JawaPos.com – Iran menyatakan akan menutup Selat Hormuz sebagai bentuk protes terhadap serangan Israel di Lebanon yang terus berlanjut.
Dilansir dari laman The Guardian pada Minggu (21/6), Ancaman tersebut muncul setelah serangkaian serangan udara Israel meskipun telah terdapat kesepakatan gencatan senjata sementara.
Langkah Iran tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu proses diplomasi dengan Amerika Serikat yang sedang berlangsung.
Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan kapal-kapal agar tidak mendekati jalur strategis tersebut. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas cair global.
Iran menyebut tindakan tersebut sebagai respons atas apa yang mereka nilai sebagai pelanggaran Israel terhadap komitmen penghentian konflik di Lebanon.
Meski Iran mengeluarkan ancaman penutupan, belum ada kepastian apakah langkah tersebut benar-benar telah dilaksanakan.
Komando Pusat Amerika Serikat membantah bahwa Selat Hormuz telah ditutup dan menyatakan lalu lintas kapal masih berjalan normal. Pihak Amerika Serikat juga menegaskan akan terus memantau kondisi keamanan di kawasan tersebut.
Ancaman Iran tersebut muncul menjelang pembicaraan lanjutan dengan Amerika Serikat di Swiss mengenai kesepakatan sementara kedua negara. Negosiasi tersebut bertujuan memperluas perjanjian awal yang mencakup isu program nuklir Iran serta upaya penghentian konflik di Lebanon.
Namun, ketegangan antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran menjadi tantangan besar dalam proses diplomasi tersebut.
Konflik di Lebanon semakin memperumit situasi setelah serangan Israel menewaskan puluhan orang di wilayah selatan negara itu. Iran menilai penghentian konflik di Lebanon menjadi faktor penting bagi keberhasilan kesepakatan yang sedang dibahas bersama Amerika Serikat.
Sementara itu, komunitas internasional terus memperhatikan perkembangan situasi karena ketegangan di kawasan tersebut dapat berdampak terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan global.