JawaPos.com — Kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah kehidupan penyandang tunanetra dan gangguan penglihatan. Perangkat yang awalnya dikenal sebagai teknologi gaya hidup kini berkembang menjadi alat bantu yang mampu membaca teks, mengenali objek, hingga meningkatkan kemandirian pengguna. Namun, kemampuan kamera yang terus aktif juga memunculkan kekhawatiran terkait potensi pengawasan tanpa izin.
Bagi Sam Taylor, pengguna dengan gangguan penglihatan sekaligus pemimpin teknologi akses di Vision Australia, kacamata AI menjadi perubahan besar dalam aktivitas sehari-hari. Dia tidak lagi perlu mengeluarkan ponsel dan mengarahkan kamera untuk mengenali benda. Melalui perintah “Look and read”, perangkat dapat menjelaskan objek dan membacakan informasi melalui pengeras suara. “Bagi seseorang seperti saya yang memiliki gangguan penglihatan, kacamata ini benar-benar mengubah hidup saya,” ujar Taylor.
Dilansir dari ABC News, Rabu (15/7/2026), kacamata AI membantu komunitas tunanetra melakukan berbagai aktivitas, mulai dari membaca label hingga memilah surat. “Setiap hari saya memeriksa surat, dan sekarang jauh lebih mudah untuk mengidentifikasi serta memisahkan surat sampah dari surat yang mungkin ingin saya simpan,” kata Taylor.
Manfaat serupa dirasakan Sam Noonan, penyanyi folk asal Wollongong yang buta sejak lahir. Setelah melihat demonstrasi kacamata AI dalam acara Vision Australia Expo, dia langsung membelinya. Noonan menggunakannya untuk merekam musik, mengunggah karya secara daring, serta mendeskripsikan gambar yang dibuat cucunya. “Hal-hal ini mungkin terlihat sepele, tetapi ketika biasanya Anda tidak bisa melakukannya, hal itu menjadi sangat berarti,” ujarnya.
Meski tidak dirancang khusus sebagai perangkat aksesibilitas, kacamata AI seperti Meta Glasses mulai menjadi alternatif lebih murah dibandingkan perangkat bantu penglihatan tradisional yang dapat mencapai sekitar USD 5.000 atau Rp90,45 juta dengan kurs Rp18.090 per dolar AS.
Taylor menyebut perangkat baru tersebut menawarkan lebih banyak fungsi dengan biaya sekitar sepersepuluhnya. “Yang kita lihat sekarang adalah sebuah perangkat yang memungkinkan kita tidak hanya membaca sesuatu dengan suara keras, tetapi juga melakukan banyak pilihan tambahan,” katanya.
Menurut Taylor, daya tarik utama teknologi ini terletak pada kemudahan penggunaannya. “Bahkan jika Anda tidak menganggap diri Anda sebagai orang yang paham teknologi, Anda dapat menggunakan Meta Glasses dengan bahasa alami dan berbicara dengannya seperti berbicara dengan seseorang,” ujarnya.
Kacamata tersebut juga terhubung dengan aplikasi Be My Eyes yang memungkinkan pengguna meminta bantuan relawan melalui sudut pandang kamera. “Saya telah bepergian secara mandiri ke sisi lain negara ini, atau dalam beberapa kasus ke belahan dunia lain, dan seorang relawan selalu membantu saya melewati bandara atau menemukan hotel,” kata Taylor.
Namun, di balik manfaatnya bagi penyandang disabilitas, kacamata pintar AI juga memunculkan sisi gelap teknologi yang mengkhawatirkan. Peneliti teknologi baru dari University of Sydney, Milica Stilinovic, memperingatkan bahwa kamera yang melekat pada perangkat tersebut dapat disalahgunakan sebagai alat perekam tersembunyi yang sulit disadari oleh orang di sekitarnya.
Stilinovic menyoroti munculnya praktik menyeramkan ketika seseorang menggunakan kamera pintar untuk merekam perempuan secara diam-diam lalu menyebarkan rekamannya secara daring. “Pria mendekati perempuan di tangga apartemen mereka, pria mendekati lima perempuan di pantai, lalu kembali keesokan harinya dan melakukan hal yang sama,” ujarnya.
Kacamata Meta memang memiliki lampu indikator saat merekam, tetapi sejumlah cara untuk menghindari tanda tersebut telah beredar secara daring. Pakar hukum University of Sydney, Barbara McDonald, mengatakan penyebaran rekaman pribadi dapat melanggar aturan privasi Australia. “Ketika Anda mengunggah sesuatu ke internet, Anda mungkin melanggar Undang-Undang Kejahatan Federal atau Undang-Undang Telekomunikasi, terutama jika rekaman atau foto tersebut digunakan untuk melecehkan atau mengintimidasi seseorang,” katanya.
Perkembangan kacamata AI mencerminkan tantangan besar teknologi masa kini: bagaimana menghadirkan inovasi yang memperluas aksesibilitas tanpa mengorbankan hak privasi. Seiring perangkat pintar semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari, regulator dituntut memperbarui aturan agar manfaat teknologi tetap berjalan dengan perlindungan yang memadai bagi masyarakat.