JawaPos.com - Ketegangan Washington-Teheran kembali meningkat setelah laporan media AS menyebut opsi serangan militer sedang dibahas di Gedung Putih. Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan serangan militer baru terhadap Iran di tengah mandeknya proses negosiasi kedua negara.
Laporan itu muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan membatalkan agenda akhir pekannya demi tetap berada di Gedung Putih.
Media AS CBS dan Axios pada Jumat (22/5) waktu setempat melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang mengevaluasi opsi serangan baru terhadap Iran. Meski demikian, keputusan final disebut belum diambil.
Situasi ini langsung memicu spekulasi bahwa ketegangan Washington dan Teheran memasuki fase yang lebih serius, terutama setelah Trump mendadak mengubah jadwal pribadinya.
Trump sebelumnya dijadwalkan menghadiri pernikahan putranya pada akhir pekan ini. Namun ia memilih tetap berada di Washington DC karena alasan pemerintahan dan situasi nasional.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Jelaskan Titik Rawan Begal di Bekasi, Tangerang, Jakbar, dan Jakpus
“Sangat penting bagi saya untuk tetap berada di Washington, D.C., di Gedung Putih selama periode waktu penting ini,” kata Trump.
Gedung Putih sebelumnya memang mengumumkan perubahan agenda Trump. Presiden AS itu batal menuju resor golf miliknya di New Jersey dan memilih menetap di ibu kota AS.
Saat kembali dari kunjungan ke New York, Trump juga tidak menjawab pertanyaan wartawan yang biasanya menyertainya dalam perjalanan resmi.
Laporan Axios menyebut Trump mulai frustrasi terhadap jalannya negosiasi dengan Iran dalam beberapa hari terakhir. Mengutip dua sumber anonim, media itu menyatakan posisi Trump berubah dari sebelumnya lebih mendukung jalur diplomasi menjadi mulai condong pada opsi serangan militer.
Sementara itu, CBS melaporkan sejumlah anggota militer dan intelijen AS bahkan membatalkan agenda libur panjang mereka karena kemungkinan adanya operasi militer dalam waktu dekat.
Di sisi lain, jalur diplomasi disebut masih berlangsung. Pakistan yang berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran dikabarkan mengirim kepala militernya ke Iran untuk mencoba mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Perundingan Damai dengan Iran Berlanjut, Donald Trump Tak Akan Hadiri Pernikahan Putranya
Gedung Putih sendiri belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut ketika dimintai tanggapan oleh AFP.
Namun juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan kepada CBS bahwa “Presiden sudah sangat jelas mengenai konsekuensi jika Iran gagal mencapai kesepakatan.”
Pernyataan itu mempertegas bahwa tekanan terhadap Iran masih menjadi fokus utama kebijakan luar negeri Trump di tengah meningkatnya tensi kawasan Timur Tengah.