← Beranda
Drone dan Rudal Iran Kembali Hantam Pangkalan Militer AS di Bahrain dan Radar Oman
Rian AlfiantoSelasa, 14 Juli 2026 | 02.47 WIB
Ilustrasi rudal Iran serang pangkalan militer AS di negara teluk. (AFP via Al-Jazeera)

JawaPos.com - Iran kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Bahrain serta sistem radar di Oman pada Senin (13/7) waktu setempat.

Aksi tersebut menandai babak baru eskalasi konflik antara Teheran dan Washington yang kini juga berdampak pada keamanan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) menyatakan sasaran serangan meliputi infrastruktur militer AS di kawasan Juffair, Bahrain, serta sistem radar pengawasan udara jarak jauh dan radar pengawasan maritim di Oman.

Mengutip pernyataan Angkatan Laut IRGC yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB, serangan dilakukan menggunakan kombinasi rudal dan pesawat nirawak (drone).

Baca Juga: IRGC: Iran akan Buka Selat Hormuz setelah AS Berhenti Campur Tangan

Tak lama setelah klaim tersebut diumumkan, Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyatakan sirene peringatan serangan udara kembali dibunyikan di berbagai wilayah negara itu.

Pemerintah meminta seluruh warga dan penduduk tetap tenang serta segera menuju lokasi perlindungan terdekat sebagai langkah antisipasi.

Di saat yang sama, IRGC kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali untuk lalu lintas pelayaran selama AS masih melakukan intervensi militer di kawasan tersebut.

"Satu-satunya cara untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim adalah jika Amerika Serikat mengakhiri campur tangan militernya di jalur perairan strategis tersebut dan menghormati kedaulatan negara-negara pesisir," demikian pernyataan IRGC.

Kelompok militer elite Iran itu juga memperingatkan bahwa aktivitas militer AS yang terus berlanjut di Selat Hormuz berpotensi memicu 'insiden yang lebih besar' dan berdampak langsung terhadap sektor minyak serta gas dunia.

Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Ditutup, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak usai AS-Iran Memanas

Situasi ini memperburuk ketegangan yang dalam beberapa hari terakhir meningkat menyusul saling serang antara Iran dan Amerika Serikat setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Sebelumnya, pada Minggu (12/7), IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh aktivitas pelayaran 'hingga pemberitahuan lebih lanjut'.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia dikirim melalui jalur laut tersebut.

Padahal, bulan lalu Iran dan Amerika Serikat sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan.

Kesepakatan itu bertujuan menghentikan konflik militer kedua negara sekaligus membuka jalan menuju perjanjian damai jangka panjang.

Baca Juga: AS Luncurkan Gelombang Serangan Baru ke Iran, Trump Sesumbar: Kami Menghajar Mereka!

Namun, di tengah meningkatnya eskalasi terbaru, Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman dengan Iran tersebut telah 'berakhir', menandakan jalur diplomasi yang sempat dibangun kini kembali menemui jalan buntu.

Meningkatnya tensi di kawasan Teluk diperkirakan akan terus menjadi perhatian dunia karena berpotensi mengganggu stabilitas keamanan regional, jalur perdagangan internasional, hingga pasokan energi global.

 

EDITOR: Bayu Putra