← Beranda
Tragis! Dua Siswa Bersenjata Serbu Kelas di Filipina, Tiga Pelajar Tewas Diduga karena Dendam Bullying
Rian Alfianto• Selasa, 23 Juni 2026 | 03.03 WIB
Penyelidik polisi berjalan di depan pintu masuk sekolah setelah penembakan di Kota Tacloban, provinsi Leyte. (AFP via Al-Jazeera).

JawaPos.com - Sebuah aksi penembakan mengguncang dunia pendidikan Filipina, menewaskan tiga siswa dan melukai sedikitnya tujuh orang lainnya di San Jose National High School, Kota Tacloban, Filipina Tengah. 

Polisi mengungkap dua pelaku yang masih berusia 14 dan 15 tahun diduga melakukan serangan karena menyimpan dendam terkait perundungan atau bullying yang mereka alami di sekolah.

Insiden berdarah itu terjadi ketika kedua remaja tersebut memasuki salah satu ruang kelas dan langsung melepaskan tembakan. Salah satu pelaku ditangkap tidak lama setelah kejadian, sementara pelaku lainnya menyerahkan diri kepada aparat.

Penyelidikan awal menunjukkan kedua pelaku menggunakan dua senjata api berbeda, yakni revolver kaliber .38 dan pistol 9 mm. Polisi mengungkap pistol tersebut merupakan milik seorang polisi wanita yang masih memiliki hubungan keluarga dengan salah satu tersangka. 

Pemilik senjata kini juga telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. 

Juru bicara Kepolisian Nasional Filipina, Kolonel Allen Rae Co, mengatakan motif utama yang mengarah pada kasus ini adalah dendam akibat bullying di lingkungan sekolah.

"Kedua tersangka langsung menuju ruang kelas. Tanpa mengatakan apa pun, mereka mulai menembak," kata Co kepada wartawan.

Ia menambahkan bahwa penyidik masih mendalami apakah korban yang berada di kelas tersebut memang menjadi target utama serangan atau tidak.

"Pada tahap awal penyelidikan, tampaknya motif kejahatan ini adalah dendam akibat perundungan di sekolah," ujarnya.

Tiga Tewas, Tujuh Orang Terluka

Sementara itu, melansir BBC, polisi menemukan sekitar 40 selongsong peluru di lokasi kejadian. Selain tiga korban meninggal dunia, tiga siswa lainnya mengalami luka tembak. 

Empat orang lainnya terluka saat berusaha menyelamatkan diri di tengah kepanikan yang terjadi setelah suara tembakan terdengar.

Tragedi ini menjadi salah satu kasus kekerasan sekolah paling mengejutkan di Filipina dalam beberapa tahun terakhir. Meski kasus kejahatan bersenjata masih terjadi di negara tersebut, penembakan massal di lingkungan sekolah tergolong sangat jarang.

Penyidik juga menemukan sejumlah unggahan video di media sosial yang memperlihatkan salah satu tersangka sedang menembakkan senjata api sebelum kejadian berlangsung.

Menurut Co, temuan tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda peringatan atau red flags yang sebenarnya dapat dideteksi lebih awal.

"Ini jelas merupakan tanda bahaya. Kami tidak menyalahkan siapa pun, tetapi jika ada yang mampu memantau tanda-tanda tersebut, kejadian ini mungkin bisa dicegah," katanya.

Kepolisian Kota Tacloban menyebut peristiwa ini sebagai kasus penembakan sekolah pertama yang terjadi dalam ingatan publik setempat dalam beberapa tahun terakhir.

Pejabat Kepolisian Kota Tacloban, Evalyn Diaz, mengimbau para orang tua yang memiliki senjata api untuk meningkatkan kewaspadaan dan memastikan senjata tidak mudah diakses anak-anak.

"Kami meminta para orang tua yang memiliki senjata api untuk lebih bertanggung jawab, menyembunyikannya dengan aman, memastikan senjata tersimpan dengan baik, dan berbicara dengan anak-anak mereka," ujar Diaz.

Presiden Filipina dan Kementerian Pendidikan Bereaksi

Juru bicara Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., Claire Castro, mengatakan kepala negara merasa sedih atas tragedi yang terjadi di Tacloban.

"Siapa pun, terutama orang tua para korban, tentu akan merasakan kesedihan dan ketakutan," kata Castro.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan Filipina menyampaikan keprihatinan mendalam dan menyerukan doa bagi para korban serta keluarga yang terdampak.

Dalam pernyataannya, kementerian juga mengumumkan evaluasi menyeluruh terhadap protokol keamanan sekolah, kebijakan anti-bullying, serta sistem pemantauan perilaku siswa. Langkah tersebut akan dilakukan bersama aparat kepolisian guna mencegah tragedi serupa terulang.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra