JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran atas munculnya ancaman pembunuhan terhadapnya.
Ia mengklaim telah menyiapkan perintah agar militer AS melancarkan serangan dengan skala yang 'belum pernah terlihat sebelumnya' apabila Teheran benar-benar menjalankan ancaman untuk membunuhnya.
Namun, benarkah Amerika Serikat memiliki sistem yang secara otomatis melancarkan serangan balasan jika presidennya tewas?
Jawabannya adalah tidak. Konstitusi dan sistem pemerintahan AS tidak mengenal mekanisme otomatis semacam itu.
Baca Juga: AS Gempur Puluhan Target di Iran, Teheran Balas Serang Pangkalan Militer AS di Teluk
Dalam unggahan di media sosial pada Sabtu, Trump menyatakan Iran telah mengancam akan 'membunuh atau mencoba membunuh' dirinya.
Ia bahkan mengklaim sekitar 1.000 rudal telah 'terkunci dan siap diluncurkan' ke arah Republik Islam Iran, dengan ribuan rudal lain siap menyusul jika ancaman tersebut benar-benar diwujudkan.
Meski demikian, para pakar menegaskan tidak ada mekanisme "dead man's switch" atau sistem balas dendam otomatis dalam struktur militer maupun pemerintahan Amerika Serikat.
AS Tidak Punya Sistem Serangan Balasan Otomatis
Jika seorang presiden AS meninggal dunia akibat pembunuhan atau serangan, proses pengambilalihan kekuasaan diatur oleh Amendemen ke-25 Konstitusi AS dan Presidential Succession Act 1947.
Artinya, apabila Trump terbunuh, Wakil Presiden JD Vance secara otomatis akan menjadi presiden sekaligus panglima tertinggi angkatan bersenjata.
Baca Juga: Drone dan Rudal Iran Kembali Hantam Pangkalan Militer AS di Bahrain dan Radar Oman
Keputusan untuk membalas serangan sepenuhnya berada di tangan Vance, bukan berdasarkan perintah otomatis yang telah diprogram sebelumnya.
Garrett M. Graff, penulis buku Raven Rock: The Story of the U.S. Government's Secret Plan to Save Itself -- While the Rest of Us Die, mengatakan Amerika Serikat memang tidak pernah menerapkan sistem tersebut.
"AS, karena berbagai alasan, tidak pernah menggunakan 'switch orang mati' teknis," kata Graff mengutip AP News.
Amerika Serikat memang memiliki berbagai rencana darurat untuk menjaga keberlangsungan pemerintahan apabila terjadi serangan nuklir atau bencana besar yang melumpuhkan Washington.
Namun, skenario tersebut juga tidak mengatur peluncuran serangan balasan secara otomatis hanya karena presiden tewas.
Ancaman Meningkat di Tengah Konflik dengan Iran
Pernyataan Trump muncul ketika hubungan Washington dan Teheran kembali memanas.
Beberapa jam setelah unggahan Trump, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan rakyat Iran akan terus menuntut balas atas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan awal Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Dalam pidatonya yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Mojtaba menyatakan aksi balas dendam merupakan kehendak rakyat Iran.
"Kami berjanji untuk membalas dendam atas darah murni Anda dan semua martir dari dua perang ini dari para pembunuh kriminal dan tercela," ujarnya.
"Balas dendam ini adalah kehendak bangsa kita dan tentu harus dilaksanakan," imbuh Mojtaba.
Baca Juga: IRGC: Iran akan Buka Selat Hormuz setelah AS Berhenti Campur Tangan
Pekan ini, prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran juga diwarnai dengan kemunculan poster dan spanduk yang menyerukan pembunuhan terhadap Donald Trump serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Laporan Dugaan Rencana Pembunuhan Trump
Ketegangan semakin meningkat setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa Israel telah memberi tahu pejabat Amerika Serikat mengenai dugaan rencana baru Iran untuk membunuh Trump.
Pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut maupun mengenai nasib perintah militer Trump apabila dirinya benar-benar menjadi sasaran pembunuhan.
Trump sendiri sempat menyinggung ancaman tersebut saat menghadiri KTT NATO di Turki pekan ini.
Sementara itu, mantan Wakil Sekretaris Pers Pentagon pada pemerintahan Joe Biden, Sabrina Singh, menilai ancaman Iran terhadap para pemimpin senior Amerika bukan hal baru dan harus diperlakukan secara serius.
Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Ditutup, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak usai AS-Iran Memanas
"Iran ingin menargetkan para pemimpin senior Amerika adalah sesuatu yang kita tahu sedang terjadi."
Ia menambahkan, "Anda harus menganggap ini sebagai ancaman yang kredibel."