← Beranda
Iran Sindir Trump Soal Tarif Keamanan 20 Persen di Selat Hormuz: Terlalu Banyak
Rian AlfiantoRabu, 15 Juli 2026 | 02.42 WIB
Ilustrasi situasi perairan di Selat Hormuz. (Reuters)

JawaPos.com - Kebijakan baru Washington yang mematok biaya keamanan 20 persen pada kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz menuai kritik tajam.

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi melontarkan sindiran tajam kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas klaim menjadi 'penjaga' Selat Hormuz

Araghchi menegaskan bahwa Iran selama ini merupakan pihak yang menjaga keamanan Selat Hormuz dan menyindir besaran tarif yang diusulkan Trump, karena dinilai terlalu tinggi.

Melalui unggahan di media sosial pada Senin (13/7), Araghchi menulis, "POTUS benar sekali. Siapa pun yang menyediakan jalur kapal komersial yang aman dan aman melalui Selat Hormuz harus diberi kompensasi untuk layanan ini."

Baca Juga: AS-Iran saling Berbalas Serangan lagi, Risiko Perang Terbuka di Teluk Meningkat

Namun, ia kemudian menambahkan sindiran terhadap kebijakan Trump yang dinilai berlebihan.

"Iran selalu menjadi penjaga selat dan akan tetap demikian selamanya. 20 persen tentu saja terlalu banyak. Kami akan bersikap adil," kata Araghchi.

Trump Klaim AS Jadi Penjaga Selat Hormuz

Pernyataan Araghchi muncul setelah Trump dalam wawancara dengan program Fox & Friends menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menjadi 'guardian angel' atau malaikat pelindung Selat Hormuz.

Menurut Trump, AS berhak memperoleh bayaran karena bertugas menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.

"Kami akan menjadi guardian angel bagi selat itu dan kami akan dibayar karena menjaganya," ujar Trump.

Baca Juga: Iran Eksekusi Mati 2 Anggota ISIS, Didakwa Rencanakan Pemberontakan Bersenjata

Tak lama setelah wawancara tersebut, Trump kembali menegaskan sikapnya melalui platform Truth Social.

Ia menulis bahwa mulai sekarang Amerika Serikat akan dikenal sebagai 'The Guardian of the Hormuz Strait'.

Dan demi alasan keadilan, akan memperoleh penggantian biaya sebesar 20% dari seluruh kargo yang dikirim melalui Selat Hormuz sebagai kompensasi atas biaya pengamanan kawasan yang disebutnya sangat bergejolak.

Tarif 20 Persen Dinilai Bertentangan dengan Hukum Internasional

Mengutip Asia Times, usulan Trump langsung menuai kritik dari berbagai pengamat dan pakar hukum internasional.

Mereka menilai tarif 20 persen jauh lebih tinggi dibandingkan biaya 1-2% yang sebelumnya pernah diusulkan Iran.

Baca Juga: Rudal Iran Hantam 2 Kapal Tanker UEA di Selat Hormuz, 1 Kru Tewas, 8 Terluka

Bahkan, sejumlah analis menilai langkah Trump justru dapat memperkuat argumen Teheran apabila Iran kembali berupaya mengenakan biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Selain itu, para pengamat juga menyoroti perbedaan sikap pemerintahan AS terkait pungutan di selat Hormuz. 

Beberapa pekan sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa hukum internasional tidak memperbolehkan negara mana pun memungut biaya di jalur pelayaran internasional.

"Tidak ada negara yang diizinkan mengenakan tarif atau biaya di jalur perairan internasional. Itulah hukum internasional yang berlaku di seluruh dunia, dan kami berharap aturan yang sama juga berlaku di sini. Saya rasa seluruh negara di kawasan akan sependapat dengan kami," kata Rubio kepada wartawan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Baca Juga: Trump Ancam Serangan Besar ke Iran jika Ia Dibunuh, AS Bisa Balas Dendam Otomatis?

Sebagian besar ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk melewati kawasan sibuk ini. 

Sehingga setiap kebijakan atau ketegangan yang terjadi di wilayah itu dapat berdampak langsung terhadap perdagangan global dan harga energi dunia.

Pernyataan saling sindir antara Iran dan Amerika Serikat menambah panas persaingan kedua negara di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan keamanan jalur pelayaran internasional.

 

EDITOR: Bayu Putra