JawaPos.com - Iran menegaskan tidak akan memulai perundingan menuju kesepakatan damai permanen dengan Amerika Serikat (AS) selama ancaman militer masih terus disampaikan.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump yang kembali membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika diplomasi gagal.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Selasa (7/7) menegaskan bahwa sikap tersebut mengacu pada poin penting dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang telah disepakati kedua negara.
Baca Juga: Eks Kapolres Bima Diduga Terima Rp2,8 Miliar dari Bandar Sabu, JPU: Biayai 7 Orang Umrah
"Paragraf 13 dari MoU jelas: Negosiasi mengenai kesepakatan akhir tidak akan dimulai jika ancaman terus berlanjut. Hormati tanda tangan Anda," tulis Araghchi melalui akun media sosial X.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Teheran menganggap ancaman militer bertentangan dengan komitmen yang telah disepakati dalam dokumen diplomatik antara kedua negara.
Trump: Capai Kesepakatan atau Selesaikan dengan Kekuatan
Komentar Araghchi muncul hanya beberapa jam setelah Trump kembali memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap menggunakan kekuatan militer apabila jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam kondisi apa pun.
"Kami akan membuat kesepakatan atau kami akan menyelesaikan pekerjaan. Oke, dan tidak akan sulit untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Saya lebih suka membuat kesepakatan, karena saya tidak ingin mempengaruhi 91 juta orang," kata Trump seperti sudah diberitakan sebelumnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington masih membuka ruang negosiasi, tetapi tetap mempertahankan opsi militer sebagai tekanan terhadap Teheran.
MoU Iran-AS Masih Berlaku
Nota kesepahaman yang menjadi dasar proses diplomasi ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump pada 18 Juni lalu. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan itu mulai berlaku pada hari yang sama.
Dokumen berisi 14 poin tersebut membuka masa diplomasi selama 60 hari melalui perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat. Tujuannya adalah mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen setelah konflik bersenjata yang terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Menurut Psikologi, Inilah 7 Kekuatan Introvert yang Sering Disalahartikan sebagai Kelemahan
Namun, pernyataan terbaru dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa proses diplomasi masih dibayangi ketegangan dan saling ancam.