← Beranda
Kesepakatan AS dengan Iran Ditentang Israel, Ben Gvir Sebut Tel Aviv Tetap Bebas Bertindak
Rian AlfiantoJumat, 19 Juni 2026 | 18.07 WIB
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir yang terlihat memasuki Masjid Al-Aqsa dengan pengawalan dari kelompok kanan Israel. (middleeasteye.net)

JawaPos.com - Kesepakatan yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Iran langsung memicu gelombang penolakan dari kalangan politik Israel.

Salah satu kritik paling keras datang dari Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang menegaskan bahwa perjanjian tersebut tidak mengikat negaranya. Pernyataan Ben-Gvir menunjukkan potensi munculnya perbedaan sikap antara Washington dan Tel Aviv terkait arah kebijakan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Meski AS mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Teheran, pemerintah Israel menegaskan tetap akan menentukan langkahnya sendiri berdasarkan kepentingan keamanan nasional.

Baca Juga: Kuliner Viral Bekasi, Hunting Ramen Halal Sampai Gurihnya Siomay Primaya yang Bikin Orang Rela Antri Panjang

"Israel tidak berada di bawah Amerika Serikat. Israel adalah negara yang merdeka dan berdaulat, dan setiap kesepakatan yang dicapai Trump tidak mengikat kami. Kami berkomitmen pertama dan terutama untuk melindungi warga negara dan tentara kami," kata Ben-Gvir seperti dikutip media berbahasa Ibrani.

Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Trump mengumumkan adanya kesepakatan dengan Iran pada Senin dini hari.

Pengumuman itu memicu reaksi beragam di Israel, terutama dari kelompok politik sayap kanan yang selama ini menilai pendekatan terhadap Iran harus tetap mengedepankan tekanan dan kekuatan militer.

Ben-Gvir bahkan menegaskan bahwa pemerintah Israel tidak terlibat dalam penyusunan kesepakatan tersebut. Menurutnya, perjanjian yang dicapai Washington tidak mempertimbangkan kepentingan keamanan Israel secara memadai.

Menteri dari kubu kanan jauh itu menilai Tel Aviv tidak memiliki kewajiban untuk mematuhi ketentuan apa pun yang terdapat dalam kesepakatan tersebut.

Selain menolak keterikatan terhadap perjanjian AS-Iran, Ben-Gvir juga menegaskan bahwa Israel tidak akan mengurangi target militernya di kawasan.

"Kami tidak dapat menerima apa pun selain pembubaran Hizbullah, dan kami juga tidak dapat menyerahkan wilayah mana pun yang telah kami kuasai," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Israel tidak ingin kembali pada situasi ketika ribuan kelompok bersenjata berada di dekat wilayah perbatasan utara yang berbatasan dengan Lebanon.

"Kami juga tidak dapat kembali ke situasi di mana ribuan militan bersenjata ditempatkan di sepanjang perbatasan permukiman utara," lanjut Ben-Gvir.

Menurutnya, Israel akan tetap merespons setiap ancaman keamanan yang dianggap membahayakan warganya, terlepas dari kesepakatan diplomatik yang dicapai pihak lain.

"Kami tentu tidak dapat tinggal diam terhadap setiap tembakan yang diarahkan ke Israel, dan kami akan terus mengambil semua langkah yang kami anggap perlu untuk menjamin keamanan warga negara kami," tegasnya.

Penolakan Ben-Gvir memperlihatkan bahwa meski AS dan Iran disebut telah mencapai titik temu tertentu, masih terdapat tantangan besar dalam implementasinya.

Meski demikian, sikap Israel yang bertentangan tersebut sebelumnya memang sudah banyak diprediksi akan terjadi. Zionis Israel dari awal memang tidak setuju adanya perdamaian dan sebisa mungkin menggagalkan upaya damai AS-Iran.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah