JawaPos.com - Ukraina kembali melancarkan serangan drone jarak jauh yang menyasar infrastruktur strategis Rusia. Dalam serangan semalam, terminal minyak di St Petersburg serta kawasan Pelabuhan Vysotsk di pesisir Laut Baltik menjadi sasaran, menandai berlanjutnya strategi Kyiv untuk menekan sektor energi yang dinilai menjadi salah satu sumber pendanaan operasi militer Moskow.
Serangan tersebut terjadi ketika perang Rusia-Ukraina terus memasuki fase eskalasi, dengan kedua belah pihak semakin sering menyerang target yang berada jauh dari garis depan. Infrastruktur energi Rusia menjadi salah satu sasaran utama Ukraina sepanjang tahun ini karena dianggap berkontribusi terhadap pembiayaan perang.
Dilansir dari The Guardian, Minggu (5/7/2026), Gubernur St Petersburg Alexander Beglov mengatakan kota itu menjadi sasaran "serangan drone berskala besar" yang menghantam terminal minyak. Meski demikian, ia memastikan tidak ada korban jiwa dan seluruh dampak serangan telah ditangani oleh otoritas setempat.
Baca Juga: Berbekal Pengalaman Tempur di Ukraina, Sky-Watch Perkenalkan Pesawat Udara Tanpa Awak RQ-70 Dainn
Pada saat yang sama, Gubernur Wilayah Leningrad Alexander Drozdenko melaporkan sebuah drone juga menghantam kawasan Pelabuhan Vysotsk, sekitar 170 kilometer di barat laut St Petersburg di pesisir Laut Baltik. Pelabuhan tersebut merupakan salah satu simpul logistik penting Rusia yang menangani pengiriman minyak, gandum, batu bara, serta gas alam cair (liquefied natural gas atau LNG).
Drozdenko mengatakan sistem pertahanan udara Rusia menembak jatuh 72 drone di wilayahnya, sementara sejumlah permukiman mengalami kerusakan ringan. Namun, ia tidak menjelaskan sejauh mana dampak serangan terhadap operasional pelabuhan tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melalui Telegram menyatakan serangan itu merupakan bagian dari strategi yang ia sebut sebagai "sanksi jarak jauh" terhadap Rusia. Ia mengatakan, "Pasukan pertahanan Ukraina menyerang infrastruktur minyak pelabuhan yang menghasilkan pendapatan bagi perang Rusia, serta menghantam Kronstadt, target militer penting yang berjarak lebih dari 850 kilometer dari perbatasan negara Ukraina."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Ukraina berupaya menargetkan fasilitas yang dinilai menopang kemampuan militer dan ekonomi Rusia. Selain infrastruktur minyak pelabuhan, Zelenskyy juga mengklaim pasukannya menyerang Kronstadt, pangkalan utama Angkatan Laut Rusia di dekat St Petersburg.
Namun, hingga berita ini ditulis, pemerintah Rusia belum mengonfirmasi adanya serangan terhadap pangkalan militer tersebut, yang juga pernah menjadi sasaran serangan drone Ukraina pada bulan lalu.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengecilkan dampak serangan terhadap fasilitas energi negaranya. Menurut Putin, serangan tersebut "tidak bersifat kritis." Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya intensitas serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan infrastruktur energi Rusia sepanjang tahun ini.
Serangan-serangan tersebut dilaporkan telah menyebabkan kerusakan besar pada sejumlah fasilitas serta memicu gangguan pasokan bahan bakar di berbagai wilayah Rusia.
Di luar kawasan St Petersburg, serangan drone juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain. Gubernur Bryansk dan pejabat Rusia yang ditunjuk Moskow di Krimea menyatakan masing-masing satu orang tewas akibat serangan drone, sementara beberapa orang lainnya mengalami luka-luka.
Di Wilayah Pskov, sebelah selatan St Petersburg, lebih dari 30 drone dilaporkan berhasil ditembak jatuh. Meski sebagian besar berhasil dicegat, kerusakan ringan tetap terjadi, termasuk di sebuah pabrik di Kota Velikiye Luki yang juga mengakibatkan sejumlah korban luka.
Di tengah eskalasi tersebut, Zelenskyy juga membantah klaim Rusia bahwa pasukannya telah merebut Kota Kostiantynivka di Wilayah Donetsk. Sebelumnya, militer Rusia melaporkan kepada Presiden Vladimir Putin bahwa kota tersebut telah berada di bawah kendali Moskow setelah menjadi salah satu target utama ofensif Rusia di Ukraina timur.
Menanggapi klaim tersebut, Zelenskyy menulis di platform X, "Tentu saja itu tidak benar. Itu hanyalah kebohongan Rusia lainnya, sebuah upaya untuk menciptakan pemberitaan." Ia menambahkan, "Jika Kostiantynivka benar-benar berada di bawah kendali Rusia, mungkin Putin tidak akan keberatan bertemu dengan saya di sana untuk mencari jalan diplomatik demi mengakhiri perang ini."
Pernyataan itu diperkuat oleh Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina yang menyatakan Kostiantynivka masih berada di bawah kendali pasukan Ukraina. Menurut mereka, satuan-satuan Korps Angkatan Darat ke-19 dari Kelompok Pasukan Timur terus melaksanakan operasi pertahanan di dalam kota maupun di jalur pendekatannya.
Kostiantynivka merupakan kota paling selatan dari empat permukiman utama yang membentuk garis pertahanan penting Ukraina di kawasan industri Donetsk.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia juga mengklaim telah merebut lima desa di Ukraina timur, yakni Shyikivka, Novyi Myr, Cherneshchyna, dan Druzhelyubivka di Wilayah Kharkiv, serta Vasylivka di Wilayah Donetsk. Namun, hingga laporan ini diterbitkan, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Baca Juga: Update Kondisi Christian Eriksen Usai Kolaps Lawan Ukraina, Ini Keterangan Dokter Tim Denmark