JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling berbalas serangan satu sama lain.
AS kembali melancarkan serangan militer ke sejumlah target di Iran pada Selasa (14/7) waktu setempat.
Aksi tersebut langsung dibalas Teheran dengan menyerang sejumlah sasaran di Timur Tengah, termasuk Bahrain, Yordania, dan kapal-kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.
Rangkaian serangan terbaru ini memicu kekhawatiran bahwa konflik kedua negara dapat kembali berkembang menjadi perang terbuka yang lebih luas.
Baca Juga: Iran Eksekusi Mati 2 Anggota ISIS, Didakwa Rencanakan Pemberontakan Bersenjata
Mengutip AP News, serangan terbaru juga menandai runtuhnya kesepakatan sementara yang sebelumnya disepakati.
Yakni untuk menghentikan pertempuran, membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, serta memberi kesempatan bagi proses diplomasi menuju gencatan senjata permanen.
AS Sasar Sistem Rudal dan Pertahanan Pantai Iran
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan menyasar sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk sistem pertahanan pantai, lokasi rudal, pangkalan drone, dan kemampuan maritim negara tersebut.
Militer AS menyebut operasi itu bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran internasional di Selat Hormuz.
"Serangan-serangan ini akan terus memberikan kerugian besar kepada pasukan Iran dan mengurangi kemampuan mereka untuk menyerang warga sipil yang tidak bersalah serta kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," demikian pernyataan militer AS.
Baca Juga: Rudal Iran Hantam 2 Kapal Tanker UEA di Selat Hormuz, 1 Kru Tewas, 8 Terluka
Iran mengonfirmasi wilayahnya menjadi sasaran serangan, namun belum mengungkap jumlah korban maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.
Tak lama setelah operasi diumumkan, Presiden Donald Trump menyebut aksi tersebut sebagai "serangan besar lainnya" dan menegaskan pemerintahannya kembali memberlakukan blokade terhadap Iran.
Iran Balas Serang Sekutu AS
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan ke sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan.
Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS kembali menjadi sasaran. Sirene peringatan rudal dibunyikan hingga tiga kali dan warga diminta segera berlindung.
Militer Yordania juga mengumumkan telah mencegat empat rudal yang ditembakkan Iran ke wilayahnya. Negara itu diketahui menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat.
Baca Juga: Trump Ancam Serangan Besar ke Iran jika Ia Dibunuh, AS Bisa Balas Dendam Otomatis?
Selain itu, Iran menyerang tiga kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Dua kapal yang terkait dengan Uni Emirat Arab, yakni Mombasa dan Al Bahiyah, sempat terbakar.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan serangan tersebut menewaskan satu pelaut dan melukai delapan lainnya. Pemerintah UEA pun mengancam akan memberikan balasan.
Di saat yang sama, perusahaan pelayaran Belanda Stolt Tankers mengungkapkan kapal Stolt Magnesium turut diserang di Laut Arab dekat Oman. Kebakaran terjadi di ruang mesin, namun seluruh awak kapal berhasil selamat.
Korps Garda Revolusi Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal Mombasa dan Al Bahiyah. Menurut mereka, kapal-kapal tersebut tetap melintas meski telah menerima peringatan berulang.
Eskalasi terbaru di teluk kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai pusat perhatian dunia.
Baca Juga: AS Gempur Puluhan Target di Iran, Teheran Balas Serang Pangkalan Militer AS di Teluk
Jalur pelayaran ini merupakan salah satu rute energi terpenting karena menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam global.
Selama konflik berlangsung, Iran berulang kali menggunakan ancaman terhadap kapal-kapal dagang sebagai strategi untuk menekan lawannya. Akibatnya, harga minyak dan berbagai komoditas dunia sempat melonjak tajam.
Meski kesepakatan sementara sebelumnya ditujukan untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut, serangan terbaru menunjukkan situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memburuk.
Para analis menilai apabila solusi diplomatik tidak segera tercapai, konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi berkembang menjadi perang terbuka yang lebih luas, dengan dampak besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah maupun perekonomian global.
Baca Juga: Drone dan Rudal Iran Kembali Hantam Pangkalan Militer AS di Bahrain dan Radar Oman