JawaPos.com - Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran sesuai hukum internasional.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, setelah putaran pertama pembicaraan Iran dan Amerika Serikat di Burgenstock, Swiss, berakhir pada Senin (22/6).
Pernyataan tersebut menjadi salah satu sinyal paling kuat dari Teheran setelah kedua negara memulai proses diplomatik baru yang bertujuan mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Selain membahas keamanan Selat Hormuz, perundingan juga menyentuh isu Lebanon, keringanan sanksi minyak Iran, hingga pencairan dana Iran yang selama ini dibekukan.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan hukum internasional,” kata Ghalibaf seperti dikutip kantor berita negara IRNA.
Menurut Ghalibaf, pertemuan di Swiss menghasilkan sejumlah kemajuan penting yang dapat menjadi fondasi bagi kesepakatan yang lebih luas antara Washington dan Teheran.
“Menurut saya, perjalanan ini menghasilkan pencapaian yang baik, terutama terkait pembahasan mengenai Selat Hormuz, diskusi mengenai Lebanon, persoalan keringanan ekspor minyak, dan masalah pencairan dana yang dibekukan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses negosiasi masih berada pada tahap awal dan memerlukan pembahasan lanjutan dalam beberapa pekan ke depan.
“Tentu saja kami percaya bahwa kami masih berada di awal pekerjaan ini dan harus melanjutkan upaya-upaya kami,” tambahnya.
Pembicaraan di Burgenstock merupakan putaran pertama setelah kesepakatan virtual antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah yang diumumkan dalam KTT Danau Lucerne di Swiss. Pakistan dan Qatar yang bertindak sebagai mediator menggambarkan diskusi tersebut berlangsung positif dan konstruktif.
Dalam pernyataan bersama, kedua mediator mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati pembentukan jalur komunikasi khusus guna menjaga Selat Hormuz tetap terbuka serta mencegah insiden yang dapat memicu eskalasi baru di kawasan.
Mekanisme tersebut juga dirancang untuk menghindari kesalahpahaman antara kedua pihak. Selain itu, negosiator dari AS dan Iran juga menyetujui pembentukan sebuah 'de-confliction cell' yang melibatkan otoritas Lebanon.
Baca Juga: Sempat Diwarnai Aksi 'Walk Out', Iran, AS, Pakistan dan Qatar Siapkan Tahap Baru Perundingan
Tujuannya adalah mencegah kembalinya konflik bersenjata di negara tersebut setelah gencatan senjata dicapai.
Pakistan dan Qatar sendiri menyebut kedua pihak juga telah menyepakati sebuah peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari. Pembicaraan teknis dijadwalkan berlanjut sepanjang pekan ini di Burgenstock guna membahas rincian implementasi berbagai kesepakatan awal yang telah dicapai.