← Beranda
Paus Leo XIV Kecam Penggunaan AI di Medan Perang Lewat Ensiklik Magnifica Humanitas, Soroti Hegemoni Negara Penguasa AI
Mellyna Putri DiniarSelasa, 26 Mei 2026 | 21.04 WIB
Paus Leo XIV mempresentasikan ensiklik di Vatikan yang menyoroti tantangan etika kecerdasan buatan (Vatican News)

JawaPos.com - Paus Leo XIV melontarkan kritik keras terhadap penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam peperangan modern melalui ensiklik sosial pertamanya bertajuk Magnifica Humanitas

Dalam dokumen tersebut, Vatikan memperingatkan bahaya AI yang semakin digunakan untuk kepentingan militer, pengawasan, hingga sistem senjata otonom, di tengah meningkatnya dominasi negara dan perusahaan teknologi besar Amerika Serikat (AS) dalam perlombaan AI global.

Pernyataan itu disampaikan Paus Leo XIV saat presentasi ensiklik di Aula Sinode Vatikan, Senin (25/5/2026). Ia menyebut dunia sedang menghadapi titik balik sejarah yang sebanding dengan Revolusi Industri pada akhir abad ke-19, ketika Gereja Katolik merespons perubahan sosial melalui ensiklik Rerum Novarum yang diterbitkan Paus Leo XIII pada 1891.

Baca Juga: Paus Leo XIV Minta Maaf atas Peran Vatikan dalam Legitimasi Perbudakan, Sebut sebagai 'Luka dalam Ingatan Kristen'

Dilansir dari Vatican News, Selasa (26/5/2026), Paus Leo XIV menegaskan, "Kecerdasan buatan sudah menyentuh banyak bidang kehidupan kita dan memengaruhi keputusan yang membentuk kehidupan bersama umat manusia." Ia juga memperingatkan bahwa teknologi tersebut "secara dramatis mengubah cara perang dilakukan."

Momen "Rerum Novarum" Baru di Era AI

Dalam pidatonya, Paus secara langsung membandingkan kondisi saat ini dengan situasi yang dihadapi Paus Leo XIII lebih dari seabad lalu. Menurutnya, Gereja kembali dipanggil untuk membaca "hal-hal baru" di zaman modern melalui terang Injil dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Paus menjelaskan bahwa Magnifica Humanitas lahir dari proses panjang mendengarkan pandangan ilmuwan, insinyur, pendidik, pemimpin politik, hingga keluarga yang khawatir terhadap masa depan generasi muda. 

Namun di sisi lain, ia mengaku juga menerima banyak laporan yang mengkhawatirkan mengenai sistem senjata otonom serta algoritma yang dapat menolak akses layanan kesehatan, pekerjaan, atau keamanan akibat data yang bias dan tidak adil.

Dari proses tersebut, kata Paus, muncul keyakinan bahwa AI harus "dilucuti." Ia mengakui istilah tersebut terdengar keras, tetapi menurutnya kondisi dunia saat ini membutuhkan bahasa yang mampu "membangunkan hati nurani dan menunjukkan arah bagi masa depan umat manusia."

Teknologi Harus Diiringi Tanggung Jawab Moral

Lebih lanjut, Paus Leo XIV mengaitkan isu AI dengan posisi lama Gereja Katolik terkait pelucutan senjata nuklir. Menurutnya, setiap kekuatan teknologi besar selalu harus dibarengi tanggung jawab moral dan akuntabilitas publik.

"Dalam pengertian yang sama, kecerdasan buatan sekarang perlu 'dilucuti', dibebaskan dari logika yang mengubahnya menjadi alat dominasi, eksklusi, atau kematian," ujar Paus.

Ia kemudian mengutip surat Santo Paulus yang menyerukan umat untuk "tetap berjaga-jaga." Paus memperingatkan bahwa perdamaian global dapat terancam ketika teknologi justru melemahkan kemampuan manusia untuk berpikir kritis dan menjaga kewaspadaan moral.

Meski demikian, Paus menegaskan bahwa tantangan dunia saat ini bukan sekadar membatasi teknologi berbahaya, melainkan juga membangun masa depan yang lebih adil secara bersama-sama.

"Tak Ada yang Membangun Kembali Sendirian"

Dalam bagian lain pidatonya, Paus Leo XIV mengenang pengalamannya sebagai misionaris di Peru ketika banjir besar dan hujan deras melanda negara itu pada 2017. Pengalaman tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa proses membangun kembali masyarakat bukan hanya soal memperbaiki bangunan fisik.

"Itu berarti memperbaiki ikatan sosial, memulihkan kepercayaan, dan membangkitkan kembali harapan terhadap masa depan. Tak ada seorang pun yang membangun kembali sendirian," kata Paus. 

Ia kemudian mengangkat kisah Nehemia yang membangun kembali tembok Yerusalem sebagai gambaran moral bagi pembangunan era digital modern. Menurutnya, AI dapat menjadi "lokasi pembangunan sejarah" apabila kemajuan teknologi diarahkan untuk melayani kehidupan manusia dan memperkuat solidaritas.

Manusia Tidak Boleh Direduksi Menjadi Data

Paus Leo XIV juga menekankan bahwa transformasi digital tidak boleh membuat manusia dipandang hanya sebagai angka produktivitas atau sekadar data statistik. 

Mengutip ajaran Paus Paulus VI mengenai pembangunan manusia seutuhnya, ia menegaskan bahwa tidak seorang pun boleh tersingkir dari perubahan teknologi global.

"Manusia memiliki kebebasan, batin, dan panggilan untuk mencintai serta menyembah yang tidak dapat digantikan ataupun diblokir oleh mesin," ujarnya.

Karena itu, Paus menyerukan kerja sama internasional antara negara, institusi, pengembang teknologi, dan masyarakat yang terdampak langsung oleh sistem AI agar manfaat teknologi dapat dirasakan seluruh umat manusia, bukan hanya kelompok tertentu yang memiliki kekuasaan dan modal besar.

Seruan Membangun "Peradaban Kasih"

Menutup presentasi ensiklik tersebut, Paus Leo XIV menegaskan Gereja Katolik ingin ikut berkontribusi dalam perdebatan global mengenai AI, bukan sebagai ahli teknis, melainkan sebagai penjaga nilai kemanusiaan, hati nurani, dan martabat manusia.

Ia juga mengajak umat beriman maupun masyarakat nonreligius menjadi "perajin harapan" untuk bersama-sama membangun tatanan dunia yang lebih manusiawi di tengah percepatan teknologi yang kian menentukan arah kehidupan global.

Ensiklik itu kemudian dipercayakan kepada Bunda Maria melalui doa Magnificat, yang menurut Paus "menyanyikan kebesaran Tuhan yang mengangkat kaum kecil dan rendah hati," menegaskan dimensi spiritual yang melandasi pesan etis dalam dokumen tersebut.

Melalui Magnifica Humanitas, Vatikan menempatkan kecerdasan buatan tidak lagi sekadar sebagai inovasi teknologi, melainkan sebagai tantangan moral, kemanusiaan, dan geopolitik yang berpotensi memengaruhi arah perang, distribusi kekuasaan global, serta masa depan peradaban dunia.

Baca Juga: Paus Leo XIV Rilis Ensiklik AI, Gandeng Co-Founder Anthropic di Isu Martabat Manusia

EDITOR: Candra Mega Sari