← Beranda
Israel Setuju Gencatan Senjata dengan Hizbullah, Tapi Tetap Ancam Balasan Jika Diserang Lagi
Rian AlfiantoMinggu, 21 Juni 2026 | 00.36 WIB
Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL dan tentara Lebanon berjaga di sebuah pos pemeriksaan di Naqoura, dekat perbatasan Lebanon-Israel, di Lebanon selatan [Aziz Taher/Reuters].

 

JawaPos.com - Pemerintah Israel untuk pertama kalinya secara terbuka mengkonfirmasi kesediaannya menghentikan operasi ofensif terhadap Hizbullah di Lebanon sebagai bagian dari upaya menjaga kesepakatan yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun, Tel Aviv menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut tidak berarti Israel akan berhenti merespons jika merasa terancam.

Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, pada Jumat (19/6), di tengah meningkatnya tekanan diplomatik agar konflik di Lebanon tidak menggagalkan proses normalisasi hubungan antara Washington dan Teheran yang baru disepakati pekan ini.

"Israel berkomitmen pada gencatan senjata segera dan telah menghentikan seluruh operasi ofensif," kata Leiter melalui media sosial.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa sikap Israel bergantung pada langkah Hizbullah ke depan.

Baca Juga: Tim Hukum Sudewo Sebut Penggabungan Dakwaan DJKA dan Perangkat Desa Harus Diuji Terlebih Dahulu

"Jika Hizbullah menghormati perjanjian dan menghentikan permusuhannya, mereka akan mendapatkan ketenangan," ujar Leiter.

Di saat yang sama, Israel menyatakan pasukannya masih beroperasi di wilayah selatan Lebanon untuk menghancurkan infrastruktur militer Hizbullah.

Menurut Leiter, operasi tersebut bertujuan 'membersihkan wilayah dari Hizbullah dan membongkar infrastruktur teror mereka'.

"Kami akan tetap berada di sana sampai misi itu selesai," katanya.

Hingga berita ini ditulis, Hizbullah belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Israel maupun kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Kesepakatan AS-Iran Jadi Taruhan Besar

Gencatan senjata di Lebanon menjadi bagian penting dari kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran yang mengatur penghentian konflik di berbagai front kawasan Timur Tengah.

Iran sebelumnya telah berulang kali memperingatkan bahwa pertempuran antara Israel dan Hizbullah berpotensi menggagalkan implementasi kesepakatan tersebut.

Baca Juga: Tak Terima Putusan Pengadilan Tinggi Denpasar, Advokat Togar Situmorang Ajukan Kasasi 

Konflik yang terus berlangsung juga menyebabkan tertundanya tahapan lanjutan pembicaraan teknis antara pejabat AS dan Iran yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss.

Pemerintah Swiss juga mengumumkan bahwa pertemuan tersebut ditunda. Tiga diplomat yang mengetahui proses negosiasi menyebut Iran memutuskan menarik diri dari agenda pembicaraan setelah serangan Israel di Lebanon.

Namun belum jelas apakah yang dimaksud adalah serangan terbaru pada Jumat atau operasi militer yang terjadi beberapa hari sebelumnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan