JawaPos.com - Iran bersiap menggelar prosesi pemakaman akbar Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang berlangsung selama beberapa hari mulai Sabtu.
Pemerintah memperkirakan jutaan warga akan memadati jalan-jalan Teheran dalam prosesi yang bukan hanya menjadi penghormatan terakhir bagi pemimpin berusia 86 tahun itu, tetapi juga menjadi ajang unjuk kekuatan politik dan militer Republik Islam di tengah ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat.
Menjelang prosesi pemakaman, berbagai spanduk dipasang di ibu kota Teheran yang menyerukan masyarakat untuk bersatu mendukung Republik Islam setelah perang yang menewaskan Khamenei.
Pemerintah berharap besarnya partisipasi publik dapat memperkuat posisi Iran di tengah negosiasi dengan Amerika Serikat mengenai penghentian perang secara permanen, sekaligus mengirim pesan bahwa negara tersebut tetap solid meski baru saja mengalami konflik bersenjata.
Melansir AP News, prosesi ini diperkirakan mengingatkan pada pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 yang dihadiri jutaan warga Iran.
Baca Juga: KPK Duga Bupati Langkat Syah Afandin Terima Fee Rp 900 Juta dari Pengadaan Proyek
Salah seorang sukarelawan, Mohammad Hossein Rezaei, mengatakan masyarakat Iran akan tetap mempertahankan prinsip yang selama ini dipegang oleh Republik Islam.
"Selama orang-orang yang dipilih oleh Tuhan ini masih berada di garis depan, kami pasti akan melanjutkan kebijakan 'tidak pada penghinaan' yang didirikan oleh Republik Islam," ujar Rezaei.
Ia menambahkan, Iran akan tetap mempertahankan kebijakan independensinya.
"Kami akan terus menjalankan kebijakan mengejar kemerdekaan, keputusan akan dibuat di dalam negeri, dan rakyat akan menentukan nasib mereka sendiri," katanya.
Peti Jenazah Dipajang di Grand Mosalla Teheran
Peti jenazah Ayatollah Ali Khamenei yang diselimuti bendera Iran disemayamkan di kompleks Grand Mosalla, Teheran. Di lokasi yang sama juga dipajang peti jenazah sejumlah anggota keluarga Khamenei yang turut tewas dalam serangan udara Israel pada awal perang yang pecah pada 28 Februari.
Korban yang dimakamkan bersama Khamenei meliputi menantu, putri sulung, cucu perempuan berusia 14 bulan, serta istri Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Mojtaba sendiri dilaporkan masih berada di lokasi rahasia setelah disebut mengalami luka akibat serangan tersebut.
Baca Juga: KPK Resmi Tetapkan Bupati Langkat Syah Afandin sebagai Tersangka Dugaan Penerimaan Suap Fee Proyek
Sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan Presiden Masoud Pezeshkian hadir memberikan penghormatan terakhir. Beberapa tokoh agama dan tamu dari luar negeri juga terlihat mendatangi peti jenazah.
Media pemerintah Iran turut menayangkan prosesi doa pada Kamis malam yang dihadiri keluarga korban perang. Dalam tradisi Syiah Iran, para pelayat melemparkan syal dan berbagai benda ke arah peti jenazah untuk disentuhkan sebagai bentuk mencari berkah.
Peti jenazah Khamenei kemudian diselimuti bendera merah bertuliskan 'Ya Hussein', simbol penting dalam tradisi Syiah yang mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Hussein. Bendera tersebut sebelumnya berkibar di makam Imam Hussein di Karbala, Irak, dan juga melambangkan darah yang tertumpah secara tidak adil sekaligus seruan untuk menuntut balas.
Jenderal Garda Revolusi Muncul Setelah Berbulan-bulan
Perhatian publik juga tertuju pada kemunculan Jenderal Ahmad Vahidi, tokoh senior Garda Revolusi Iran, yang tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.
Foto-foto yang dirilis media pemerintah memperlihatkan Vahidi menghadiri rapat persiapan pemakaman serta mengikuti upacara penghormatan di dekat kediaman lama Khamenei di pusat Teheran.
Dalam pernyataannya kepada televisi pemerintah, Vahidi menegaskan bahwa kematian Khamenei tidak akan melemahkan Iran.
"Mereka harus tahu bahwa darah suci imam kami yang gugur akan menjadi titik balik baru bagi kemenangan Islam tercinta di panggung dunia. Mereka akan membawa ke kubur keinginan untuk melihat bangsa ini menyerah. Bangsa ini akan bangkit semakin tinggi dari hari ke hari melalui darah suci ini," ujar Vahidi.
Para pengamat menilai Vahidi kini menjadi salah satu figur penting dalam merumuskan sikap keras Iran dalam pembicaraan mengenai kemungkinan penghentian perang secara permanen dengan Amerika Serikat.
Ia diketahui tidak tampil di depan publik sejak 8 Februari, beberapa pekan sebelum perang dimulai. Selama konflik berlangsung, Israel menewaskan sejumlah petinggi militer dan pemerintahan Iran serta beberapa kali mengancam keselamatan pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Namun demikian, hingga kini belum dipastikan apakah Ayatollah Mojtaba Khamenei akan hadir dalam pemakaman ayahnya. Saat Ayatollah Ruhollah Khomeini dimakamkan pada 1989, Ali Khamenei tampil di depan publik sambil menangis sebelum akhirnya memimpin Iran selama puluhan tahun.
Baca Juga: Cara IWIP Dukung Dekarbonisasi untuk Jadi Kawasan Industri Rendah Karbon
Di tengah prosesi berkabung, situasi keamanan masih menjadi perhatian. Ancaman Israel terhadap kepemimpinan Iran membuat Komando Gabungan Militer Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dan Amerika Serikat.
Militer Iran meminta kedua negara menghindari tindakan yang dapat memicu eskalasi baru selama berlangsungnya rangkaian pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
Prosesi pemakaman tersebut dipandang sebagai momen penting yang bukan hanya menandai berakhirnya era kepemimpinan Ali Khamenei, tetapi juga menjadi ujian pertama bagi kepemimpinan Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan Iran di tengah meningkatnya tekanan internasional.