JawaPos.com — Upacara pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berubah menjadi panggung demonstrasi politik yang sarat emosi, kemarahan, dan seruan balas dendam. Di tengah ribuan pelayat yang memenuhi Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran, pada Minggu (5/7), sejumlah peserta secara terbuka menyerukan pembunuhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai bentuk pembalasan atas tewasnya Khamenei dalam perang Amerika Serikat-Israel.
Prosesi tersebut menjadi hari kedua dari rangkaian pemakaman nasional selama sepekan yang diselenggarakan pemerintah Iran. Selain menjadi penghormatan terakhir kepada pemimpin spiritual yang telah memimpin negara itu selama puluhan tahun, acara ini juga dimanfaatkan untuk menunjukkan ketahanan sosial Iran di tengah konflik bersenjata yang masih membekas setelah perang yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Dilansir dari The Guardian, Senin (6/7/2026), sholat jenazah bagi Ali Khamenei dan empat anggota keluarganya berlangsung di hadapan lautan massa yang telah memadati kompleks masjid sejak dini hari. Banyak pelayat bermalam di lokasi agar dapat mengikuti doa yang dimulai pukul 08.00 waktu setempat. Mereka membawa bendera Iran, foto Khamenei, serta mengibarkan bendera merah yang dalam tradisi Syiah melambangkan tuntutan balas dendam. Skala kerumunan disebut jauh lebih besar dibandingkan hari pertama upacara dan memperlihatkan atmosfer yang semakin militan.
Sesaat sebelum salat jenazah dimulai, penyair Mohammad Rasouli membacakan puisi yang berisi seruan keras terhadap Trump. Dalam pidatonya, ia berkata, “Mulai sekarang kain kafan adalah pakaian kami. Demi darahmu, pembunuhan Trump adalah tanggung jawab kami.”
Ia kemudian melanjutkan, “Mengapa manusia paling biadab di dunia masih hidup? Dunia bukan lagi tempat yang baik bagi Trump. Mengapa kita tidak membunuh orang yang membunuh imam kita? Akan menjadi aib jika kita tidak melakukannya.” Pernyataan yang disebut telah memperoleh persetujuan penyelenggara itu memicu respons beragam, meski mayoritas hadirin menyambutnya dengan sorak-sorai.
Nada serupa juga disampaikan sejumlah pejabat Iran. Duta Besar Iran untuk Armenia, Khalil Shirgholami, melalui media sosial X menulis, “Kalian bisa membunuh manusia, tetapi tidak bisa membunuh cita-cita. Kalian membunuh Ayatollah Khamenei, tetapi sesungguhnya hanya memecahkan sebotol parfum yang kini keharumannya menyebar ke mana-mana.”
Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohammed Bagher Zolghadr, mengatakan masyarakat menyerukan dua pesan utama, yakni “perlawanan terhadap musuh dan pembalasan atas darah pemimpin Iran yang gugur sebagai syahid.”
Upacara dipimpin Ayatollah Ja’far Sobhani, ulama senior berusia 97 tahun dari Qom. Selain Ali Khamenei, doa juga dipanjatkan bagi anggota keluarganya yang turut tewas, termasuk menantu perempuan Zahra Haddad Adel dan cucu perempuan berusia 14 bulan, Zahra Mohammadi Golpaygani. Peti jenazah sang balita menjadi salah satu pemandangan paling mengharukan dalam prosesi tersebut.
Di tengah prosesi, perhatian juga tertuju pada tidak munculnya pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Sejak ditunjuk menggantikan ayahnya sepuluh hari setelah kematian Ali Khamenei, Mojtaba belum pernah tampil di depan publik maupun menyampaikan pesan suara.
Ketidakhadirannya semakin mencolok ketika tiga saudaranya—Mustafa, Massoud, dan Meysam—terlihat berdiri di sisi peti jenazah sang ayah. Pemerintah Iran mengakui Mojtaba mengalami luka dalam serangan pada hari pertama perang, tetapi menegaskan tidak mengalami cacat permanen ataupun amputasi.
Hampir seluruh elite pemerintahan Iran menghadiri upacara tersebut, mulai dari unsur politik, militer, hingga lembaga peradilan. Komandan Pasukan al-Quds Esmail Qaani dan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ahmad Vahidi juga tampil di hadapan publik.
Kehadiran mereka dinilai menunjukkan keyakinan pemerintah Iran bahwa gencatan senjata dengan Amerika Serikat cukup menjamin keamanan acara tersebut. Di sisi lain, perlindungan ketat terhadap Mojtaba dinilai semakin penting setelah tokoh konservatif Amerika Laura Loomer menyebut pemakaman itu sebagai “target yang kaya sasaran” (target-rich environment), sementara komentator Mark Levin menyebutnya sebagai “kesempatan yang hilang.”
Di atas panggung tempat peti-peti jenazah disemayamkan, para pelayat menuliskan berbagai pesan belasungkawa dan kesetiaan kepada penerus kepemimpinan Iran. Salah satu tulisan berbahasa Inggris berbunyi, “Kill Trump.” Di luar kompleks masjid, massa yang menghadapi suhu di atas 36 derajat Celsius terus meneriakkan slogan, “Tidak ada kompromi, tidak ada penyerahan diri, hanya balas dendam.” Sebagian pria bahkan mengenakan kain kafan putih sebagai simbol kesiapan menjadi martir.
Besarnya antusiasme massa tersebut tercermin dari klaim tidak resmi pemerintah yang menyebut lebih dari dua juta orang menghadiri hari pertama rangkaian pemakaman, meski tidak ada angka resmi yang dipublikasikan. Selanjutnya, setelah prosesi akbar di Teheran pada Senin, jenazah Ali Khamenei dijadwalkan dibawa ke kota suci Qom, kemudian menuju dua kota suci di Irak, sebelum dimakamkan di Mashhad, kota kelahirannya.
Sepanjang rangkaian itu, ribuan peziarah dilaporkan bermalam di sekolah, kantor, hingga rumah warga, sementara masjid dan komunitas setempat membagikan makanan serta minuman secara cuma-cuma kepada para pelayat.
Meski Presiden Donald Trump sempat menyatakan keterkejutannya melihat banyak warga Iran menangis dan berspekulasi bahwa air mata itu “mungkin palsu,” kesaksian sejumlah pelayat menunjukkan duka yang mereka rasakan nyata.
Husain Dehghan, penerjemah buku berusia 70 tahun, mengatakan, “Masyarakat berada dalam keadaan sangat terpukul setelah pemimpin kami dibunuh. Barat mungkin menyebutnya diktator dan tidak semua warga Iran menyukainya, tetapi bagi mayoritas tetap ada rasa hormat dan kasih sayang.”
Senada dengan itu, Ibrahim Kalim mengaku hampir tewas akibat serangan bom Israel dan menegaskan bahwa banyak warga Iran menginginkan reformasi, tetapi perubahan tersebut harus ditentukan oleh rakyat Iran sendiri, bukan melalui intervensi asing. Di sisi lain, kehidupan di kawasan kelas menengah utara Teheran tetap berjalan relatif normal, memperlihatkan kontras sosial sekaligus kesenjangan ekonomi yang semakin nyata di tengah krisis nasional.