← Beranda
Konflik Iran dan Amerika Serikat Berdampak Pada Komoditas Energi, Naik-Turun Harga LNG jadi Perhatian
AntaraRabu, 24 Juni 2026 | 19.43 WIB
ILUSTRASI Ekspor LNG. (ANTARA)

 

JawaPos.com – Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Dampaknya mulai terasa pada berbagai komoditas energi, termasuk gas alam cair (LNG) yang mengalami kenaikan harga di pasar internasional.

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan berharap perundingan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan demi terciptanya perdamaian dan stabilitas di Asia Barat, dikutip dari ANTARA.

"Malaysia berharap agar perundingan yang sedang berlangsung di Swiss dapat mencapai kesepakatan demi perdamaian dan stabilitas di Asia Barat. Hal ini penting karena Malaysia dan negara-negara lain bergantung pada kawasan tersebut untuk memperoleh pasokan bahan mentah, termasuk pupuk, minyak, dan LNG," jelas Hasan di parlemen Malaysia, Selasa.

Baca Juga: Badak LNG Cetak KPI 107 Persen, Produksi LNG dan LPG Lampaui RKAP 2025

Dia menekankan dunia masih bergantung pada pasokan minyak mentah, dan bagi Malaysia, sebagian besar minyak mentah untuk diproses diimpor dari kawasan Teluk.

Ketika krisis terjadi akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Iran juga melakukan serangan balasan.

Salah satu dampak buruk pada awal konflik menurutnya adalah penutupan jalur perdagangan pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran.

"Jalur tersebut merupakan rute strategis yang menangani seperlima pasokan minyak mentah global. Malaysia masih mengimpor pasokan dari kawasan tersebut, meskipun kita memiliki pasokan minyak dan diesel sendiri. Ketergantungan terhadap pasokan tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak dan diesel di seluruh dunia, termasuk di Malaysia," jelas dia.

Malaysia sendiri bersyukur karena Amerika dan Iran sepakat menandatangani sebuah memorandum kesepahaman yang memuat 14 syarat, yang sebelumnya tidak disetujui oleh Amerika Serikat maupun Iran.

Pada perkembangannya, Amerika Serikat dan Iran telah sepakat untuk terlebih dahulu menandatangani nota kesepahaman (MoU), di mana kedua pihak saat ini sedang berunding dan akan memfinalisasi perjanjian akhir dalam jangka waktu maksimal 60 hari.

Di antara isi kesepakatan tersebut adalah pembangunan kembali dan pengembangan ekonomi Iran senilai sedikitnya 300 miliar dolar AS, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penarikan penuh pasukan Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa penarikan penuh pasukan Amerika Serikat merupakan dasar untuk mencapai kesepakatan, karena Iran tidak lagi mempercayai gencatan senjata.

Baca Juga: Trump dan JD Vance Klaim Iran Siap Terima Inspeksi Nuklir, Teheran Langsung Membantah: “Tidak Ada Komitmen Baru”

Ikut Harga Pasar

Terpisah, praktisi migas Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan gejolak geopolitik seperti yang terjadi saat ini memang menjadi tantangan yang harus dihadapi seluruh pelaku industri energi, khususnya untuk komoditas non-subsidi yang sangat dipengaruhi mekanisme pasar global.

"Kalau mengikuti harga pasar, naik turun harga adalah hal yang biasa, dan itu yang dihadapi oleh seluruh pengguna LNG," ujar Widhyawan.

Menurut Widhyawan, kenaikan harga LNG spot tercermin dari lonjakan indeks Japan Korea Marker (JKM), yang menjadi acuan harga LNG di kawasan Asia Pasifik. Sepanjang 2026, indeks tersebut disebut telah meningkat sekitar 111 persen.

Kenaikan harga energi global juga berdampak pada Indonesian Crude Price (ICP) yang menjadi salah satu referensi kontrak energi di Indonesia. Pada April 2026, ICP tercatat naik hampir dua kali lipat dibandingkan asumsi awal tahun.

Widhyawan menilai, kenaikan harga LNG bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami banyak negara lain di kawasan Asia. Harga LNG industri di Filipina dan Vietnam saat ini berada di kisaran USD27-28 per MMBTU, sementara di Singapura bahkan telah melampaui USD40 per MMBTU untuk pengguna industri skala besar.

Sebagai perbandingan, harga LNG di Indonesia setelah penyesuaian masih berada di kisaran USD21-25 per MMBTU.

Baca Juga: Trump: Mencegah Iran Memperoleh Nuklir Lebih Penting dari Ancaman Depresi Global

Sementara itu, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai lonjakan harga energi global akibat faktor geopolitik menciptakan dilema bagi berbagai sektor usaha.

"Industri penyedia energi menghadapi lonjakan biaya operasional dan tekanan regulasi, sementara industri pengguna mengalami kenaikan biaya produksi yang terkadang tidak bisa diteruskan ke konsumen," kata David.

Menurutnya, kenaikan harga energi non-subsidi merupakan fenomena global yang sulit dihindari. Karena itu, solusi yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara keberlangsungan industri penyedia energi dan daya saing sektor pengguna energi.

EDITOR: Banu Adikara