JawaPos.com - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan memasuki babak baru. Di tengah meningkatnya perbedaan pandangan antara Washington dan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sejumlah pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mulai menjalin komunikasi informal dengan tokoh-tokoh oposisi Israel.
Laporan Channel 12 akhir pekan lalu menyebutkan bahwa pemerintahan AS menilai kemungkinan perubahan pemerintahan di Israel semakin terbuka. Karena itu, Washington mulai melakukan pendekatan dengan Naftali Bennett, pemimpin partai Together, serta Gadi Eisenkot, pemimpin partai Yashar, yang dipandang sebagai figur penting dalam kubu oposisi.
Menurut laporan tersebut, langkah ini dilakukan karena AS mulai khawatir terhadap pengaruh kelompok garis keras di dalam kabinet Netanyahu.
“Pemerintahan AS telah menyatakan kekhawatiran terhadap kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan baru menjelang pemilu,” tulis Channel 12.
Upaya pendekatan itu juga disebut tidak terjadi secara sepihak. Dalam beberapa bulan terakhir, kubu oposisi Israel dilaporkan aktif membangun hubungan dengan pemerintahan Trump dan berhasil memperoleh 'keberhasilan terbatas dengan para pejabat yang kritis terhadap kebijakan Netanyahu'.
Channel 12 menilai langkah Washington merupakan upaya memanfaatkan peluang politik yang muncul akibat memburuknya hubungan kepercayaan dengan pemerintahan Israel saat ini. Meski demikian, Presiden Trump disebut belum secara resmi memberikan dukungan kepada tokoh politik Israel mana pun sebagai alternatif Netanyahu.
Laporan tersebut muncul ketika posisi politik Netanyahu menghadapi tekanan yang semakin besar di dalam negeri. Survei yang dipublikasikan harian Maariv pada Jumat menunjukkan bahwa blok oposisi berpotensi membentuk pemerintahan apabila pemilu digelar saat ini.
Dalam survei itu, kubu oposisi diproyeksikan meraih 61 kursi di parlemen Israel (Knesset), sementara blok pendukung Netanyahu hanya memperoleh 49 kursi. Partai-partai Arab diperkirakan mengamankan 10 kursi pada pemilu berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.
Dinamika politik ini terjadi bersamaan dengan perkembangan diplomatik di kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran baru-baru ini menggelar perundingan di Swiss dengan mediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik militer yang pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Teheran pada Februari lalu.
Kesepakatan sementara yang dihasilkan dari perundingan tersebut mencakup penghentian permusuhan di seluruh front konflik, termasuk Lebanon. Namun pemerintah Israel menolak mengaitkan isu Iran dengan situasi di Lebanon dan tetap mempertahankan sikap kerasnya di wilayah tersebut.
Netanyahu menegaskan Israel tidak akan menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki di Lebanon selatan. Sementara itu, berdasarkan data resmi Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan hampir 4.000 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya, menambah tekanan internasional terhadap kebijakan keamanan yang dijalankan pemerintah Netanyahu.