← Beranda
Dari Ambang Bangkrut ke Lonjakan 430 Persen: Taruhan EchoStar pada SpaceX Ubah Nasib Perusahaan Satelit AS
Mellyna Putri DiniarMinggu, 7 Juni 2026 | 00.39 WIB
Elon Musk, CEO SpaceX / Foto: Fortune

JawaPos.com — Salah satu kebangkitan korporasi paling mencolok di Amerika Serikat (AS) tahun ini datang dari EchoStar, perusahaan satelit yang hanya setahun sebelumnya berada di ambang kebangkrutan. 

Kini, perusahaan tersebut justru mencatatkan kinerja saham terbaik di antara anggota Fortune 500 setelah lonjakan sekitar 430 persen sejak awal 2025, termasuk hampir 375 persen sepanjang tahun berjalan, didorong oleh keterkaitan strategisnya dengan SpaceX milik Elon Musk.

Perubahan drastis itu berakar pada keputusan menjual aset spektrum nirkabel kepada SpaceX pada September 2025 senilai 17 miliar dolar AS atau sekitar Rp 306,34 triliun (kurs Rp 18.020 per dolar AS). Struktur transaksi tersebut terdiri atas 8,5 miliar dolar AS dalam bentuk tunai dan 8,5 miliar dolar AS dalam bentuk ekuitas SpaceX. 

Kemudian pada November 2025, SpaceX kembali menambah pembelian spektrum senilai 2,6 miliar dolar AS, sehingga total kepemilikan EchoStar di perusahaan tersebut meningkat menjadi sekitar 11,1 miliar dolar AS.

Baca Juga: Gagal Meluncur, Ledakan Blue Origin Justru Beri SpaceX Kunci Internet Masa Depan

Dilansir dari Fortune, Sabtu (6/6/2026), kepemilikan ekuitas tersebut mengubah posisi EchoStar secara fundamental, dari perusahaan yang sebelumnya kesulitan likuiditas menjadi salah satu proxy pasar publik paling dekat dengan SpaceX menjelang penawaran umum perdana (IPO) perusahaan antariksa itu dalam waktu dekat.

Namun pada pertengahan 2025, EchoStar berada dalam tekanan berat dan disebut mempertimbangkan perlindungan kebangkrutan Chapter 11, yakni mekanisme hukum di Amerika Serikat yang memungkinkan perusahaan tetap beroperasi sambil merestrukturisasi utang di bawah pengawasan pengadilan. 

Tekanan ini dipicu pengawasan Federal Communications Commission (FCC) terkait kewajiban jaringan 5G, krisis likuiditas, tunggakan bunga sekitar 500 juta dolar AS, serta kegagalan kesepakatan dengan DirecTV.

Perubahan arah mulai terlihat ketika tekanan regulasi dan politik mendorong penjualan aset spektrum. Pada Agustus 2025, AT&T mengakuisisi spektrum senilai 23 miliar dolar AS, disusul kesepakatan SpaceX yang memperkuat layanan Starlink dan ekspansi konektivitas. FCC kemudian menyetujui transaksi spektrum total sekitar 40 miliar dolar AS yang melibatkan AT&T dan SpaceX.

Di sisi operasional, EchoStar menjalin kemitraan jangka panjang antara Boost Mobile dan Starlink. Kerja sama ini memungkinkan pelanggan Boost Mobile mengakses layanan satelit direct-to-cell Starlink, sementara SpaceX memperoleh tambahan kapasitas jaringan untuk ekspansi global.

Di pasar modal, sentimen IPO SpaceX ikut mendorong valuasi EchoStar, yang kini dipandang sebagian investor sebagai proxy tidak langsung untuk eksposur ke SpaceX yang belum tercatat di bursa. Akibatnya, fokus pasar bergeser dari bisnis inti EchoStar ke nilai kepemilikan sahamnya di SpaceX.

Namun, euforia ini disertai risiko. Analis Morningstar Nicholas Owens menilai target valuasi SpaceX sebesar 1,75 triliun dolar AS terlalu agresif, dengan estimasi nilai wajar sekitar 780 miliar dolar AS, serta menyarankan investor menunggu stabilisasi pasar dan kejelasan profitabilitas.

Di sisi lain, fundamental EchoStar masih tertekan. Pendapatan 2025 tercatat sekitar 15 miliar dolar AS, turun 5,2 persen dibanding tahun sebelumnya akibat melemahnya bisnis televisi berbayar, layanan nirkabel ritel, serta broadband dan satelit.

Meski demikian, Presiden sekaligus pendiri EchoStar, Charlie Ergen, tetap menunjukkan keyakinan terhadap arah transformasi perusahaan. Dia menyatakan:

“Ketika Anda bisa menghubungkan setiap jengkal permukaan planet ini, itu adalah bisnis yang sangat besar. Mereka adalah perusahaan terbaik yang pernah saya ajak bekerja sama selama 45 tahun. Mereka responsif, kreatif, dan bergerak dengan kecepatan yang tidak dimiliki sebagian besar perusahaan lain. Saya rasa hampir tidak ada valuasi yang bisa disebut terlalu tinggi untuk potensi seperti itu.”

Bagi Wall Street, transformasi EchoStar kini menjadi contoh bagaimana aset spektrum nirkabel dapat berubah menjadi instrumen strategis yang tidak hanya menyelamatkan perusahaan dari krisis, tetapi juga menempatkannya dalam pusaran besar ekonomi antariksa global yang dipimpin Elon Musk dan SpaceX.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho