerasan.
Namun, tidak semua masyarakat memiliki keyakinan yang sama. Pendukung Sanchez, Silvia Quintana, mengaku tidak percaya terhadap janji-janji presiden terpilih tersebut.
"Kami tidak percaya apa pun yang dikatakan Fujimori karena dia selalu berbohong. Kami tidak mengakui pemerintahannya," ujar Quintana kepada AFP.
Baca Juga: Keiko Fujimori Menang Pilpres Peru, Bayang-bayang Dinasti Politik Ayahnya Masih Jadi Kontroversi
Kondisi itu menunjukkan bahwa meski Keiko Fujimori telah resmi ditetapkan sebagai presiden terpilih, jalan menuju pemerintahan yang stabil masih dipenuhi tantangan politik dan polarisasi yang belum sepenuhnya mereda. (*)